Saham

Saham BBCA Anjlok 14,81 Persen ke Rp5.175, Investor Domestik Justru Catat Net Buy Rp2,32 Triliun

Saham BBCA anjlok 14,81 persen ke Rp5.175 pada Jumat, 16 Oktober 2026. Investor domestik mencatat net buy Rp2,32 triliun.

Saham BBCA Anjlok 14,81 Persen ke Rp5.175, Investor Domestik Justru Catat Net Buy Rp2,32 Triliun
Foto: Dok. BBCA

Saham PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) mengalami tekanan besar pada perdagangan Jumat (16/10/2026), seiring pelemahan tajam Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG). Harga saham bank swasta terbesar di Indonesia tersebut merosot hingga dua digit ketika investor menghadapi ketidakpastian setelah munculnya rencana evaluasi klasifikasi pasar saham Indonesia oleh MSCI.

Di tengah aksi jual yang menekan harga, investor domestik justru tercatat melakukan pembelian bersih dalam jumlah besar. Data transaksi menunjukkan adanya perbedaan arah aktivitas investor lokal dan asing terhadap saham BBCA selama periode perdagangan tersebut.

Saham BCA Anjlok ke Rp5.175

Pada perdagangan Jumat, saham BBCA turun 14,81 persen ke level Rp5.175. Aktivitas transaksi terbilang ramai, dengan volume mencapai 1,24 miliar saham dan frekuensi perdagangan sebanyak 185.072 kali.

Nilai transaksi saham BBCA pada hari tersebut tercatat mencapai Rp6,47 triliun. Besarnya nilai perdagangan menunjukkan saham BCA menjadi salah satu perhatian pelaku pasar ketika tekanan jual melanda bursa domestik.

Mengacu pada data Stockbit Sekuritas, investor dalam negeri membukukan pembelian bersih atau net buy saham BBCA senilai Rp2,32 triliun. Aktivitas tersebut terjadi ketika harga saham mengalami penurunan tajam.

Meski demikian, pembelian bersih tidak serta-merta menunjukkan harga akan segera pulih. Pergerakan selanjutnya masih dipengaruhi sentimen pasar, keputusan investor, serta perkembangan kondisi pasar modal secara keseluruhan.

Asing Catat Net Sell Rp1,85 Triliun

Jika dilihat sepanjang pekan, saham BBCA terkoreksi 14,46 persen. Pada periode yang sama, investor asing mencatat penjualan bersih atau net sell senilai Rp1,85 triliun.

Tekanan terhadap saham perbankan tersebut berlangsung bersamaan dengan koreksi tajam IHSG. Pada Jumat, indeks utama pasar saham Indonesia itu merosot 11,57 persen hingga berada di level 5.185.

Salah satu sentimen yang menjadi perhatian pasar adalah pengumuman MSCI mengenai dimulainya konsultasi terkait kemungkinan reklasifikasi Indonesia dari kategori emerging market menjadi standalone market.

Perubahan klasifikasi tersebut menjadi perhatian karena indeks MSCI digunakan sebagai acuan oleh sejumlah investor global. Jika status Indonesia berubah, komposisi portofolio investor yang mengikuti indeks berpotensi terdampak.

Saham Bank Besar Perlu Dicermati

Analis sekaligus Founder Stocknow.id Hendra Wardana menilai saham perbankan berkapitalisasi besar perlu mendapat perhatian di tengah gejolak pasar.

Selain BBCA, saham PT Bank Rakyat Indonesia Tbk (BBRI), PT Bank Mandiri Tbk (BMRI), dan PT Bank Negara Indonesia Tbk (BBNI) juga dinilai penting untuk dicermati.

Pergerakan saham-saham tersebut dapat memengaruhi arah IHSG secara signifikan karena perannya di pasar modal. Investor perlu mempertimbangkan risiko dan perkembangan sentimen sebelum mengambil keputusan, terutama ketika volatilitas pasar meningkat.