Saham

Kinerja Emiten Tambang Logam Diproyeksi Tumbuh di Kuartal III-2026

Laba bersih emiten tambang logam diperkirakan naik 5,9% pada kuartal III-2026 ditopang AMMN dan INCO, simak daftar rekomendasi sahamnya.

Kinerja Emiten Tambang Logam Diproyeksi Tumbuh di Kuartal III-2026
Ilustrasi Aktifitas di Area Penambangan (Sumber: Majalah Tambang)

Sektor pertambangan logam yang mencakup komoditas emas, nikel, tembaga, dan timah diproyeksikan mencatatkan pertumbuhan laba bersih sebesar 5,9% secara kuartalan menjadi US$ 896 juta pada kuartal III-2026. Kinerja positif tersebut terutama ditopang oleh kenaikan volume produksi serta penjualan dari PT Amman Mineral Internasional Tbk (AMMN) dan PT Vale Indonesia Tbk (INCO).

Analis BRI Danareksa Sekuritas, Andhika Audrey dan Taufan Fadhillah, memperkirakan total pendapatan emiten sektor pertambangan logam menyentuh US$ 4,9 miliar. Angka ini merepresentasikan kenaikan 3,8% secara kuartalan dan melonjak 91,3% secara tahunan.

Meskipun demikian, pertumbuhan pendapatan tersebut diiringi oleh tekanan pada margin keuntungan. Margin laba kotor diprediksi turun dari 30,4% menjadi 29,8%, sementara margin laba usaha melemah dari 27,1% menjadi 24,8%.

Kondisi tersebut menyebabkan laba usaha sektor pertambangan logam diperkirakan mengalami koreksi 4,8% dibandingkan periode sebelumnya. PT Antam Tbk (ANTM) disebut sebagai penekan utama dengan proyeksi penurunan laba bersih mencapai 18,6% secara kuartalan.

Di sisi lain, pergerakan laba PT Trimegah Bangun Persada Tbk (NCKL) dan PT Merdeka Battery Materials Tbk (MBMA) dinilai lebih bergantung pada kontribusi pendapatan serta beban non-operasional.

“Secara kumulatif, laba bersih sektor tersebut sepanjang sembilan bulan pada 2026 diperkirakan mencapai 82% dari proyeksi tahunan BRI Danareksa dan 83% dari konsensus analis,” tulis Andhika dan Taufan dalam riset mereka, dikutip Minggu (18/10/2026).

BRI Danareksa Sekuritas juga menyoroti adanya pergerakan tren harga komoditas yang beragam. Harga tembaga bertahan di kisaran US$ 14.550 per ton dan timah masih berada di atas US$ 50.000 per ton, sementara emas tercatat melemah sekitar 26% dari titik tertingginya pada Januari 2026.

Selain itu, harga nikel terpantau menyentuh level terendah sepanjang tahun berjalan dengan total persediaan di London Metal Exchange (LME) mencapai kisaran 480.000 ton.

“Tekanan biaya turut membayangi profitabilitas, terutama dengan harga minyak Brent di atas US$ 100 per barel dan rata-rata harga belerang sekitar US$ 1.200 per ton,” jelas Andhika.

Rekomendasi Saham dan Target Harga Emiten Tambang

BRI Danareksa Sekuritas menurunkan pandangan terhadap sektor pertambangan logam dari overweight menjadi netral untuk strategi perdagangan tiga bulan ke depan. Fokus pemilihan saham kini beralih pada kepastian pencapaian target laba tahunan alih-alih mengejar momentum pertumbuhan jangka pendek.

AMMN dipilih sebagai opsi utama karena ditopang oleh pertumbuhan laba berbasis volume, di mana realisasi laba sembilan bulan diperkirakan telah mencapai 99% dari konsensus tahunan. Posisi berikutnya ditemani TINS berkat proyeksi margin laba kotor 38% serta penguasaan pangsa ekspor timah nasional sebesar 56% selama delapan bulan pada 2026.

Berdasarkan kepastian pencapaian laba tahunan, urutan saham pilihan dimulai dari AMMN, TINS, INCO, ANTM, BRMS, NCKL, hingga MBMA. Sementara itu, pemeringkatan berdasarkan momentum laba kuartal III menempatkan BRMS, INCO, AMMN, MBMA, NCKL, TINS, dan ANTM.

PT Bumi Resources Minerals Tbk (BRMS) diprediksi kembali membukukan laba, meski pencapaian sembilan bulannya baru menyentuh 47% dari target tahunan, sehingga lebih sesuai untuk strategi perdagangan taktis. Di sisi lain, potensi risiko laba NCKL dan MBMA yang berada di bawah konsensus tetap perlu diwaspadai.

EmitenRekomendasiTarget Harga
Amman Mineral Internasional (AMMN)BuyRp 6.000
Timah (TINS)BuyRp 4.800
Vale Indonesia (INCO)BuyRp 7.300
Antam (ANTM)BuyRp 4.400
Bumi Resources Minerals (BRMS)BuyRp 700
Trimegah Bangun Persada (NCKL)BuyRp 1.300
Merdeka Battery Materials (MBMA)BuyRp 710