Topik.ID — Relay Q menjadi salah satu perangkat berbasis kecerdasan buatan yang menarik perhatian dalam ajang IFA 2026 di Berlin. Berbeda dari perangkat AI yang mengandalkan layar sebagai pusat interaksi, gadget mungil ini justru mengutamakan komunikasi melalui suara untuk menjalankan berbagai perintah pengguna.
Perangkat besutan Relay tersebut menggunakan Gemini sebagai model AI dan mengusung konsep push-to-talk. Dalam demonstrasi yang dilakukan di IFA 2026, Relay Q diperlihatkan mampu melakukan lebih dari sekadar mengubah ucapan menjadi teks. Gadget ini juga dapat memahami konteks percakapan, membantu mencari informasi, hingga mendukung pengguna ketika mengirim pesan.
Relay Q Mengandalkan Interaksi Suara
Relay Q dirancang sebagai perangkat kecil yang dapat dibawa dan digunakan dengan cepat ketika pengguna membutuhkan bantuan AI. Konsep push-to-talk membuat pengguna cukup berbicara melalui perangkat untuk memberikan instruksi tanpa harus mengetik atau membuka aplikasi pada smartphone.
Salah satu demonstrasi memperlihatkan Relay Q digunakan untuk membuat pesan. Ucapan pengguna diterjemahkan menjadi teks dan kemudian dapat dikirim melalui sejumlah aplikasi komunikasi, termasuk WhatsApp.
Menariknya, pengguna tidak harus memberikan instruksi dengan susunan kalimat yang sangat formal. Relay Q dirancang untuk memahami percakapan secara lebih natural sehingga perintah dapat disampaikan seperti ketika seseorang berbicara kepada orang lain.
Kemampuan tersebut menjadi penting karena perangkat AI yang berbasis suara tidak hanya dituntut mengenali kata, tetapi juga harus memahami maksud di balik ucapan pengguna.
Gemini Membantu Memahami Konteks Pesan
Salah satu kemampuan yang paling menarik dari Relay Q adalah pemahaman konteks ketika digunakan untuk berkomunikasi. Dalam demonstrasi, pengguna dapat menggunakan frasa seperti “tell him” tanpa harus kembali menyebut secara lengkap siapa penerima pesan.
Relay dapat menghubungkan perintah tersebut dengan konteks percakapan yang sedang berlangsung. Dengan demikian, perangkat tidak hanya berfungsi sebagai alat transkripsi suara, tetapi juga mencoba memahami hubungan antara perintah dan aktivitas yang sedang dilakukan.
Pendekatan ini membuat Relay Q terlihat lebih dekat dengan konsep asisten AI yang mampu mengikuti alur percakapan. Pengguna tidak perlu terus-menerus memberikan informasi yang sebenarnya sudah tersedia dari konteks sebelumnya.
Bisa Mencari Restoran dari Perintah Suara
Kemampuan Relay Q tidak berhenti pada komunikasi. Dalam demonstrasi lainnya, Raymond Zhu, salah satu pendiri Relay, memperlihatkan penggunaan perangkat untuk mencari rekomendasi restoran.
Ketika pengguna membutuhkan informasi tersebut, Gemini yang menjadi model AI di dalam Relay Q dapat melakukan pencarian melalui Google. Hasil yang ditemukan kemudian digunakan untuk memberikan rekomendasi yang sesuai dengan permintaan.
Perangkat juga dapat mengambil tautan Google Maps yang berkaitan dengan hasil pencarian. Artinya, Relay Q dapat menghubungkan perintah suara dengan layanan informasi yang sudah digunakan sehari-hari.
Namun, proses pencarian membutuhkan waktu lebih lama dibandingkan tugas transkripsi sederhana. Hal ini terjadi karena sistem harus melakukan pencarian terlebih dahulu sebelum menyampaikan hasil kepada pengguna.
Mikrofon Diuji di Tengah Suasana Bising
Relay juga memperlihatkan kemampuan perangkat dalam menangkap suara pada lingkungan yang tidak ideal. Pengujian dilakukan di luar gedung Messe Berlin ketika kondisi sekitar cukup ramai.
Suara musik techno, percakapan pengunjung, serta suara air mancur menjadi bagian dari kebisingan lingkungan saat demonstrasi berlangsung. Meski demikian, Relay Q masih mampu menangkap ucapan yang diberikan kepada perangkat.
Ukuran perangkat yang kecil juga menjadi salah satu keuntungan. Pengguna dapat mendekatkannya ke mulut ketika membutuhkan komunikasi yang lebih jelas, terutama ketika berada di lingkungan dengan tingkat kebisingan tinggi.
Masih Berupa Prototipe, Target Rilis 2027
Meski sudah diperlihatkan kepada publik, Relay Q yang hadir di IFA 2026 belum menjadi produk final. Relay masih menggunakan prototipe dan masih membutuhkan pengembangan sebelum perangkat siap dipasarkan kepada konsumen.
Perusahaan berencana menghadirkan Relay Q dalam tiga pilihan warna. Demonstrasi berikutnya dijadwalkan berlangsung pada CES yang digelar Januari mendatang.
Setelah demonstrasi tersebut, Relay menargetkan peluncuran Relay Q pada kuartal pertama 2027. Artinya, konsumen masih harus menunggu beberapa waktu sebelum dapat menggunakan perangkat AI tersebut dalam aktivitas sehari-hari.
Relay Q Ditargetkan Seharga Rp2,7 Jutaan
Relay saat ini memperkirakan Relay Q akan dipasarkan dengan harga sekitar 150 dolar AS. Jika menggunakan kurs sekitar Rp18.065 per dolar AS, nilainya berada di kisaran Rp2,71 juta sebelum pajak dan biaya tambahan lainnya.
Selain harga perangkat, Relay juga menyiapkan layanan berlangganan dengan tarif sekitar 15 dolar AS per bulan. Paket tersebut ditujukan untuk penggunaan tanpa batas.
Meski demikian, harga perangkat maupun biaya berlangganan masih dapat berubah sebelum produk resmi diluncurkan. Relay mengatakan tetap ingin mempertahankan pilihan penggunaan tanpa batas agar pengguna tidak perlu terus memikirkan kuota ketika berinteraksi dengan AI.
Dengan pendekatan tersebut, Relay Q mencoba menawarkan bentuk baru perangkat AI yang lebih praktis untuk komunikasi dan pencarian informasi. Jika pengembangan prototipe berjalan sesuai rencana, gadget berbasis Gemini ini akan mulai memasuki pasar pada awal 2027.
Ikuti Topik.ID
