— Manchester United meraih kemenangan meyakinkan 5-2 atas Ipswich Town pada pekan kedua Premier League 2026/2027, berkat penampilan impresif Kobbie Mainoo yang kembali dipercaya sebagai starter di lini tengah. Gelandang berusia 21 tahun itu berduet dengan Youri Tielemans dan menjadi elemen penting dalam kebangkitan tim di Old Trafford.

Sejak Michael Carrick mengambil alih kepelatihan, Mainoo telah menjadi pilihan utama dalam 17 dari 19 pertandingan Premier League. Dua laga yang tidak dihadiri Mainoo dalam susunan pemain inti tercatat sebagai kekalahan, masing-masing melawan Leeds United dan Hull City.

Musim terobosan Mainoo terjadi pada 2023-2024 ketika ia mencetak gol kemenangan krusial bagi Manchester United di final Piala FA. Performanya berlanjut hingga dipercaya membela tim nasional Inggris di final Euro 2024.

Di bawah arahan Carrick, yang menerapkan formasi empat bek, Mainoo langsung mendapatkan tempatnya di tim. Ia menunjukkan kualitasnya saat Manchester United meraih kemenangan 2-0 atas Manchester City. Dalam laga terbaru melawan Ipswich, kontribusinya bersama Tielemans menuai pujian dari Carrick.

“Saya paham Bruno akan mendapat banyak pujian hari ini, dan itu memang layak ia dapatkan, tetapi menurut saya Kobbie tampil luar biasa di lini tengah bagi kami dan menjadi fondasi bagi performa tim,” ujar Carrick.

Statistik Mencolok Manchester United Tanpa Mainoo

Perbedaan performa Manchester United saat Mainoo menjadi starter terlihat jelas dari statistik Premier League. Dalam 17 pertandingan di mana ia tampil sejak awal, tim meraih 13 kemenangan, tiga hasil imbang, dan hanya satu kekalahan.

Produktivitas gol tim mencapai 37 gol dengan rata-rata 2,17 gol per pertandingan, sementara hanya kebobolan 18 gol atau 1,05 gol per laga. Rata-rata poin yang diraih per pertandingan mencapai 2,47, dengan persentase kemenangan 76,4 persen.

Sebaliknya, ketika Mainoo tidak masuk dalam sebelas pemain pertama dalam 23 pertandingan, Manchester United hanya mampu meraih delapan kemenangan, delapan hasil imbang, dan tujuh kekalahan. Jumlah gol yang dicetak tetap sama, yaitu 37, namun angka kebobolan melonjak menjadi 36 gol. Rata-rata poin per pertandingan turun drastis menjadi 1,39, dengan persentase kemenangan hanya 34,7 persen.