Topik.id — Pasar otomotif Indonesia mencatat pertumbuhan penjualan selama sembilan bulan pertama 2026. Meski demikian, peningkatan tersebut belum cukup untuk membawa industri kembali ke tingkat penjualan satu juta mobil per tahun, seperti yang pernah dicapai pada periode sebelumnya.
Data Gabungan Industri Kendaraan Bermotor Indonesia (Gaikindo) menunjukkan distribusi mobil dari pabrik ke dealer mencapai 679.020 unit sepanjang Januari-September 2026, naik 21 persen dibandingkan periode sama tahun lalu. Penjualan ritel juga tumbuh 15,4 persen menjadi 676.223 unit, tetapi tekanan daya beli dan akses pembiayaan masih membayangi prospek hingga akhir tahun.
Daya Beli Jadi Tantangan Pasar Otomotif
Sekretaris Umum Gaikindo Kukuh Kumara menjelaskan, penjualan mobil nasional dalam kondisi normal berpotensi mencapai satu juta hingga 1,2 juta unit setiap tahun. Namun, capaian satu juta unit terakhir terjadi pada 2023. Setelah itu, pasar mengalami pelemahan, salah satunya akibat tekanan ekonomi terhadap kelompok masyarakat kelas menengah.
Sebagian konsumen yang kesulitan membeli kendaraan baru akhirnya memilih mobil bekas. Kukuh menilai, pertumbuhan ekonomi perlu mencapai kisaran 5,5-6 persen agar pendapatan masyarakat dan keyakinan konsumen membaik sehingga permintaan kendaraan meningkat.
Ia juga mendorong evaluasi struktur pajak kendaraan. Pengalaman insentif PPnBM ditanggung pemerintah pada 2021 dinilai menunjukkan bahwa kebijakan fiskal dapat mendukung penjualan sekaligus menggerakkan industri komponen dan sektor pendukung.
Target Satu Juta Unit Dinilai Sulit Tercapai
Chief Economist PermataBank Joshua Pardede menilai pencapaian satu juta unit secara matematis masih memungkinkan. Namun, pasar perlu menjual tambahan 320.980 unit pada kuartal IV, atau rata-rata sekitar 107 ribu mobil per bulan. Angka tersebut jauh di atas penjualan bulanan yang berkisar 80 ribu unit dalam beberapa bulan terakhir.
Pengamat otomotif Yannes Martinus memperkirakan penjualan sepanjang 2026 lebih realistis berada pada rentang 890 ribu hingga 930 ribu unit. Proyeksi itu masih melampaui target Gaikindo sebesar 850 ribu unit.
Joshua juga memperkirakan penjualan mencapai sekitar 920 ribu unit dengan asumsi penjualan Oktober-Desember bertahan di kisaran 80 ribu unit per bulan.
Tekanan konsumen turut terlihat dari penurunan Indeks Kondisi Ekonomi Saat Ini, dari 109,4 pada Agustus menjadi 107,5 pada September 2026. Sekitar 70 persen pembelian mobil secara historis mengandalkan pembiayaan, sehingga uang muka, cicilan, dan akses kredit berpengaruh terhadap permintaan.
Penjualan Kendaraan Listrik Terus Meningkat
Di tengah tantangan tersebut, kendaraan listrik menjadi salah satu penopang pertumbuhan. Kukuh menyebut pembelian EV meningkat, terutama di kalangan masyarakat perkotaan berpenghasilan menengah atas. Ketersediaan model dengan harga di bawah Rp300 juta turut memperluas pilihan konsumen.
Pangsa kendaraan bermesin bensin dan diesel diperkirakan turun menjadi sekitar 73 persen, sedangkan kendaraan listrik dan jenis lain mengambil porsi yang semakin besar.
Data Gaikindo mencatat penjualan EV secara wholesales mencapai 101.171 unit pada Januari-Agustus 2026, meningkat dari 50.749 unit pada periode yang sama tahun sebelumnya. Angka tersebut hampir menyamai total penjualan sepanjang 2025 sebanyak 103.931 unit.
Kepastian insentif dan regulasi kendaraan listrik menjadi faktor penting bagi kelanjutan tren ini. Kejelasan kebijakan dibutuhkan agar konsumen tidak menunda pembelian dan produsen dapat menyusun rencana investasi. Dengan demikian, pemulihan pasar otomotif akan bergantung pada daya beli, pembiayaan, serta konsistensi kebijakan pemerintah.


