Lembaga Pembiayaan Ekspor Indonesia (LPEI) atau Indonesia Eximbank memperluas dukungan bagi usaha kecil dan menengah (UKM) Indonesia yang ingin mengembangkan pasar internasional. Melalui partisipasi 10 pelaku usaha binaan dan debitur dalam Trade Expo Indonesia (TEI) 2026, LPEI membuka kesempatan bagi produk lokal untuk menjangkau calon pembeli dari berbagai negara.
Dukungan tersebut mencakup pembiayaan, pelatihan, pendampingan usaha, hingga fasilitasi promosi dan pertemuan bisnis. Pengalaman CV Alpha Agro Indonesia dari Jawa Timur dan Puri Food and Healthy dari Sumatera Utara menunjukkan bagaimana penguatan modal, strategi pemasaran, serta kemitraan dengan petani dapat membantu pelaku usaha mempersiapkan ekspansi ekspor.
LPEI Perluas Akses Pasar Produk Lokal
Sebagai Special Mission Vehicle (SMV) Kementerian Keuangan, LPEI berupaya meningkatkan kapasitas eksportir melalui dukungan finansial dan nonfinansial. Dalam TEI 2026, produk yang dipromosikan mencakup kopi, teh, olahan kelapa, makanan dan minuman, serta berbagai komoditas rempah dan gula aren.
Melalui stan kolaborasi dengan Kementerian Keuangan, pelaku usaha juga dapat berkonsultasi mengenai pembiayaan ekspor, Trade Credit Insurance (TCI), Marine Cargo Insurance (MCI), kepabeanan, dan perizinan. Kolaborasi dengan Direktorat Jenderal Bea dan Cukai serta Lembaga National Single Window diharapkan membantu eksportir memahami proses perdagangan lintas negara.
Modal Kerja Dorong Ekspor Rempah Alpha Agro
CV Alpha Agro Indonesia mulai mengekspor rempah-rempah pada 2015 dengan India sebagai pasar utama. Direktur perusahaan, Arif Budiman Mufadhol, menyebut produknya meliputi lengkuas, temulawak, kunyit, dan jahe kering, cengkeh, serta bunga pala. Sekitar 80 persen pasar ekspornya berasal dari India, sedangkan sisanya mencakup China, Taiwan, Thailand, dan Malaysia.
Perusahaan membeli hasil panen petani, kemudian membersihkan dan mengolahnya agar memenuhi standar ekspor. Produk tersebut digunakan sebagai bahan baku industri pangan, kecantikan, hingga minyak atsiri.
Ketika permintaan kembali meningkat pada 2024 setelah perlambatan selama pandemi, kebutuhan modal kerja menjadi tantangan. Perusahaan harus menyiapkan stok sebelum seluruh pembayaran pembeli diterima.
Pembiayaan LPEI membantu Alpha Agro meningkatkan kemampuan membeli bahan baku. Jika sebelumnya pengiriman berkisar satu hingga dua kontainer per bulan, perusahaan menyatakan kini lebih percaya diri memenuhi permintaan hingga lima kontainer per bulan dengan dukungan pembiayaan dan uang muka pembeli.
Selain modal, Alpha Agro mengikuti Export Coaching Program LPEI sejak 2021 untuk memperdalam pemahaman mengenai regulasi ekspor dan memperluas jaringan calon mitra.
Puri Food Kembangkan Gula Aren Cair
Berbeda dengan Alpha Agro, Puri Food and Healthy berfokus pada pengembangan Puri Aren Cair, pemanis alami berbahan air nira aren tanpa tambahan pengawet. Usaha yang didirikan Putri Nasution pada 2021 ini memanfaatkan pendampingan LPEI untuk memperbaiki kemasan, menyusun profil perusahaan berbahasa Inggris, menghitung biaya, dan memahami standar ekspor.
Malaysia menjadi salah satu pasar utama produk tersebut, dengan distribusi ke Kuala Lumpur, Pulau Pinang, dan Johor Bahru. Puri Food juga telah mengirimkan produk ke Brunei Darussalam serta menjajaki pasar lain melalui pameran dan pertemuan bisnis.
Kapasitas produksinya disebut mencapai 5.000 hingga 10.000 kemasan, bergantung pada kebutuhan dan jadwal pesanan. Perusahaan juga membangun ekosistem pasokan bersama sekitar 500–600 petani di Kabupaten Langkat, Sumatera Utara, meski belum seluruhnya menjadi pemasok aktif.
Pada 2025, wilayah binaan perusahaan ditetapkan sebagai Desa Devisa oleh LPEI. Program ini mendukung peningkatan kapasitas masyarakat sekaligus membuka peluang pemasaran komoditas lokal.
Pembiayaan dan Pendampingan Saling Melengkapi
Pengalaman kedua perusahaan memperlihatkan kebutuhan eksportir yang berbeda. Alpha Agro memerlukan modal kerja untuk menyiapkan stok dalam jumlah besar, sedangkan Puri Food membutuhkan pendampingan untuk membangun merek dan menjangkau pembeli internasional.
Melalui TEI 2026, LPEI berupaya mempertemukan produk unggulan Indonesia dengan peluang pasar global. Tantangan berikutnya adalah menjaga kualitas, memenuhi persyaratan ekspor, dan mengubah komunikasi dengan calon pembeli menjadi transaksi berkelanjutan yang turut memberikan manfaat bagi petani dan pelaku usaha lokal.









