Danudirja Setiabudi, jurnalis kritis dan penggagas Nusantara abad ke-20

Tamara

Siapa sangka nama Danudirja Setiabudi merupakan nama pemberian Presiden Soekarno.

Dr. Ernest François Eugène Douwes Dekker dikenal dengan nama Douwes Dekker atau Danudirja Setiabudi | cover topik.id

Dr. Ernest François Eugène Douwes Dekker dikenal dengan nama Douwes Dekker atau Danudirja Setiabudi, lahir di Pasuruan, Jawa Timur pada 8 Oktober 1879, meninggal di Bandung, Jawa Barat, 28 Agustus 1950 umur 70 tahun.

Siapa sangka nama Danudirja Setiabudi merupakan nama pemberian Presiden Soekarno setelah Indonesia merdeka. Danu memiliki arti yaitu banteng, Dirja berarti kuat dan tangguh, dan Setiabudi memiliki arti berbudi setia. 

Presiden pertama Republik Indonesia itu berkeinginan nama Danudirja dapat diabadikan sebagai singkatan dari DD menggantikan Douwes Dekker.

Danudirja Setiabudi seorang pejuang kemerdekaan dan pahlawan nasional Indonesia, salah satu sosok penting peletak dasar nasionalisme Indonesia di awal abad ke-20. Ia dianugerahkan Pahlawan Kemerdekaan Nasional sesuai Keppres No. 590 Tahun 1961, tanggal 9 November 1961.

Danudirja Setiabudi adalah salah satu dari "Tiga Serangkai" pejuang pergerakan kemerdekaan Indonesia, selain dr. Tjipto Mangoenkoesoemo dan Suwardi Suryaningrat.

Historis

Pendidikan dasar ditempuhnya di Pasuruan. Sekolah lanjutan pertama-tama diteruskan ke HBS di Surabaya, lalu pindah ke Gymnasium Koning Willem III School, sekolah elit setingkat HBS di Batavia. Selepas lulus sekolah ia bekerja di perkebunan kopi "Soember Doeren" di Malang, Jawa Timur. 

Di sana ia menyaksikan perlakuan semena-mena yang dialami pekerja kebun, dan sering kali membela mereka. Tindakannya itu membuat ia kurang disukai rekan-rekan kerja, namun disukai pegawai-pegawai bawahannya. 

Akibat dari konflik dengan manajernya, ia dipindah ke perkebunan tebu "Padjarakan" di Kraksaan sebagai laboran. Sekali lagi, dia terlibat konflik dengan manajemen karena urusan pembagian irigasi untuk tebu perkebunan dan padi petani. Akibatnya, ia dipecat.

Menganggur dan kematian mendadak ibunya, membuat Nes memutuskan berangkat ke Afrika Selatan pada tahun 1899 untuk ikut dalam Perang Boer Kedua melawan Inggris. Ia bahkan menjadi warga negara Republik Transvaal. 

Lantas beberapa bulan kemudian kedua saudara laki-lakinya, Julius dan Guido, menyusul. Nes tertangkap lalu dipenjara di suatu kamp di Ceylon. 

Di sanalah ia mulai berkenalan dengan sastera India, dan perlahan-lahan pemikirannya mulai terbuka akan perlakuan tidak adil pemerintah kolonial Hindia Belanda terhadap warganya.

Jurnalis yang kritis 

Sosok yang kritis ini namun dipulangkan ke Hindia Belanda pada tahun 1902, dan bekerja sebagai agen pengiriman KPM, perusahaan pengiriman milik negara.

Penghasilannya yang lumayan membuatnya berani menyunting Clara Charlotte Deije, putri seorang dokter asal Jerman yang tinggal di Hindia Belanda, pada tahun 1903.

Kemampuannya menulis laporan pengalaman peperangannya di surat kabar terkemuka membuat ia ditawari menjadi reporter koran Semarang terkemuka, De Locomotief. 

Di sinilah ia mulai merintis kemampuannya dalam berorganisasi. Tugas-tugas jurnalistiknya, seperti ke perkebunan di Lebak dan kasus kelaparan di Indramayu, membuatnya mulai kritis terhadap kebijakan kolonial. 

Ketika ia menjadi staf redaksi Bataviaasch Nieuwsblad, 1907, tulisan-tulisannya menjadi semakin pro kaum Indo dan pribumi. Dua seri artikel yang tajam dibuatnya pada tahun 1908. 

Seri pertama artikel dimuat Februari 1908 di surat kabar Belanda Nieuwe Arnhemsche Courant setelah versi bahasa Jermannya dimuat di koran Jerman Das Freie Wort, "Het bankroet der ethische principes in Nederlandsch Oost-Indie" ("Kebangkrutan prinsip etis di Hindia Belanda").

Kemudian pindah di Bataviaasche Nieuwsblad. Sekitar tujuh bulan kemudian (akhir Agustus) seri tulisan panas berikutnya muncul di surat kabar yang sama, "Hoe kan Holland het spoedigst zijn koloniën verliezen?" ("Bagaimana caranya Belanda dapat segera kehilangan koloni-koloninya?", versi Jermannya berjudul "Hollands kolonialer Untergang"). 

