Himpunan Industri Mebel dan Kerajinan Indonesia (Himki) mendorong penguatan ajang Trade Expo Indonesia (TEI) agar dapat berfungsi secara optimal sebagai motor penggerak ekspor furnitur dan kerajinan nasional. Upaya ini dinilai krusial untuk memperlebar akses pasar global sekaligus merealisasikan target penggandaan nilai ekspor sektor tersebut hingga mencapai US$6 miliar pada 2031.
Ketua Umum Himki Abdul Sobur menjelaskan bahwa pameran dagang internasional tersebut perlu diarahkan lebih dari sekadar perhelatan pameran umum. TEI diproyeksikan sebagai platform bisnis yang mempertemukan langsung produsen lokal dengan para pembeli mancanegara potensial. Menurutnya, ukuran keberhasilan pameran terletak pada kualitas calon pembeli, potensi kemitraan, serta realisasi transaksi.
“TEI memiliki posisi strategis sebagai momentum promosi ekspor pada semester kedua. Apabila dikembangkan dengan ekosistem yang lengkap, TEI dapat memperkuat kalender pameran internasional Indonesia sekaligus menjadi salah satu penggerak pertumbuhan ekspor furnitur dan kerajinan nasional,” ujar dia dalam keterangan tertulisnya, Jakarta, Senin (19/10/2026).
Sobur menambahkan, penguatan ajang ini harus berjalan berkesinambungan dengan promosi sepanjang tahun. Rangkaian pameran sektoral di semester kedua perlu disokong kegiatan promosi internasional pada semester pertama guna memastikan pencarian pembeli serta pengembangan pasar berlangsung secara konsisten.
Strategi penguatan TEI ini menjadi bagian dari peta jalan Himki bersama pemerintah untuk mengerek nilai ekspor furnitur dan kerajinan dari kisaran US$3 miliar menuju target US$6 miliar pada 2031. Dalam jangka panjang, asosiasi tersebut bahkan membidik angka ekspor menembus US$25 miliar pada tahun 2045.
Guna merealisasikan target tersebut, promosi luar negeri wajib diselaraskan dengan peningkatan kualitas desain, jaminan keberlanjutan bahan baku, perluasan kapasitas produksi, efisiensi logistik, kemudahan akses pembiayaan, serta dukungan regulasi yang memadai.
Himki turut mengusulkan pengembangan Furniture & Home Décor Pavilion pada penyelenggaraan TEI mendatang dengan standar kurasi yang lebih ketat serta skala yang disesuaikan dengan kesiapan industri berorientasi ekspor. Pembenahan ini diharapkan mampu mempertemukan secara efektif antara kapasitas produsen domestik dan kebutuhan riil pasar global.
Dari sisi pelaku usaha, penyelenggaraan TEI 2026 menuai apresiasi positif. Ketua DPD Himki Semarang Raya A. Kuswidiarso menyampaikan bahwa pameran kali ini mendatangkan para peminat serius yang bahkan merencanakan agenda kunjungan langsung ke fasilitas pabrik.
“Pameran ini memberikan peluang yang cukup baik. Walaupun tidak selalu ramai, ada pengunjung yang serius dan ingin menindaklanjuti dengan kunjungan ke pabrik. Kualitas seperti inilah yang perlu terus diperkuat,” ungkap dia.
Senada dengan hal tersebut, Rani Permata Sari dari Nuansa Kayu Bekas memandang perhelatan TEI 2026 sebagai penyelenggaraan terbaik dalam kurun waktu enam tahun terakhir. Perusahaannya mencatat kunjungan dari berbagai negara seperti Malaysia, Korea Selatan, Belanda, Belgia, Amerika Serikat, Bahrain, hingga sejumlah negara di kawasan Afrika.
“Alhamdulillah, ini TEI paling bagus dalam enam tahun terakhir. Animo buyer ada dan terlihat. Kami juga melihat Kementerian Perdagangan semakin serius dalam penyelenggaraannya,” ujar dia.
Menanggapi berbagai masukan peserta, Himki berkomitmen untuk terus mengevaluasi penataan tata letak paviliun, ketepatan promosi, serta penyediaan fasilitas pendukung agar para pelaku industri dapat menampilkan produk secara lebih representatif.
Fasilitasi Pertemuan Bisnis Global
Pada penyelenggaraan TEI tahun ini, Himki memfasilitasi para pelaku industri dekorasi rumah dan kerajinan melalui penyediaan Furniture & Home Décor Pavilion di Hall 9. Area tersebut mempertemukan peserta dengan jejaring pembeli dari berbagai belahan dunia, termasuk Inggris, India, Arab Saudi, Turki, Singapura, serta kawasan Timur Tengah.
Berbagai produk unggulan yang dipamerkan meliputi perlengkapan furnitur dalam dan luar ruangan, produk berbasis rotan, meja dan kursi, komponen pintu, pencahayaan, hingga aneka kerajinan tangan berbahan dasar kayu.
Kehadiran paviliun tersebut juga menarik perhatian sejumlah pejabat tinggi negara, termasuk kunjungan dari Menteri Perdagangan serta jajaran kementerian terkait. Dalam kesempatan tersebut, Menteri Perindustrian Muhammad Sarmuji meninjau langsung sejumlah stan pameran dan berdiskusi bersama pelaku usaha mengenai daya saing industri, termasuk pentingnya menjaga pasokan bahan baku rotan.
Selain memperkuat jejaring perdagangan, Himki juga memanfaatkan momentum pameran untuk meneken kerja sama strategis dengan BPJS Ketenagakerjaan guna memperluas jaminan perlindungan sosial bagi pekerja di sektor industri furnitur. Asosiasi ini turut menggandeng Universiti Teknologi MARA (UiTM) Malaysia untuk pengembangan riset dan talenta, serta melakukan penjajakan kemitraan dengan Singapore Tourism Board guna memperluas eksposur bisnis regional.









