TOPIK.ID — Perusahaan asal Korea Selatan, KT&G Corporation, menanamkan modal sebesar US$460 juta atau sekitar Rp7,4 triliun untuk mendirikan dua pabrik baru di Pasuruan, Jawa Timur. Langkah ekspansi strategis ini sekaligus menjadikan Indonesia sebagai basis produksi luar negeri terbesar perusahaan guna memperkuat jaringan manufaktur serta ekspor global.
Peresmian fasilitas anyar yang mulai beroperasi secara komersial pada semester pertama 2026 tersebut dilangsungkan di kawasan industri Pasuruan Industrial Estate Rembang (PIER) pada 6 Oktober 2026. Acara ini dihadiri oleh CEO KT&G Bang Kyung-man, Duta Besar Republik Korea untuk Indonesia Yoon Soon-gu, Sekretaris Daerah Provinsi Jawa Timur Adhy Karyono, serta Wakil Bupati Pasuruan H.M. Shobih Asrori.
CEO KT&G Bang Kyung-man menyampaikan bahwa pengoperasian pabrik ini merupakan wujud nyata komitmen investasi yang pernah dijanjikan kepada Pemerintah Indonesia pada September 2023.
“Tiga tahun yang lalu, kami berjanji kepada Pemerintah Indonesia untuk membangun masa depan baru di Pasuruan. Janji tersebut kini telah diwujudkan melalui pembangunan fasilitas produksi dengan kapasitas sebesar 35 miliar batang per tahun, yang menjadi basis produksi luar negeri terbesar KT&G,” ujarnya dalam acara peresmian tersebut.
Bang menambahkan, Indonesia memegang peranan krusial dalam peta jaringan produksi global KT&G yang tersebar di Korea Selatan, Indonesia, Rusia, Kazakhstan, dan Turki. Nantinya, pabrik di Pasuruan diarahkan menjadi sentra produksi dan ekspor untuk melayani pasar di lebih dari 90 negara yang mencakup kawasan Asia serta Afrika.
Penguatan Kapasitas Manufaktur
Kepala Pabrik KT&G Indonesia Kim Young-joo menerangkan bahwa kedua fasilitas mutakhir ini berdiri di atas lahan seluas 190.000 meter persegi. Proses pembangunannya dimulai pada April 2024 dan rampung pada November 2025.
Pabrik kedua difungsikan dengan sembilan lini produksi rokok konvensional berkapasitas 21 miliar batang per tahun. Di sisi lain, pabrik ketiga dikhususkan untuk memproduksi kapsul aroma guna memenuhi kebutuhan manufaktur berkapasitas hingga 980 ton per tahun. Dengan tambahan ini, total kapasitas produksi rokok KT&G di Indonesia melonjak dari 14 miliar menjadi 35 miliar batang per tahun.
Kim menegaskan bahwa seluruh kegiatan operasional perusahaan tetap memprioritaskan aspek keselamatan kerja serta pengendalian mutu yang mengacu pada standar global KT&G.
Sementara itu, Sekretaris Daerah Provinsi Jawa Timur Adhy Karyono menekankan pentingnya sektor manufaktur dalam memberikan multiplier effect bagi perekonomian lokal. Mengingat sektor industri pengolahan menyumbang sekitar 30% terhadap perekonomian Jawa Timur, investasi ini diharap mampu mendorong penyerapan tenaga kerja, alih keterampilan, serta pelibatan pelaku UMKM.
Senada dengan hal tersebut, Wakil Bupati Pasuruan H.M. Shobih Asrori berharap kehadiran fasilitas baru ini dapat mendongkrak kesejahteraan masyarakat setempat. Pemkab Pasuruan juga menyatakan masih memiliki potensi lahan pengembangan kawasan industri di wilayah timur yang terbuka bagi investor asing.
Kerja Sama Strategis Indonesia-Korea Selatan
Duta Besar Republik Korea untuk Indonesia Yoon Soon-gu menilai penanaman modal ini merefleksikan eratnya hubungan bilateral serta kerja sama manufaktur di antara kedua negara.
“Peresmian hari ini bukan sekadar perluasan fasilitas produksi, tetapi juga merupakan tonggak penting dalam kerja sama ekonomi yang mendorong pertumbuhan bersama Korea dan Indonesia,” ucapnya.
Kendati demikian, Yoon turut memberikan catatan agar perusahaan senantiasa mengutamakan tanggung jawab sosial serta kepatuhan regulasi yang ketat terhadap isu kesehatan publik.
“Mengingat industri rokok berkaitan erat dengan kesehatan masyarakat, pengelolaan usaha yang bertanggung jawab serta kepatuhan terhadap peraturan dan kebijakan terkait sangatlah penting,” tegasnya.
Sebagai catatan, KT&G telah menjejakkan bisnisnya di Indonesia sejak 2011 melalui aksi korporasi mengakuisisi PT Tri Sakti Purwosari Makmur (TSPM).


