Topik.id — Twitch mulai menguji fitur baru berbasis kecerdasan buatan yang ditujukan untuk membantu kreator mengembangkan kualitas siaran mereka. Fitur bernama Stream Coach tersebut bekerja sebagai pembimbing virtual yang memberikan evaluasi setelah streamer menyelesaikan sesi siaran.
Pengujian ini dilakukan secara terbatas dan pertama kali diketahui melalui laporan wartawan streaming Zach Bussey pada Jumat, 11 September 2026. Stream Coach dirancang untuk memberikan analisis yang lebih personal, mulai dari hal yang sudah dilakukan dengan baik hingga bagian yang masih dapat ditingkatkan.
Stream Coach Beri Evaluasi Setelah Siaran
Berbeda dari fitur yang bekerja selama siaran berlangsung, Stream Coach memberikan masukan setelah sesi streaming selesai. Sistem tersebut dapat mengevaluasi sejumlah aspek dalam siaran dan menyajikan rekomendasi yang dapat digunakan kreator untuk sesi berikutnya.
Masukan yang diberikan mencakup performa penyiar, cara meningkatkan keterlibatan komunitas, hingga pemanfaatan berbagai fitur monetisasi Twitch. Kreator juga dapat memperoleh arahan mengenai cara berkomunikasi dengan penonton serta memahami karakter dan budaya komunitas di platform tersebut.
Zach Bussey menjelaskan bahwa rekomendasi Stream Coach tidak hanya berfokus pada performa teknis. Twitch juga mencoba menjadikan fitur tersebut sebagai panduan bagi kreator dalam membangun hubungan yang lebih baik dengan audiens.
Twitch Ingatkan Keterbatasan AI
Di balik fitur tersebut, Twitch turut memberikan peringatan kepada pengguna mengenai kemampuan Stream Coach. Platform menyebut hasil analisis yang diberikan AI bersifat informasional sehingga tetap memiliki kemungkinan menghasilkan kesalahan.
Rekomendasi dari sistem juga tidak dianggap sebagai jaminan bahwa kreator akan memperoleh hasil tertentu. Catatan tersebut menunjukkan bahwa Twitch masih menempatkan Stream Coach sebagai alat bantu, bukan pengganti penilaian kreator terhadap performa mereka sendiri.
Pengujian fitur ini berlangsung ketika penggunaan AI di Twitch masih menjadi topik yang sensitif di kalangan komunitas. Sebelumnya, Twitch mendapat kritik setelah mengumumkan penggunaan konten kreator untuk melatih model AI dengan mekanisme opt-out.
Kebijakan AI Twitch Pernah Menuai Kritik
Kebijakan tersebut sempat memunculkan pertanyaan mengenai mengapa Twitch tidak menggunakan sistem persetujuan opt-in sejak awal. Chief Product Officer Twitch Mike Minton kemudian menanggapi perdebatan tersebut dengan alasan bahwa penerapan opt-in dinilai akan membuat sedikit pengguna yang bersedia ikut serta.
Kehadiran Stream Coach kini menjadi langkah baru Twitch dalam memanfaatkan AI secara langsung untuk kebutuhan kreator. Namun, respons komunitas terhadap teknologi tersebut masih akan menjadi faktor penting dalam pengembangannya.
Twitch Masih Kuat di Pasar Amerika Serikat
Di tengah pengembangan fitur AI, Twitch juga tetap memiliki basis penonton kuat di Amerika Serikat. Data Audience Geo & Demographics dari Streams Charts selama 30 hari terakhir menunjukkan AS menyumbang sekitar 28 persen audiens Twitch.
Porsi tersebut lebih tinggi dibandingkan Kick yang berada di angka 15 persen dan YouTube Gaming sekitar 14 persen. Di kawasan Asia-Pasifik, YouTube Gaming justru memiliki posisi dominan dengan lebih dari 60 persen audiensnya.
Sementara itu, Kick mempunyai distribusi penonton yang lebih tersebar, dengan lebih dari separuh trafik berasal dari Amerika Latin, Timur Tengah, dan Afrika Utara. Ketiga platform tersebut juga memiliki karakteristik demografi yang relatif serupa, dengan sekitar 80 persen audiensnya merupakan laki-laki.
Ikuti Topik.id
