PT HM Sampoerna Tbk (HMSP) mencatatkan peningkatan laba yang kuat pada semester I-2026. Meski profitabilitas membaik, produsen rokok tersebut masih menghadapi sejumlah tantangan, mulai dari penurunan volume penjualan hingga menyusutnya pangsa pasar di tengah persaingan industri yang semakin ketat.
MNC Sekuritas belum melihat kenaikan laba tersebut sebagai bukti bahwa fundamental bisnis Sampoerna telah pulih sepenuhnya. Analis Catherine Florencia M menilai tekanan pasar dan ketidakpastian kebijakan pemerintah masih perlu dicermati, sehingga rekomendasi saham HMSP tetap berada pada posisi tahan dengan target harga Rp 700.
Laba Bersih HMSP Naik Hampir Dua Kali Lipat
Sepanjang enam bulan pertama 2026, Sampoerna membukukan pendapatan Rp 56,5 triliun, tumbuh 2,4% dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. Laba usaha meningkat 26,7% menjadi Rp 5,1 triliun, sedangkan laba bersih melonjak 97,1% menjadi Rp 4,2 triliun.
Perbaikan kinerja tersebut ditopang oleh penyesuaian harga jual, bauran produk yang lebih menguntungkan, serta efisiensi biaya. Tidak adanya kenaikan tarif cukai hasil tembakau (CHT) pada 2026 juga membantu menjaga profitabilitas perseroan.
Namun, peningkatan laba belum diikuti pertumbuhan volume penjualan. Penjualan HMSP justru turun 1,3% menjadi 38,8 miliar batang. Pangsa pasar perusahaan juga terkikis dari 30,5% menjadi 29%, ketika volume industri rokok secara keseluruhan tumbuh 3,7%.
Menurut Catherine dalam riset MNC Sekuritas, tekanan tersebut berkaitan dengan peralihan konsumen ke rokok berharga lebih murah atau downtrading, serta persaingan dari produk rokok ilegal.
Ketidakpastian Cukai dan Free Float Jadi Risiko
Prospek HMSP juga dibayangi ketidakjelasan kebijakan cukai untuk 2027. Rencana penambahan golongan tarif cukai dan kemungkinan pembatasan rokok elektronik menjadi sejumlah faktor yang dapat memengaruhi bisnis perusahaan.
Selain itu, ketentuan Bursa Efek Indonesia (BEI) mengenai minimum saham beredar di publik atau free float turut menjadi perhatian. Persyaratan tersebut dinaikkan menjadi 15% dari sebelumnya 7,5%.
Saat ini, free float HMSP tercatat 7,6%. Perusahaan perlu meningkatkannya menjadi minimal 12,5% pada Maret 2027, lalu mencapai 15% pada Maret 2028. Catherine mengingatkan tambahan pasokan saham berpotensi membebani sentimen pasar, terutama jika dilepas dengan harga diskon.
Proyeksi Laba dan Rekomendasi Saham HMSP
MNC Sekuritas memangkas proyeksi pendapatan HMSP pada 2026 menjadi Rp 114,5 triliun. Namun, estimasi laba bersih dinaikkan menjadi Rp 8 triliun, atau tumbuh 20,3%.
Pertumbuhan laba diperkirakan melambat menjadi 2,4% pada 2027. Pada 2028, laba bersih bahkan diproyeksikan turun 13,4% menjadi Rp 7,1 triliun.
MNC Sekuritas mempertahankan rekomendasi tahan dengan target harga Rp 700. Valuasi tersebut mencerminkan PER proyeksi 2026 sebesar 10,2 kali dan PBV 2,7 kali.
HMSP juga diperkirakan menawarkan imbal hasil dividen sekitar 10% pada 2026, didukung rasio pembayaran dividen yang secara historis berada di atas 98%. Meski demikian, potensi dividen dinilai belum cukup untuk mendorong rekomendasi beli di tengah tekanan volume penjualan, risiko regulasi, dan kewajiban peningkatan free float.









