— PT Bank Central Asia Tbk. (BBCA) melaporkan laba bersih sebesar Rp35,25 triliun hingga Juli 2026. Angka ini menunjukkan pertumbuhan sebesar 1,57% dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya yang tercatat Rp34,70 triliun.

Pencapaian laba bersih tersebut terutama didorong oleh peningkatan pendapatan bunga yang naik 1,48% secara tahunan menjadi Rp54,59 triliun pada Juli 2026, dari Rp53,79 triliun pada Juli 2025. Meskipun beban bunga BCA membengkak 8,85% menjadi Rp7,88 triliun, pendapatan bunga bersih perseroan tetap tumbuh tipis 0,33% menjadi Rp46,70 triliun.

Selain pendapatan bunga, laba bersih BCA juga ditopang oleh kinerja positif dari pendapatan komisi dan pendapatan lainnya. Pendapatan komisi tercatat tumbuh 8,37% secara tahunan menjadi Rp11,89 triliun, sementara pendapatan lainnya melonjak signifikan 40,67% mencapai Rp757,77 miliar.

Manajemen BCA juga berhasil menekan beban operasional lainnya, yang mengalami penyusutan 11,29% menjadi Rp3,47 triliun dibandingkan tahun sebelumnya yang mencapai Rp3,92 triliun. Laba operasional perseroan pun mencatatkan pertumbuhan 1,40% menjadi Rp43,22 triliun.

Di sisi lain, perseroan membukukan rugi nonoperasional sebesar Rp257,77 miliar, sedikit meningkat dibandingkan rugi Rp141,51 miliar pada Juli 2025.

Dalam fungsi intermediasi, total penyaluran kredit BCA mencapai Rp1.000,88 triliun per Juli 2026, menandai pertumbuhan 8,38% dibandingkan tahun sebelumnya yang sebesar Rp923,51 triliun. Pertumbuhan kredit ini sejalan dengan peningkatan total aset perseroan yang mencapai Rp1.575,89 triliun, naik 7,44% dari Rp1.466,75 triliun.

Peningkatan DPK BCA menjadi Rp1.257,72 triliun, naik 8,23% secara tahunan, menjadi penopang utama pertumbuhan kredit. Peningkatan DPK ini didorong oleh dana murah (CASA) yang tumbuh 10,86% mencapai Rp1.074,47 triliun, dari sebelumnya Rp969,18 triliun pada Juli 2025.