Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) mengoptimalkan operasi modifikasi cuaca (OMC) untuk membantu menurunkan hujan di wilayah kebakaran hutan dan lahan (karhutla), terutama Kalimantan Tengah dan Sumatera Selatan. Langkah tersebut dilakukan dengan memanfaatkan potensi pertumbuhan awan hujan di sebagian wilayah Sumatra dan Kalimantan pada akhir Oktober 2026.
Pelaksana tugas Kepala Pusat Data, Informasi, dan Komunikasi Kebencanaan BNPB, Berton SP Panjaitan, mengatakan operasi udara diarahkan untuk memanfaatkan peluang terbentuknya hujan dalam beberapa hari ke depan. Keterangan itu disampaikan pada Selasa, 27 Oktober 2026.
Di Kalimantan Tengah, Satgas Udara telah melaksanakan sembilan sorti operasi dengan total bahan semai 14.400 kilogram garam. BNPB menyebut hujan telah turun di sejumlah wilayah secara alami maupun dengan dukungan OMC.
BNPB optimalkan modifikasi cuaca untuk atasi karhutla
BNPB memaksimalkan upaya penyemaian awan ketika kondisi atmosfer mendukung pertumbuhan awan hujan. Operasi tersebut menjadi salah satu langkah tambahan untuk membantu pembasahan lahan dan pemadaman kebakaran.
Berton menyampaikan bahwa prakiraan pertumbuhan awan di Kalimantan dalam lima hari ke depan menjadi peluang bagi Satgas Udara. Pemerintah berupaya memanfaatkan kondisi tersebut untuk menghasilkan hujan sebanyak mungkin di wilayah yang membutuhkan pembasahan.
Namun, modifikasi cuaca bukan metode yang dapat menciptakan hujan tanpa syarat atmosfer. Keberhasilan penyemaian bergantung pada ketersediaan dan karakteristik awan, arah angin, serta kondisi cuaca saat operasi berlangsung.
Sembilan sorti OMC sebar 14.400 kilogram garam di Kalimantan Tengah
Dalam pembaruan 27 Oktober, BNPB menyebut pelaksanaan sembilan sorti penerbangan penyemaian di Kalimantan Tengah dengan total 14.400 kilogram garam. Operasi tersebut juga memperoleh dukungan pesawat Hercules.
Garam atau natrium klorida digunakan sebagai bahan semai untuk membantu proses pembentukan hujan pada awan yang memenuhi kriteria. Penerbangan diarahkan ke wilayah yang dinilai memiliki potensi hujan dan relevan dengan kebutuhan penanganan karhutla.
Jumlah bahan semai dan sorti menggambarkan skala pengerahan operasi, tetapi tidak dengan sendirinya mengukur luas kebakaran yang berhasil dipadamkan. Penilaian hasil tetap memerlukan pemantauan kondisi kebakaran dan curah hujan.
Hujan turun di lima wilayah Kalimantan Tengah
BNPB menyebut hujan telah terjadi di Palangka Raya, Kotawaringin Barat, Kotawaringin Timur, Barito Utara, dan Pulang Pisau. Curah hujan tersebut dilaporkan terjadi secara alami dan dengan dukungan operasi modifikasi cuaca.
Hujan membantu meningkatkan kelembapan permukaan dan dapat mendukung proses pemadaman. Pada lahan gambut, pembasahan menjadi penting karena api dapat menjalar di lapisan bawah permukaan tanah.
Meski demikian, laporan turunnya hujan bukan konfirmasi bahwa seluruh titik kebakaran pada kelima wilayah itu telah padam. Pemantauan lapangan, pemadaman darat, dan pengawasan titik panas tetap diperlukan.
Sumatera Selatan juga menjadi fokus penanganan karhutla
Selain Kalimantan Tengah, pemerintah memprioritaskan penanganan karhutla di Sumatera Selatan. BNPB, BMKG, Kementerian Kehutanan, dan unsur TNI menjalankan berbagai kegiatan penanganan melalui operasi darat dan udara.
Pada Oktober 2026, kabut asap di Palembang sempat mengganggu jarak pandang serta aktivitas penerbangan. BNPB kemudian memindahkan sementara pusat operasi penerbangan penyemaian ke Bandara Depati Amir, Pangkal Pinang, mulai 9 Oktober, untuk memanfaatkan kondisi penerbangan yang lebih memungkinkan.
Pada 9 Oktober, operasi penyemaian dilaksanakan di wilayah Musi Banyuasin dan Banyuasin dengan 1.000 kilogram bahan semai. Sehari kemudian, BNPB menjalankan dua sorti tambahan yang menyasar Banyuasin, Ogan Komering Ilir, dan Ogan Komering Ulu, masing-masing membawa 1.000 kilogram bahan semai.
OMC garam berbeda dari penyemaian dry ice
Dalam penanganan karhutla, pemerintah menggunakan pendekatan modifikasi cuaca yang memiliki sasaran berbeda. Penyemaian garam atau natrium klorida ditujukan untuk mendukung proses hujan pada awan potensial.
