Topik.id — Saham PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) mengalami koreksi tipis 0,78% ke level Rp 6.400 pada perdagangan Senin, 24 Agustus 2026, setelah sebelumnya sempat menguat pada tanggal 20 dan 21 Agustus. Perdagangan saham perbankan ini melibatkan 81,3 juta lembar saham dengan frekuensi 18.839 kali transaksi, menghasilkan nilai total Rp 519,64 miliar.
Meskipun ada sedikit pelemahan, investor asing mencatatkan pembelian bersih atau “net buy” senilai Rp 17,25 miliar pada hari yang sama. Tren “net buy” investor asing untuk saham BBCA telah berlangsung konsisten sejak 12 Agustus hingga 24 Agustus 2026. Bahkan, dalam dua bulan terakhir, saham BBCA secara rutin mencetak “net buy” asing, dengan total Rp 1,37 triliun pada Juli 2026 dan Rp 788,27 miliar hingga 24 Agustus 2026.
Secara kumulatif, periode 1 Juli hingga 24 Agustus 2026 mencatat “net buy” asing sebesar Rp 2,15 triliun. Angka ini berbanding terbalik dengan periode Januari-Juni 2026, di mana saham BBCA justru lebih banyak mencatatkan “net sell” dari investor asing.
Pembagian Dividen Interim BBCA
PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) telah mengumumkan rencana pembagian dividen interim kedua untuk tahun buku 2026 dengan total nilai Rp 3,07 triliun, atau setara dengan Rp 25 per saham. Keputusan ini telah disetujui oleh direksi dan dewan komisaris pada 19 Agustus 2026.
Jadwal “cum date” dividen interim di pasar reguler dan negosiasi ditetapkan pada 28 Agustus 2026. Daftar pemegang saham yang berhak akan ditentukan pada 1 September 2026 pukul 16.00 WIB, dengan pembayaran dividen dijadwalkan pada 16 September 2026.
Beberapa pemegang saham utama yang akan menerima dividen interim ini antara lain PT Dwimuria Investama Andalan, PT Caturguwiratna Sumapala, dan PT Tricipta Mandhala Gumilang, yang terafiliasi dengan Grup Djarum. Dwimuria Investama Andalan, sebagai pemegang saham terbesar dengan 54,94% kepemilikan, berpotensi menerima dividen sekitar Rp 1,69 triliun. Sementara itu, Caturguwiratna Sumapala dan Tricipta Mandhala Gumilang masing-masing diperkirakan akan menerima sekitar Rp 31,54 miliar dan Rp 32,83 miliar.
Konglomerat Anthoni Salim, yang memiliki 1,15% saham BBCA, juga akan menerima sekitar Rp 35,4 miliar dari pembagian dividen ini.
Kinerja Keuangan dan Prospek Saham BBCA
Presiden Direktur BCA, Hendra Lembong, menyatakan bahwa pembagian dividen interim ini mencerminkan permodalan yang solid, likuiditas yang memadai, serta pengembangan bisnis dan kualitas aset yang terjaga. Ia menambahkan bahwa besaran dividen selanjutnya akan disesuaikan dengan kondisi keuangan perseroan. Hendra juga menyampaikan rasa syukur atas komitmen BCA untuk membagikan dividen interim lebih dari satu kali pada tahun buku 2026, yang dianggap sebagai cerminan kinerja solid perseroan pada semester I-2026.
Seluruh dividen interim yang dibagikan pada tahun buku 2026 akan diperhitungkan dalam dividen final yang akan diajukan dalam Rapat Umum Pemegang Saham Tahunan (RUPST) pada 2027.
Hingga Juli 2026, PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) mencetak laba bersih “bank only” sebesar Rp 35,3 triliun, yang masih sesuai dengan ekspektasi. Analis MNC Sekuritas, Victoria Venny, mencatat bahwa laba bersih ini telah memenuhi 58% dari proyeksi MNC Sekuritas untuk tahun 2026 dan 59% dari target konsensus analis. Laba bersih BBCA hingga Juli 2026 tumbuh 2% secara tahunan (year on year/yoy).
Pendapatan bunga bersih (Net Interest Income/NII) BBCA pada Juli 2026 tercatat Rp 7,1 triliun, naik 4% yoy dan 6% month on month (mom). Namun, secara kumulatif selama tujuh bulan pertama 2026, NII hanya tumbuh 0,3% yoy, sebagian terkompensasi oleh tekanan pada margin bunga bersih (Net Interest Margin/NIM). NIM BBCA membaik menjadi 5,5% pada Juli 2026, meskipun secara kumulatif 7M26 turun 20 basis poin yoy menjadi 5,5%.
Laba operasional sebelum pencadangan (Pre-provision Operating Profit/PPOP) pada Juli 2026 mencapai Rp 6,5 triliun, naik 9% mom namun relatif stabil secara yoy. Peningkatan PPOP didukung oleh pendapatan non-bunga (non-interest income/non-II) yang tumbuh 18% mom atau 10% yoy, melampaui kenaikan beban operasional. Secara kumulatif, PPOP tumbuh moderat 1% yoy.
Dari sisi pendanaan, rasio dana murah (Current Account Savings Account/CASA) terus membaik menjadi 85,4% pada Juli 2026, didukung oleh pertumbuhan dana murah sebesar 11% yoy, yang melampaui penurunan deposito berjangka (time deposits/TD) sebesar 5% yoy.
MNC Sekuritas mempertahankan rekomendasi “buy” untuk saham BBCA dengan target harga Rp 8.700, mencerminkan valuasi price to book value (PBV) sebesar 3,4 kali untuk estimasi 2026 dan 3 kali untuk proyeksi 2027. Risiko utama yang perlu diwaspadai adalah potensi perlambatan pertumbuhan kredit dan memburuknya kondisi ekonomi makro.
Ikuti Topik.id
