Internasional

Gempa Magnitudo 7,0 Guncang Tibet, 16 Tewas dan 339 Rumah Roboh

Gempa magnitudo 7,0 mengguncang Tibet, China, menewaskan 16 orang, melukai 76 warga, dan merobohkan 339 rumah.

Gempa Magnitudo 7,0 Guncang Tibet, 16 Tewas dan 339 Rumah Roboh

Gempa bumi berkekuatan magnitudo 7,0 mengguncang wilayah Tibet, China, pada Kamis (22/10/2026) malam waktu setempat. Bencana yang melanda kawasan Nagqu tersebut menewaskan sedikitnya 16 orang, melukai 76 warga, dan menyebabkan ratusan rumah roboh.

Gempa terjadi pada pukul 22.33 waktu setempat atau 21.33 WIB, dengan pusat guncangan berada di Kabupaten Baqen, Kota Nagqu, Daerah Otonom Tibet. Wilayah tersebut terletak di kawasan dataran tinggi yang berjarak ratusan kilometer dari Lhasa, ibu kota Tibet.

Berdasarkan data United States Geological Survey (USGS), gempa berkekuatan magnitudo 7,0 itu berpusat sekitar 191 kilometer timur laut-timur Nagqu pada kedalaman 18 kilometer.

Sementara itu, China Earthquake Networks Center (CENC) mencatat pusat gempa berada pada koordinat 32,40 derajat lintang utara dan 93,79 derajat bujur timur dengan kedalaman sekitar 10 kilometer.

Korban gempa Tibet bertambah menjadi 76 orang luka-luka

Jumlah korban luka akibat gempa Tibet mengalami peningkatan seiring berlangsungnya pendataan di wilayah terdampak.

Laporan awal otoritas China mencatat 32 orang terluka, termasuk 11 korban yang mengalami cedera serius. Jumlah tersebut kemudian bertambah menjadi 54 orang sebelum kembali diperbarui menjadi 76 orang pada Jumat (23/10/2026).

Sementara itu, jumlah korban meninggal dunia yang dilaporkan masih sebanyak 16 orang.

Selain menimbulkan korban jiwa, gempa menyebabkan sedikitnya 339 rumah dan 20 kandang ternak roboh. Kerusakan bangunan tersebar di sejumlah permukiman yang berada di sekitar pusat gempa.

Rekaman yang ditayangkan televisi pemerintah China, CCTV, memperlihatkan bangunan mengalami kerusakan, dinding rumah runtuh, serta petugas penyelamat memeriksa puing-puing bangunan.

Guncangan gempa juga membuat warga bergegas keluar dari bangunan untuk menyelamatkan diri.

Lebih dari 12.000 warga dievakuasi

Pemerintah China mengerahkan lebih dari 5.000 personel dari tiga kabupaten untuk melakukan pencarian korban, evakuasi penduduk, dan penanganan kerusakan akibat gempa.

Lebih dari 12.000 warga telah dipindahkan ke lokasi yang lebih aman. Tim penyelamat juga melakukan pemeriksaan terhadap rumah dan permukiman terdampak untuk memastikan tidak ada korban yang tertinggal.

Bantuan darurat yang dikirimkan ke wilayah bencana mencakup sekitar 2.000 unit hunian prefabrikasi, 3.400 tenda, tempat tidur lipat, senter, serta pakaian musim dingin.

Proses penyelamatan menghadapi kendala akibat kondisi geografis Nagqu yang berada pada ketinggian sekitar 4.800 meter di atas permukaan laut.

Gempa juga mengakibatkan gangguan komunikasi di sejumlah wilayah. Otoritas perkeretaapian menghentikan sementara perjalanan kereta yang melintasi kawasan terdampak sebagai langkah keselamatan.

Selain itu, longsoran batu akibat guncangan menyebabkan sebagian ruas Jalan Nasional 317 ditutup. Akses jalan tersebut dibatasi untuk kendaraan darurat dan petugas yang terlibat dalam operasi penanganan bencana.

Presiden China Xi Jinping memerintahkan seluruh pihak terkait mengerahkan upaya penyelamatan dan memastikan korban luka memperoleh penanganan medis.

Gempa susulan tercatat hingga magnitudo 5,2

USGS mencatat sedikitnya tujuh gempa susulan setelah gempa utama mengguncang Tibet. Kekuatan gempa susulan tersebut berkisar antara magnitudo 4,3 hingga 5,2.

Otoritas setempat mewaspadai kerusakan lanjutan pada bangunan yang telah mengalami retakan atau kerusakan struktur akibat guncangan pertama.

Kondisi cuaca juga menjadi perhatian dalam operasi penyelamatan. Hujan salju diperkirakan terjadi secara berkala di kawasan terdampak selama beberapa hari setelah gempa.

Menurut USGS, gempa magnitudo 7,0 pada 22 Oktober 2026 terjadi akibat aktivitas sesar normal di kawasan Dataran Tinggi Tibet.

Wilayah tersebut merupakan salah satu kawasan dengan aktivitas seismik tinggi karena dipengaruhi pergerakan lempeng India dan Eurasia. Tumbukan kedua lempeng tektonik itu juga berkaitan dengan pembentukan Pegunungan Himalaya.

USGS mencatat sebanyak 29 gempa berkekuatan magnitudo 7,0 atau lebih besar terjadi di kawasan Dataran Tinggi Tibet dan wilayah sekitarnya sejak 1900.

Gempa terbaru ini juga disebut sebagai yang terkuat di wilayah tersebut dalam lima tahun terakhir berdasarkan laporan televisi pemerintah China.

Hingga laporan terbaru pada Jumat (23/10/2026), otoritas China masih melanjutkan penanganan darurat, pendataan kerusakan, serta penyaluran bantuan kepada masyarakat terdampak.