Topik.id — Jaringan 5G menawarkan koneksi internet berkecepatan tinggi, latensi rendah, serta kemampuan menghubungkan lebih banyak perangkat. Namun, untuk mempertahankan kualitas layanan tersebut, operator telekomunikasi membutuhkan teknologi yang mampu membaca perubahan kondisi jaringan dan mengambil langkah penyesuaian dengan cepat. Salah satu teknologi yang berperan dalam proses tersebut adalah kecerdasan buatan atau Artificial Intelligence (AI).
Bagi Telkomsel, penerapan AI dan Machine Learning menjadi bagian dari upaya meningkatkan efisiensi pengelolaan jaringan sekaligus menjaga pengalaman pelanggan. Teknologi ini membantu operator memperkirakan kebutuhan kapasitas, mengenali potensi gangguan, dan mengatur sumber daya jaringan berdasarkan pola penggunaan. Lantas, apa saja alasan AI semakin dibutuhkan dalam pengoperasian jaringan 5G Telkomsel?
AI Membaca Lonjakan Trafik Sebelum Jaringan Padat
Konsumsi data pelanggan tidak selalu berada pada tingkat yang sama. Trafik dapat meningkat tajam ketika masyarakat berkumpul di lokasi wisata, menghadiri acara besar, atau melakukan perjalanan mudik. Tanpa perencanaan yang tepat, lonjakan tersebut berpotensi memengaruhi kualitas koneksi.
Pengalaman Telkomsel selama Ramadan dan Idulfitri 2026 memperlihatkan tantangan itu. Pada periode RAFI 2026, trafik data mencapai puncak 70,4 petabyte atau meningkat 13,4 persen dibandingkan hari normal.
Melalui analitik dan pemodelan Machine Learning, Telkomsel menentukan wilayah yang membutuhkan penguatan jaringan. Pendekatan tersebut membantu operator mengalokasikan sumber daya berdasarkan perkiraan kebutuhan pelanggan.
Deteksi Gangguan Bisa Dilakukan Lebih Cepat
Gangguan jaringan dapat muncul dari berbagai faktor dan memengaruhi kualitas layanan di lokasi tertentu. Karena itu, kecepatan mengenali masalah menjadi salah satu aspek penting dalam menjaga keandalan koneksi.
Telkomsel memanfaatkan AI melalui Autonomous Network untuk memprediksi dan membantu menangani potensi gangguan secara real-time. Sistem ini mendukung proses pemantauan jaringan yang lebih otomatis sehingga penanganan masalah dapat dilakukan lebih cepat.
Dalam pelaksanaan RAFI 2026, Telkomsel melaporkan ketersediaan layanan di titik prioritas mencapai 99,7 persen. Sebanyak 94,4 persen gangguan jaringan di titik tersebut juga berhasil diselesaikan sesuai target waktu.
Pengelolaan Adaptif Menunjang Performa 5G
Teknologi 5G tidak hanya mengandalkan kecepatan unduh. Kapasitas koneksi yang lebih besar dan latensi rendah juga menuntut pengelolaan jaringan yang mampu menyesuaikan diri dengan perubahan kebutuhan pengguna.
AI membantu menganalisis kondisi jaringan dan mengoptimalkan penggunaan sumber daya. Teknologi ini tidak secara langsung membuat sinyal menjadi lebih cepat, tetapi membantu operator menjaga performa jaringan ketika permintaan layanan berubah.
Saat RAFI 2026, sejumlah kota mencatat pertumbuhan trafik lebih dari 100 persen dibandingkan periode sebelumnya. Kondisi tersebut menunjukkan pentingnya perencanaan jaringan yang didukung analisis data.
Tambahan Spektrum Memperkuat Kebutuhan Optimasi
Telkomsel memperoleh tambahan spektrum 100 MHz pada pita 700 MHz dan 2,6 GHz yang akan dimanfaatkan secara bertahap sesuai kebutuhan pasar dan pertimbangan investasi.
Direktur Keuangan dan Manajemen Risiko Telkomsel, Daru Mulyawan, menyatakan tambahan spektrum tersebut akan memperkuat kapasitas dan kualitas jaringan sekaligus mendukung pengembangan 5G.
Dengan kapasitas yang bertambah, AI dapat membantu operator menentukan pemanfaatan sumber daya secara lebih efisien. Bagi pelanggan, upaya ini ditujukan untuk mendukung koneksi yang lebih andal, terutama ketika trafik meningkat.
Pada akhirnya, AI menjadi teknologi pendukung agar jaringan 5G Telkomsel dapat beroperasi lebih adaptif. Manfaatnya bukan sekadar mengejar kecepatan, melainkan membantu menjaga kestabilan layanan dan mempercepat penanganan gangguan ketika kebutuhan konektivitas terus berkembang.