Kembali kebijakan politik etis dikritiknya. Tulisan-tulisan ini membuatnya mulai masuk dalam radar intelijen penguasa. Rumahnya, pada saat yang sama, yang terletak di dekat Stovia menjadi tempat berkumpul para perintis gerakan kebangkitan nasional Indonesia, seperti Sutomo dan Cipto Mangunkusumo, untuk belajar dan berdiskusi. 

Budi Utomo (BO), organisasi yang diklaim sebagai organisasi nasional pertama, lahir atas bantuannya. Ia bahkan menghadiri kongres pertama BO di Yogyakarta.

Aspek pendidikan tak luput dari perhatiannya. Pada tahun 1910 (8 Maret) ia turut membidani lahirnya Indische Universiteit Vereeniging (IUV), suatu badan penggalang dana untuk memungkinkan dibangunnya lembaga pendidikan tinggi (universitas) di Hindia Belanda. Di dalam IUV terdapat orang Belanda, orang-orang Indo, aristokrat Banten dan perwakilan dari organisasi pendidikan kaum Tionghoa THHK.

Pengagas nama Nusantara Abad ke-20

Etimologi kata 'Nusantara' berasal dari dua bahasa Sansekerta, yaitu  "nusa" yang berarti pulau dan  “antara” yang berarti di antara. Menurut banyak ilmuan Indonesia, kata Nusantara pertama  bukan berasal dari Patih Gajah Mada, melainkan dari Raja Kertanegara dari Kerajaan Singasari. 

Saat itu, Kertanegara memperkenalkan konsep Cakrawala Mandala Dwipantara, yang  dalam bahasa Sansekerta, kata “Dwipa” memiliki arti yang sama dengan kata “nusa” yang berarti pulau dan kata “antara” yang memiliki arti yang sama dengan kata “antara”. dalam bahasa Indonesia. Dengan demikian, secara umum kata tersebut berarti “pulau-pulau perantara”. Arti frasa “pulau perantara” sama dengan makna kata “Nusantara”. 

Di sisi lain, ada pula yang mengklaim bahwa kata “Nusantara” pertama kali digunakan pada  abad ke-1 oleh Patih Gajah Mada dalam Sumpah Palapa pada abad ke-1 Kata ini digunakan untuk menyebut pulau-pulau di luar  Jawa.  

Terdapat sumpah berbunyi “Sira Gajah Mada Patih Amangkubhumi tan ayun amuktia palapa, sira Gajah Mada,” lost seagrass huwus in isun amukti palapa nusantara, padang lamun, Seran ring, Tañjung Pura, Haru ring, Pahang ring, Dompo, round Bali, Sunda , Palembang, Tumasik, samana isun amukti palapa. 

Di mana artinya sendiri yaitu, “Dia Gajah Mada Patih Amangkubumi tidak mau berbuka. He Gajah Mada, “Ketika saya mengalahkan nusantara, saya (akan) mematahkan kecepatan saya. Jika saya mengalahkan Gurun, Seran, Tanjung Pura, Haru, Pahang, Dompo, Bali, Sunda, Palembang, Tumasik, seperti, seperti saya akan mematahkan saya kecepatan.” 

Dalam sumpah yang tertulis dalam kitab Negarakertagama itu tertulis bahwa kata Nusantara meliputi pulau Sumatera, Kalimantan, Nusa Tenggara, sebagian  Sulawesi, Maluku dan Papua termasuk  Singapura, Malaysia, Brunei dan sebagian dari Filipina. 

Namun, setelah jatuhnya Kerajaan Majapahit, kata “Nusantara” tidak digunakan lagi sampai abad ke-20. Saat itu, pendiri Taman Siswa, Ki Hajar Dewantara menggunakan istilah “Nusantara” untuk menggantikan penggunaan kata “Hindia Belanda”. 

Hal ini dikarenakan kata Hindia Belanda mengandung unsur  bahasa asing yang dapat menimbulkan kerancuan kata dalam sastra asing. 

Selain kata “Nusantara”, ada istilah lain yang juga digunakan untuk menyebut Pulau Sabang di Merauke, yaitu “Indonesia” (Indonesia) dan “Insulinde” (Kepulauan Hindia). 

Istilah insulin digagas kembali oleh Danudirja Setiabudi pada Abad ke20. Namun, pada tahun 1928, pada Kongres Pemuda Kedua, kata “Indonesia” akhirnya  ditetapkan sebagai gelar nasional. 

Setelah itu, kata “Nusantara” masih digunakan sebagai sinonim untuk kata “Indonesia” dan sering digunakan dalam iklan televisi dan diskusi politik dan tidak dilupakan seperti yang terjadi di masa lalu. 

Merujuk pada jurnal berjudul The Term Indonesia: Its Origin and Usage oleh Justus M. van der Kroef, istilah Nusantara kembali dihidupkan oleh Ki Hajar Dewantara sebagai nama alternatif negara merdeka pelanjut Hindia Belanda. 

Meskipun akhirnya negara ini disetujui memiliki nama 'Indonesia' namun istilah Nusantara masih dikenal hingga saat ini dan menjadi Ibu Kota baru Indonesia yaitu Ibu Kota Nusantara (IKN), di Kabupaten Penajam Paser Utara, Provinsi Kalimantan Timur.
Apakah konten ini bermanfaat?
Dukung dengan memberikan satu kali kontribusi.

Share:
Konten berbasis data.
Kategori konten paling banyak dibaca.
Komentar
Login ke akun RO untuk melihat dan berkomentar.

Terkini

Indeks