β€” Sebuah fenomena siaran langsung atau livestreaming yang tidak biasa di China mendadak viral di media sosial dan memicu perdebatan sengit di tengah masyarakat digital.

Seorang livestreamer bernama Fanqie Jiang Ye dilaporkan mengizinkan para penontonnya membayar seharga 50 yuan atau sekitar Rp115 ribu hanya untuk memutar kursi yang sedang ia duduki secara otomatis hingga ia jungkir balik.

Rekaman video yang beredar memperlihatkan penonton terus-menerus mengirimkan dana demi menjaga kursi tersebut tetap berputar. Aksi ini mentransformasikan konsep siaran langsung dari sekadar tontonan pasif menjadi bentuk interaksi langsung di mana audiens dapat mengontrol tindakan fisik sang kreator.

Misteri Teknis dan Pertanyaan Keamanan

Kendati potongan video aksi tersebut telah tersebar luas, hingga kini belum terdapat verifikasi independen mengenai mekanisme pasti yang menghubungkan sistem pembayaran dengan perangkat mekanis pemutar kursi itu. Sejumlah pertanyaan terkait aspek teknis dan faktor keselamatan pun mengemuka:

  • Integrasi Hardware dan Software: Belum ada penjelasan mengenai jenis peralatan mekanis yang dipakai untuk memutar kursi, aplikasi interaktif penerima transaksi, serta metode komunikasi real-time di antara keduanya.
  • Penanganan Antrean: Sistem belum menjelaskan cara menangani lonjakan transaksi apabila sejumlah penonton memberikan pembayaran dalam kurun waktu yang hampir bersamaan. Setiap transaksi memicu satu putaran penuh, namun mekanisme antreannya masih belum jelas.
  • Fitur Penghentian Darurat: Belum terdapat kepastian mengenai ketersediaan tombol jeda darurat bagi Jiang Ye untuk menghentikan putaran apabila ia mengalami pusing atau ketidaknyamanan selama siaran.

Sorotan Netizen dan Kemiripan dengan Serial Fiksi

Kebebasan audiens dalam mengendalikan aktivitas fisik seseorang demi imbalan uang langsung menuai beragam tanggapan di platform X serta berbagai media sosial lokal. Sejumlah warganet bahkan menyamakan fenomena tersebut dengan nuansa distopia dalam serial fiksi ilmiah Black Mirror.

Meskipun aksi yang dilakukan Jiang Ye tergolong jauh lebih ringan dibandingkan skenario ekstrem dalam serial televisi tersebut, peristiwa ini tetap memicu perdebatan etika mengenai batasan seberapa jauh pembayaran dari penonton berhak mendikte tubuh seorang kreator di ruang digital.

Sebagian warganet turut menyoroti potensi risiko kesehatan akibat aksi jungkir balik tersebut. Ada pula yang berpendapat bahwa perolehan pemasukan dari siaran itu tidak akan sepadan dengan biaya pengadaan mesin pemutar kursi yang diperkirakan bernilai ribuan dolar.

Sampai aturan main serta mekanisme operasional siaran langsung tersebut terverifikasi secara utuh, publik masih mempertanyakan apakah aksi ini merupakan bentuk pertunjukan interaktif yang telah disepakati bersama atau justru bentuk eksploitasi yang melewati batas kewajaran.