Saham PT HM Sampoerna Tbk (HMSP) menjadi salah satu emiten yang menarik perhatian investor asing dalam beberapa hari perdagangan terakhir. Aksi beli bersih oleh pemodal luar negeri berlangsung selama tiga hari berturut-turut, yakni pada 9, 12, dan 13 Oktober 2026.
Aktivitas tersebut sejalan dengan pergerakan harga saham HMSP yang konsisten menguat selama periode tersebut. Pada penutupan perdagangan Selasa (13/10/2026), saham produsen rokok itu naik 0,78% ke level Rp645. Dalam kurun satu pekan, harga saham HMSP tercatat meningkat 3,20%.
Investor Asing Borong Saham HMSP
Berdasarkan data pasar, investor asing membukukan pembelian bersih saham HMSP senilai Rp4,23 miliar pada 9 Oktober 2026. Nilainya meningkat menjadi Rp8,37 miliar pada 12 Oktober, kemudian mencapai Rp6,44 miliar pada 13 Oktober.
Jika diakumulasikan, nilai net buy asing selama tiga hari tersebut mencapai Rp19,04 miliar. Meski demikian, aktivitas beli bersih dalam jangka pendek belum cukup untuk memastikan arah pergerakan saham selanjutnya.
Dari sisi kinerja perusahaan, HM Sampoerna masih mempertahankan posisinya sebagai pemimpin industri hasil tembakau nasional pada semester I-2026. Perseroan membukukan penjualan bersih Rp56,5 triliun dan laba bersih Rp4,2 triliun, dengan pangsa pasar sebesar 29,6%.
Namun, perusahaan menghadapi tekanan pada volume penjualan yang turun 1,3% dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. Kondisi tersebut antara lain dipengaruhi pergeseran konsumsi ke produk berharga lebih murah atau downtrading, serta peredaran rokok ilegal.
Segmen SKT Menghadapi Tekanan Penjualan
Penurunan paling besar terjadi pada segmen Sigaret Kretek Tangan (SKT), yang mencatat kontraksi penjualan sebesar 13% secara tahunan. Segmen ini memiliki peran penting karena kegiatan produksinya menyerap banyak tenaga kerja, terutama perempuan di berbagai daerah.
Studi Universitas Airlangga pada 2022 mencatat SKT memiliki efek pengganda ekonomi sebesar 3,8 kali. Artinya, aktivitas ekonomi senilai Rp1.000 yang dihasilkan pabrik SKT berpotensi mendorong perputaran ekonomi sekitar Rp3.800 di lingkungan sekitarnya.
Presiden Direktur Sampoerna Ivan Cahyadi mengatakan, perusahaan akan terus memperkuat segmen SKT sebagai bagian dari keberlanjutan bisnis. Ia juga menyebut kegiatan usaha Sampoerna mendukung sekitar 90.000 lapangan kerja dan melibatkan 22.500 petani tembakau serta cengkih melalui mitra pemasok.
Sampoerna Dorong Keberlanjutan Industri
Sampoerna mengapresiasi keputusan pemerintah untuk tidak menaikkan tarif cukai hasil tembakau. Perusahaan menilai kebijakan tersebut, disertai pemberantasan rokok ilegal, dapat membantu menciptakan lingkungan usaha yang mendukung industri legal.
Ke depan, perseroan menyatakan akan berfokus pada inovasi, pengembangan SDM, dan kontribusi ekonomi nasional. Di tengah tekanan volume penjualan, perkembangan kinerja perusahaan dan aktivitas investor asing menjadi sejumlah faktor yang dapat dicermati pelaku pasar dalam menilai saham HMSP.









