Harga minyak dunia hari ini, Selasa (27/10/2026), bergerak menguat setelah sempat melemah pada awal perdagangan. Minyak mentah Brent berada di US$116,26 per barel, sementara West Texas Intermediate (WTI) Amerika Serikat naik menjadi US$102,16 per barel.
Mengacu pada laporan Reuters pukul 09.18 GMT atau 16.18 WIB, kontrak berjangka Brent naik 45 sen atau 0,39 persen. WTI menguat 40 sen atau 0,39 persen dibandingkan penutupan sebelumnya.
Kedua acuan berbalik naik setelah sempat turun sekitar satu persen pada awal perdagangan. Pasar mencermati diplomasi untuk meredakan konflik Timur Tengah, bersamaan dengan kekhawatiran keamanan distribusi energi.
Arab Saudi, Turki, dan Pakistan menggelar pembicaraan dengan Iran di Teheran pada Senin (26/10/2026), sementara laporan mengenai serangan kelompok Houthi dan keamanan pelayaran di kawasan Teluk masih menjadi perhatian.
Harga minyak Brent dan WTI hari ini
Brent menjadi salah satu acuan perdagangan minyak internasional, sedangkan WTI digunakan sebagai acuan utama minyak mentah Amerika Serikat. Pada 16.18 WIB, Brent diperdagangkan di US$116,26 dan WTI US$102,16 per barel, keduanya meningkat sekitar 0,39 persen.
| Jenis minyak | Harga per barel | Perubahan | Persentase |
|---|---|---|---|
| Brent | US$116,26 | Naik US$0,45 | +0,39% |
| WTI | US$102,16 | Naik US$0,40 | +0,39% |
Data Reuters 27 Oktober 2026 pukul 09.18 GMT, bukan harga penutupan akhir.
Selisih kedua acuan saat pengamatan mencapai US$14,10 per barel. Perbedaan harga dapat dipengaruhi kualitas minyak, lokasi penyerahan, pasokan, dan permintaan. Angka tersebut merupakan harga kontrak berjangka saat pengamatan, bukan harga penutupan akhir 27 Oktober.
Harga minyak dunia sempat turun pada awal perdagangan
Reuters mencatat pada pukul 00.00 GMT Brent turun 66 sen atau 0,57 persen menjadi US$115,15 per barel, sementara WTI melemah 44 sen atau 0,43 persen menjadi US$101,32 per barel.
| Waktu perdagangan | Brent | WTI |
|---|---|---|
| 00.00 GMT / 07.00 WIB | US$115,15 | US$101,32 |
| 07.18 GMT / 14.18 WIB | US$116,24 | US$102,07 |
| 09.18 GMT / 16.18 WIB | US$116,26 | US$102,16 |
Penurunan berlangsung ketika pasar merespons harapan meredanya konflik melalui jalur diplomasi. Namun, perkembangan keamanan kawasan tetap menjadi perhatian.
Pada 07.18 GMT, Brent kembali naik ke US$116,24 per barel dan WTI US$102,07 per barel. Penguatan berlanjut sampai pukul 09.18 GMT ketika Brent mencapai US$116,26 dan WTI US$102,16.
Diplomasi Arab Saudi, Turki dan Pakistan dengan Iran jadi perhatian
Arab Saudi, Turki, dan Pakistan menggelar pembicaraan dengan pejabat Iran di Teheran pada Senin, 26 Oktober 2026. Pertemuan tersebut dilaporkan membahas peredaan ketegangan dan keamanan kawasan.
Perkembangan diplomatik menjadi perhatian pasar karena konflik dapat mengganggu produksi, pengiriman, maupun perdagangan energi. Namun, perundingan tidak otomatis memastikan penyelesaian konflik atau pemulihan aliran minyak.
Pelaku pasar tetap harus mempertimbangkan risiko keamanan aktual dan kondisi distribusi dari kawasan penghasil minyak.
Serangan Houthi terhadap Arab Saudi masih membayangi pasokan minyak
Kelompok Houthi dari Yaman mengklaim menyerang fasilitas pemompaan pada jaringan pipa East-West Arab Saudi dan bandara di Riyadh pada akhir pekan sebelumnya.
Reuters melaporkan klaim tersebut belum memperoleh konfirmasi langsung dari Arab Saudi ketika laporan diterbitkan. Karena itu, klaim serangan tidak dapat langsung disamakan dengan kerusakan fasilitas atau penurunan volume ekspor.
Namun, infrastruktur minyak Arab Saudi penting bagi distribusi energi internasional sehingga perkembangan keamanan menjadi perhatian pasar.
Selat Hormuz menjadi perhatian pasar minyak global
Selat Hormuz merupakan jalur pelayaran strategis yang menghubungkan kawasan Teluk dengan pasar internasional. Reuters melaporkan serangan terhadap kapal tanker di sekitar jalur tersebut dan gangguan keamanan pelayaran komersial.
