Riset: sering pakai AI bisa turunkan keterampilan

Sejumlah profesi seperti penulis teknis, agen perjalanan, dan guru termasuk yang berpotensi terdampak.

author photo
A- A+
Riset: sering pakai AI bisa turunkan keterampilan
cover | topik.id

Penelitian terbaru Anthropic mengungkap potensi penurunan keterampilan kerja akibat penggunaan kecerdasan buatan (AI) secara intensif. Dalam laporan Indeks Ekonomi Anthropic, peneliti menyoroti risiko “deskilling”, yaitu kondisi ketika pekerja kehilangan atau melemahnya keterampilan inti karena tugas-tugas bernilai tinggi semakin sering diotomatisasi oleh AI.

Anthropic menemukan bahwa Claude cenderung paling efektif menangani tugas-tugas yang membutuhkan tingkat keterampilan dan pendidikan lebih tinggi. Tugas-tugas kompleks yang biasanya memerlukan pengetahuan setara pendidikan tinggi justru mengalami percepatan terbesar saat dibantu AI. Kondisi ini memunculkan kekhawatiran bahwa pekerja manusia akan semakin jarang melatih keterampilan tingkat lanjut tersebut.

Jika tugas-tugas berkemampuan tinggi ini sepenuhnya dialihkan ke AI, pekerja berpotensi hanya menyisakan pekerjaan yang lebih rutin dan mekanis. Anthropic menyebut kondisi ini sebagai efek penurunan keterampilan, di mana komposisi pekerjaan manusia bergeser dari aktivitas bernilai kognitif tinggi ke tugas-tugas yang lebih sederhana.

"Kami tidak serta-merta memprediksi bahwa penurunan keterampilan ini akan terjadi: ada kemungkinan bahwa bahkan jika AI sepenuhnya mengotomatiskan tugas-tugas yang saat ini didukungnya, pasar tenaga kerja akan menyesuaikan diri secara dinamis dengan cara yang tidak diperhitungkan oleh analisis ini," tulis Anthropic dalam laporan resminya, seperti dilansir topik.id, Jumat (16/1/2026).

Analisis berbasis data percakapan Claude.ai menunjukkan bahwa tugas yang dicakup AI rata-rata membutuhkan tingkat pendidikan lebih tinggi dibandingkan rata-rata tugas dalam basis data ketenagakerjaan, Occupational Information Network (O*NET). Ketika tugas-tugas tersebut “dihilangkan” secara hipotetis dari pekerjaan manusia, tingkat keterampilan rata-rata suatu profesi cenderung menurun.

Sejumlah profesi seperti penulis teknis, agen perjalanan, dan guru termasuk yang berpotensi terdampak. Dalam simulasi Anthropic, otomatisasi tugas-tugas intelektual pada profesi ini dapat mengurangi porsi pekerjaan yang menuntut analisis mendalam, perencanaan, dan pemikiran abstrak.

"Tentu saja, seiring dengan peningkatan model, komposisi tugas yang dicakup AI juga akan berubah. Meskipun demikian, kami pikir ini menawarkan sinyal yang berguna mengenai dampak paling langsung yang mungkin ditimbulkan AI pada pekerjaan dalam waktu dekat," ungkap Anthropic.

Namun demikian, Anthropic menegaskan bahwa temuan ini bukanlah prediksi pasti. Analisis tersebut mengasumsikan bahwa otomatisasi AI benar-benar menghilangkan tugas-tugas tertentu, padahal dalam praktiknya pasar tenaga kerja dapat beradaptasi. Pekerjaan bisa berevolusi dengan munculnya tugas baru yang belum tercakup dalam analisis saat ini.

Meski masih bersifat indikatif, penelitian ini memberi sinyal awal tentang dampak jangka pendek AI terhadap kualitas keterampilan manusia. Anthropic menilai risiko deskilling perlu diperhatikan sejak dini, terutama oleh pembuat kebijakan, dunia pendidikan, dan perusahaan, agar adopsi AI tidak hanya meningkatkan produktivitas, tetapi juga menjaga dan mengembangkan keterampilan tenaga kerja.

"Selain data dasar kami, kami mengumpulkan data baru mengenai ukuran-ukuran yang telah kami lacak dalam laporan sebelumnya. Hal ini memungkinkan kami untuk mengidentifikasi tren penggunaan AI selama tahun 2025, dari Januari hingga November. Di sini, kami sebagian besar hanya menemukan evolusi kecil dari hasil analisis sebelumnya, yang menunjukkan distribusi penggunaan Claude yang tidak merata," jelas dalam laporan Anthropic tersebut.

Share:
Premium.
Komentar
Komentar sepenuhnya tanggung jawab pengguna dan diatur dalam UU ITE.

Update
Indeks