![]() |
| Hutan proyek pengendalian penggurunan di Horqin, Sayap Kiri, Kota Tongliao, Daerah Otonomi Mongolia Dalam, Tiongkok utara | @gov.cn |
The State Council Information Office of China (SCIO), Kantor Informasi Dewan Negara Tiongkok melaporkan memanfaatkan teknologi energi baru sebagai penggerak utama pembangunan hijau dan rendah karbon. Inovasi di sektor energi terbarukan menjadi bagian penting dari strategi negeri tirai bambu untuk menekan emisi dan memperkuat ketahanan energi.
Salah satu terobosan terbarunya keberhasilan uji coba sistem tenaga angin di ketinggian menyerupai layang-layang di Mongolia Dalam pada November 2025. Teknologi ini mampu menangkap angin di atas 300 meter menggunakan unit berbentuk payung yang terhubung ke darat. Energi angin tersebut kemudian diubah menjadi listrik melalui proses mekanik.
"Teknologi inovatif ini menangkap energi angin di ketinggian di atas 300 meter menggunakan unit berbentuk payung yang diikatkan ke kabel. Sistem pembangkit listrik tenaga angin di darat dengan struktur 'tangga-payung' ini beroperasi dengan cara naik ke ketinggian, di mana ia akan terbentang untuk memanfaatkan kekuatan angin, dan menggerakkan peralatan di darat, mengubah energi angin terlebih dahulu menjadi energi mekanik dan kemudian menjadi listrik," tulis SCIO dalam laporan resminya, seperti dilansir topik.id, Sabtu (27/12/2025).
Energi angin dataran tinggi dinilai memiliki keunggulan berupa cadangan besar, kepadatan daya tinggi, serta arah angin yang lebih stabil. Menurut China Energy Engineering Group, teknologi ini penting untuk memperluas pemanfaatan tenaga angin dan mendorong industrialisasinya. Inovasi ini membuka potensi baru bagi pembangkit listrik angin darat.
Secara kapasitas, China mencatat pertumbuhan signifikan dalam beberapa tahun terakhir. Pada 2024, tambahan kapasitas tenaga angin mencapai 79,8 juta kilowatt atau lebih dari dua pertiga peningkatan global. Total kapasitas terpasang tenaga angin China pun mencapai 521 juta kilowatt, hampir setengah dari kapasitas dunia.
Kontribusi energi terbarukan terhadap pasokan listrik nasional juga terus meningkat. Pada kuartal pertama 2025, listrik dari tenaga angin dan fotovoltaik mencapai 22,5 persen dari total konsumsi listrik China. Untuk pertama kalinya, kapasitas terpasang angin dan surya melampaui energi termal.
"Pada kuartal pertama tahun 2025, listrik yang dihasilkan dari tenaga angin dan fotovoltaik mencapai 536,4 miliar kilowatt-jam, yang mencakup 22,5 persen dari total penggunaan listrik China, meningkat 4,3 poin persentase dibandingkan tahun sebelumnya," ungkap laporan SCIO.
Kemajuan teknologi energi baru China juga terlihat pada kendaraan energi baru dan industri penyimpanan energi. Penetrasi kendaraan listrik di pasar domestik telah melampaui kendaraan konvensional, didukung jutaan stasiun pengisian daya. Di sisi inovasi, ribuan paten teknologi hijau diberikan setiap tahun dengan pertumbuhan pesat.
Didukung kebijakan iklim jangka panjang, China menargetkan puncak emisi karbon pada 2030 dan netralitas karbon pada 2060. Melalui inovasi teknologi dan pembangunan industri energi bersih, China membentuk “solusi China” yang berpengaruh secara global. Upaya ini menempatkan teknologi sebagai kunci percepatan transisi hijau dan rendah karbon.
"China telah menetapkan kerangka kebijakan pengurangan karbon yang paling sistematis dan komprehensif di dunia, lima tahun setelah mengumumkan target puncak karbon 2030 dan netralitas karbon 2060 pada tahun 2020," terang dalam laporan tersebut.