Arus pengiriman melalui Hormuz dilaporkan sekitar 60 persen dari tingkat normal, sementara ekspor minyak mentah dari kawasan Teluk mengalami penurunan selama empat pekan berturut-turut.
Risiko pengiriman dapat menambah hambatan logistik dan biaya. Dampak akhirnya terhadap harga tetap dipengaruhi pasokan alternatif, persediaan, dan permintaan global.
Brent masih berada dekat level tertinggi enam bulan
Reuters melaporkan Brent sempat menembus US$117 per barel pada pekan sebelumnya, level tertinggi sejak April 2026. Kenaikan didorong kekhawatiran terhadap keamanan pasokan.
Pada Senin, 26 Oktober, Brent ditutup melemah 91 sen atau sekitar 0,8 persen di US$115,81 per barel. WTI turun US$1,51 atau 1,46 persen menjadi US$101,76 per barel.
Koreksi tersebut terjadi setelah Brent mengalami kenaikan mingguan sekitar enam persen. Pada perdagangan Selasa, Brent dan WTI kembali menguat dari penutupan sebelumnya.
Harga minyak dipengaruhi risiko pasokan dan harapan perdamaian
Pasar minyak pada 27 Oktober menghadapi dua pengaruh yang berlawanan: pembicaraan diplomatik yang membuka peluang penurunan ketegangan, dan laporan gangguan keamanan yang menimbulkan kekhawatiran terhadap pasokan.
Selain risiko geopolitik, pelaku pasar mencermati persediaan produk minyak olahan. Reuters melaporkan persediaan distilat berada hampir lima persen di bawah rata-rata lima tahun. Distilat mencakup antara lain diesel dan minyak pemanas.
Harga minyak mentah dunia juga dipengaruhi tingkat permintaan, arus ekspor produsen utama, dan ketersediaan persediaan. Karena itu, fluktuasi tidak dapat dijelaskan oleh satu perkembangan saja.
Apa dampak kenaikan harga minyak dunia bagi Indonesia?
Harga minyak internasional menjadi indikator penting bagi perekonomian Indonesia karena memengaruhi biaya pengadaan minyak mentah dan produk bahan bakar. Indonesia masih membutuhkan impor minyak maupun produk olahan tertentu.
Namun, kenaikan harga minyak internasional tidak otomatis menyebabkan harga BBM domestik naik pada hari yang sama. Harga beberapa jenis BBM ditentukan lewat kebijakan pemerintah, sedangkan produk nonsubsidi mengikuti mekanisme penetapan harga badan usaha.
Dampaknya terhadap APBN juga mencakup penerimaan sektor migas serta belanja subsidi dan kompensasi energi. Kurs rupiah terhadap dolar AS turut berperan karena perdagangan minyak internasional lazim menggunakan dolar AS.
Harga minyak dunia masih berfluktuasi menjelang perdagangan berikutnya
Brent dan WTI sempat melemah pada awal sesi Selasa sebelum berbalik menguat. Perubahan arah terjadi di tengah perhatian terhadap diplomasi Timur Tengah dan risiko distribusi energi.
Harga kontrak berjangka dapat berubah selama sesi perdagangan. Karena itu, laporan harga harus disertai waktu pengamatan serta dibedakan dari harga penutupan.
Perkembangan perundingan, keamanan infrastruktur minyak, pelayaran Selat Hormuz, dan persediaan energi menjadi faktor yang terus dicermati pelaku pasar.
Harga minyak dunia hari ini Brent US$116,26 dan WTI US$102,16
Harga minyak dunia Selasa, 27 Oktober 2026, menguat dengan Brent US$116,26 dan WTI US$102,16 per barel pada pukul 16.18 WIB. Keduanya naik sekitar 0,39 persen setelah sempat melemah pada awal sesi.
| Indikator | Nilai |
|---|---|
| Harga Brent | US$116,26 per barel |
| Kenaikan Brent | 0,39% |
| Harga WTI | US$102,16 per barel |
| Kenaikan WTI | 0,39% |
| Selisih Brent dan WTI | US$14,10 per barel |
| Waktu pengamatan | 16.18 WIB |
| Penutupan Brent 26 Oktober | US$115,81 per barel |
| Penutupan WTI 26 Oktober | US$101,76 per barel |
Pergerakan harga dipengaruhi perkembangan diplomatik serta kekhawatiran gangguan keamanan pasokan dari Timur Tengah. Berikut ringkasan data perdagangan dan pembanding penutupan sehari sebelumnya.
Harga perdagangan 27 Oktober merupakan pembaruan pukul 09.18 GMT. Penutupan 26 Oktober berasal dari sesi sebelumnya dan bukan penutupan 27 Oktober.
Harga minyak dunia bergerak di tingkat tinggi seiring ketidakpastian pasokan serta perkembangan diplomasi Timur Tengah. Arah berikutnya bergantung pada keadaan keamanan, pengiriman, permintaan, dan pasokan global.