Sementara itu, operasi menggunakan dry ice atau es kering diarahkan untuk membantu mengurai kabut asap yang tertahan akibat lapisan inversi atmosfer. BMKG menjelaskan lapisan inversi menghambat pergerakan udara secara vertikal sehingga asap dapat terperangkap dekat permukaan.
BMKG bersama BNPB, Kementerian Kehutanan, TNI, dan unsur lain menerapkan pendekatan dry ice pada Oktober 2026, termasuk di Sumatera Selatan. Kedua teknik tidak boleh disamakan: satu memanfaatkan awan untuk mendukung hujan, sedangkan lainnya ditujukan untuk membantu penyebaran asap.
Hotspot turun, pemadaman tetap berlanjut
Kementerian Kehutanan melaporkan 93 titik panas berkepercayaan tinggi secara nasional hingga Senin, 26 Oktober 2026 pukul 21.00 WIB, turun dari 147 titik sehari sebelumnya.
Pada enam provinsi prioritas, jumlah titik panas berkategori sama turun dari 26 menjadi 10 titik. Kalimantan Barat mencatat lima titik, Kalimantan Tengah tiga titik, dan Sumatera Selatan dua titik. Kalimantan Selatan, Jambi, dan Riau tidak terdeteksi titik panas berkategori tersebut pada waktu pemantauan.
Data titik panas merupakan hasil pemantauan anomali suhu permukaan melalui satelit. Penurunan jumlah titik panas merupakan perkembangan positif, tetapi tidak berarti seluruh kebakaran telah selesai ditangani.
Modifikasi cuaca mendukung pemadaman darat dan udara
Operasi modifikasi cuaca merupakan salah satu bagian dari penanganan karhutla bersama pemadaman darat dan water bombing. Pembasahan melalui hujan dapat membantu petugas menghadapi kebakaran di area yang sulit dijangkau.
Namun, hujan tidak menggantikan kebutuhan pemeriksaan titik api, penyekatan kebakaran, dan pendinginan lahan. Pada kawasan gambut, pemantauan perlu berlanjut karena titik api dapat tersisa di bawah permukaan.
Kerja sama BNPB, BMKG, Kementerian Kehutanan, TNI, pemerintah daerah, dan petugas lapangan dibutuhkan untuk menyesuaikan respons terhadap kondisi kebakaran dan cuaca.
Data operasi dan titik panas karhutla Sumatra-Kalimantan
Berikut sejumlah data resmi yang dilaporkan dalam penanganan karhutla pada Oktober 2026. Periode pengamatan berbeda sehingga angka operasi penerbangan tidak dapat langsung dibandingkan dengan jumlah titik panas.
| Indikator | Lokasi | Data | Periode |
|---|---|---|---|
| Penerbangan OMC | Kalimantan Tengah | 9 sorti | Dilaporkan 27 Oktober 2026 |
| Bahan semai garam | Kalimantan Tengah | 14.400 kg | Dilaporkan 27 Oktober 2026 |
| Hujan terlapor | Palangka Raya, Kotawaringin Barat, Kotawaringin Timur, Barito Utara, Pulang Pisau | 5 wilayah | Dilaporkan 27 Oktober 2026 |
| Hotspot kepercayaan tinggi | Nasional | 93 titik | 26 Oktober pukul 21.00 WIB |
| Hotspot kepercayaan tinggi | Kalimantan Barat | 5 titik | 26 Oktober pukul 21.00 WIB |
| Hotspot kepercayaan tinggi | Kalimantan Tengah | 3 titik | 26 Oktober pukul 21.00 WIB |
| Hotspot kepercayaan tinggi | Sumatera Selatan | 2 titik | 26 Oktober pukul 21.00 WIB |
| Hotspot kepercayaan tinggi | Kalimantan Selatan, Jambi, Riau | 0 titik terdeteksi | 26 Oktober pukul 21.00 WIB |
Angka OMC bersumber dari keterangan BNPB 27 Oktober 2026; data hotspot dari pemantauan SiPongi Kementerian Kehutanan 26 Oktober 2026. Titik panas adalah indikasi anomali suhu satelit, bukan jumlah kebakaran yang terkonfirmasi.
BNPB maksimalkan peluang hujan untuk pengendalian karhutla
BNPB memanfaatkan potensi pertumbuhan awan untuk mendukung penanganan karhutla di Kalimantan Tengah dan Sumatera Selatan. Penyemaian awan dilakukan ketika kondisi atmosfer memungkinkan, dengan harapan hujan dapat membantu pembasahan dan pemadaman.
Hujan yang dilaporkan terjadi di lima wilayah Kalimantan Tengah merupakan perkembangan penting, tetapi keberhasilan penanganan karhutla tetap harus dinilai melalui pemantauan di lapangan. Pemerintah melanjutkan kombinasi operasi darat, pemadaman udara, dan pemantauan titik panas.





