Awas hoax! pesan yang diteruskan di WhatsApp, begini cek faktanya

Ardi Nugraha

Mencegah penyalahgunaan WhatsApp yang terkoordinasi. Memberdayakan pengguna untuk menangkal misinformasi.

Waspada hoax | foto: topik.id
Maraknya hoax atau berita palsu, merupakan informasi tidak benar, berita bohong, atau fakta yang diplintir atau direkayasa untuk tujuan tertentu menjelang Pemilu 2024 di Indonesia.

Seperti penelusuran topik.id, Jumat (26/1/2024) dari laman resmi bantuan WhatsApp, menjelaskan sebagai layanan pesan pribadi yang ditujukan untuk membantu pengguna berbicara dengan bebas, pihak WhatsApp menyadari bahwa lembaga demokrasi melindungi hak ini. 
"Kami tetap berkomitmen mengatasi penyalahgunaan sekaligus melindungi privasi pengguna. Kami memiliki tim yang berdedikasi mencegah penyalahgunaan dengan berfokus secara khusus pada tiga lini upaya. Mempertahankan sifat privat WhatsApp. Mencegah penyalahgunaan WhatsApp yang terkoordinasi. Memberdayakan pengguna untuk menangkal misinformasi," keterangan tertulis di pusat bantuan WhatsApp.
WhatsApp beroperasi dengan cara yang berbeda dari media sosial publik yang lain. Oleh karena itu, platform yang dinaungi oleh Meta Inc itu telah mengembangkan pendekatan dalam hal menyediakan layanan perpesanan yang privat. 

"Misalnya, layanan kami tidak dirancang sebagai platform untuk mengembangkan pemirsa. Layanan kami tidak menggunakan algoritma untuk memprioritaskan urutan pesan yang diterima. Di dalam aplikasi tidak ada fitur untuk mencari atau menemukan pengguna atau grup yang tidak terhubung," terangnya.

Para pengguna biasanya menggunakan WhatsApp untuk berkomunikasi dengan orang yang sudah dikenal. Pengguna perlu memiliki nomor telepon mereka agar dapat menghubungi. Sebagian besar pesan yang dikirim di WhatsApp adalah percakapan individual yang hanya melibatkan satu lawan bicara.

Lantas bagaimana cara mengecek fakta dari pesan informasi yang diteruskan di WhatsApp? Berikut enam indikatornya yang di lansir dari laman resmi bantuan WhatsApp:   

1. Label diteruskan: WhatsApp menyediakan label untuk pesan terusan dan pesan yang telah diteruskan berulang kali. Indikator ini membantu pengguna mengetahui apabila pesan yang mereka terima tidak dibuat oleh orang yang mengirimnya. Pesan ini dapat menjadi calon sumber misinformasi.

2. Blokir dan laporkan: Berbeda dengan SMS biasa, WhatsApp menyediakan cara mudah bagi pengguna untuk memblokir akun. Pengguna juga dapat membuat laporan ke WhatsApp dengan mudah jika menemui pesan bermasalah. WhatsApp memblokir sebagian besar akun yang menyalahgunakan aplikasi melalui deteksi otomatis.

Namun, laporan dari pengguna membantu WhatsApp mengidentifikasi keterlibatan akun dalam pengiriman pesan massal atau penyalahgunaan terkoordinasi. Kemudian, WhatsApp dapat menyelidiki lebih lanjut untuk mencegah timbulnya masalah. 

Baru-baru ini, WhatsApp mengumumkan fitur privasi tambahan bagi pengguna. Fitur ini termasuk keluar dari grup WhatsApp secara diam-diam tanpa diketahui anggota grup.

3. Cari di web: WhatsApp menyediakan cara mudah untuk memeriksa kembali pesan yang telah diteruskan berkali-kali. Fitur ini membantu pengguna menemukan hasil pencarian berita atau sumber informasi lain tentang konten yang telah diterima. Fitur ini memungkinkan pengguna untuk mengetuk ikon kaca pembesar yang mengunggah pesan melalui browser mereka.

4. Mendukung pemeriksaan fakta: WhatsApp telah bermitra dengan Jaringan Pemeriksa Fakta Internasional (IFCN - International Fact-Checking Network) untuk menyediakan pemeriksa fakta bersertifikat di WhatsApp. 

Fitur ini memungkinkan pemeriksaan fakta langsung melalui pesan yang terenkripsi secara end-to-end. Melalui kemitraan ini, lebih dari 50 organisasi pemeriksa fakta menggunakan WhatsApp untuk membantu menghubungkan pengguna dengan informasi yang andal. 

WhatsApp juga terus memberdayakan organisasi pemeriksa fakta dan memastikan mereka memiliki sumber daya yang dibutuhkan untuk memerangi misinformasi.

5. Kampanye dan kemitraan pendidikan publik: WhatsApp mendorong pengguna untuk menelaah pesan yang telah mereka terima dan memverifikasi fakta melalui sumber resmi yang tepercaya. 

WhatsApp telah meluncurkan kampanye edukasi skala besar untuk mengatasi misinformasi di beberapa negara, termasuk kampanye “Share Joy, Not Rumours”.

6. Pendaftaran pemilih dan informasi pemungutan suara: WhatsApp mendorong partisipasi masyarakat sipil agar mereka dapat menggunakan hak demokrasinya. Misalnya, di beberapa negara, masyarakat perlu secara proaktif mendaftar untuk memilih sebelum pemilihan umum digelar. 

Itulah alasan WhatsApp terus bekerja sama dengan pemeriksa fakta di sejumlah negara menjelang pemilu. Hal ini akan memastikan para pemilih memiliki informasi andal tentang cara mendaftar pemilu dan tempat pemilu.

Apakah konten ini bermanfaat?
Dukung dengan memberikan satu kali kontribusi.

Share:
Konten berbasis data.
Kategori konten paling banyak dibaca.
News Terkini
Lihat semua
Komentar
Login ke akun RO untuk melihat dan berkomentar.

Terkini

Indeks