Tepat pada peringatan ulang tahun ke-75 Presiden Prabowo Subianto, Indonesia juga merayakan genap dua tahun masa kepemimpinan Presiden Prabowo bersama Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka.
Momen ini dimanfaatkan pemerintah untuk merefleksikan berbagai langkah strategis nasional. Fokus utama perekonomian diarahkan pada percepatan hilirisasi, industrialisasi, serta kemandirian energi guna meningkatkan kesejahteraan masyarakat.
Wakil Menteri Investasi dan Hilirisasi sekaligus Wakil Kepala BKPM, Todotua Pasaribu, menjelaskan bahwa pencapaian program strategis ini menunjukkan tren positif. Hal tersebut disampaikan bertepatan dengan hari ulang tahun Kepala Negara.
“Memasuki dua tahun pemerintahan Presiden Prabowo Subianto, program hilirisasi menunjukkan peningkatan signifikan dan semakin memperbesar kontribusinya terhadap investasi nasional,” ujar Todotua dikutip Sabtu (17/10/2026).
Kementerian Investasi dan Hilirisasi/BKPM di bawah kepemimpinan Menteri Rosan Roeslani mencatatkan kinerja investasi yang berkelanjutan. Jajaran kementerian menegaskan bahwa hilirisasi berfungsi sebagai instrumen penting untuk mewujudkan amanat konstitusi demi kemakmuran rakyat.
Tren pertumbuhan investasi nasional terpantau solid. Sepanjang semester I 2026, realisasi investasi di Tanah Air menyentuh angka Rp 1.010,6 triliun, yang mencatatkan pertumbuhan 7,2 persen secara tahunan serta menyerap lebih dari 1,4 juta tenaga kerja.
Dampak Nyata di Daerah
Dampak kebijakan hilirisasi kini dirasakan langsung di berbagai daerah, salah satunya Maluku Utara yang bertransformasi menjadi pusat industri pengolahan. Ragam produk ekspor daerah tersebut kini semakin luas, mulai dari feronikel, nickel matte, mixed hydroxide precipitate (MHP), nickel sulfate, hingga kobalt.
Transformasi ini melanjutkan keberhasilan serupa yang sebelumnya telah berjalan di Morowali, Sulawesi Tengah. Menurut Todotua, keberhasilan hilirisasi tidak hanya diukur dari besaran nilai investasi, melainkan harus mendatangkan efek ganda bagi tenaga kerja lokal dan pelaku usaha daerah.
Pemerintah juga memandang pentingnya pemikiran ekonomi masa lalu untuk menginspirasi pembangunan industri saat ini. Semangat memperkuat investasi domestik dan kemandirian industri dinilai relevan dalam mengakselerasi transformasi ekonomi nasional.
Sinergi Hilirisasi dan Transisi Energi
Ketersediaan pasokan energi yang andal menjadi fondasi penting bagi sektor industri pengolahan. Oleh karena itu, percepatan hilirisasi berjalan berdampingan dengan penguatan ketahanan energi serta transisi menuju energi hijau.
Salah satu langkah besar dalam dua tahun masa bakti ini adalah peluncuran program biodiesel B50 oleh Presiden Prabowo pada Juli 2026. Program tersebut memanfaatkan sumber daya dalam negeri guna memperkuat kemandirian energi.
Kementerian Investasi turut membuka ruang bagi investor global maupun domestik untuk menggarap potensi Energi Baru Terbarukan, seperti tenaga surya, hidro, dan panas bumi, serta mengoptimalkan mineral kritis.
Kepastian hukum dan kemudahan regulasi menjadi faktor penarik utama bagi para investor sektor energi hijau. Pemerintah berharap langkah ini mampu meningkatkan efisiensi industri dan mendongkrak daya saing produk Indonesia di kancah global.
Menyongsong masa depan, jajaran Kementerian Investasi dan Hilirisasi berkomitmen menjadikan transisi energi dan hilirisasi sebagai roda penggerak utama pembangunan.
“Transisi energi tidak seharusnya menjadi beban pembangunan. Sebaliknya, transisi energi harus menjadi jendela menuju ketahanan energi, peningkatan daya saing industri, dan kemakmuran nasional,” pungkas Todotua.









