![]() |
| CEO Telegram, Pavel Durov | dok: @telegram |
Telegram mulai menghadirkan kemampuan ringkasan otomatis berbasis kecerdasan buatan (AI) untuk meningkatkan pengalaman membaca pengguna. Postingan panjang di saluran kini dapat diringkas hanya dengan satu ketukan, sementara artikel yang dibuka melalui fitur Tampilan Instan akan menampilkan ringkasan AI di bagian atas halaman.
"Postingan panjang di saluran dapat langsung diringkas hanya dengan satu ketukan. Artikel dalam Tampilan Instan akan menampilkan ringkasan AI di bagian atas halaman," tulis Telegram dalam pengumuman resminya, Senin (19/1/2026).
Fitur ringkasan tersebut dijalankan menggunakan model AI sumber terbuka yang beroperasi di atas jaringan terdesentralisasi Cocoon. Telegram menyebut pendekatan ini dirancang untuk memaksimalkan privasi, karena seluruh proses komputasi berlangsung tanpa ketergantungan pada penyedia layanan terpusat.
"Ringkasan menggunakan model AI sumber terbuka yang berjalan pada jaringan terdesentralisasi Cocoon.org untuk memaksimalkan privasi," ungkap Telegram.
Sebelumnya, CEO Telegram Pavel Durov telah mengumumkan peluncuran jaringan komputasi rahasia terdesentralisasi bernama Cocoon. Kini, jaringan tersebut resmi aktif dan mulai memproses permintaan AI dari pengguna Telegram dengan klaim kerahasiaan penuh dalam setiap tahap komputasi.
Dalam pernyataannya, Durov juga mengungkapkan bahwa para pemilik Graphics Processing Unit (GPU) yang berpartisipasi di jaringan Cocoon sudah mulai menerima imbalan berupa The Open Network (TON). TON merupakan blockchain dan mata uang kripto yang dikembangkan komunitas open-source, yang awalnya digagas oleh Telegram.
Cocoon diposisikan sebagai alternatif terhadap penyedia komputasi terpusat seperti Amazon dan Microsoft. Menurut Durov, model lama tersebut tidak hanya mahal secara biaya, tetapi juga berpotensi mengurangi privasi pengguna karena adanya perantara dalam proses komputasi AI.
"Penyedia komputasi terpusat seperti Amazon dan Microsoft bertindak sebagai perantara mahal yang menaikkan harga dan mengurangi privasi. Cocoon memecahkan masalah ekonomi dan kerahasiaan yang terkait dengan penyedia komputasi AI lama," jelas Durov.
Peluncuran Cocoon ditandai dengan aktivasi situs resminya dan menjadi sinyal kesiapan Telegram membangun ekosistem komputasi mandiri. Dengan arsitektur terdesentralisasi, teknologi ini memungkinkan pemrosesan AI berlangsung tanpa pihak ketiga yang dapat mengakses data pengguna, sejalan dengan komitmen privasi Telegram sejak awal berdiri.
Ke depan, Telegram berencana meningkatkan kapasitas jaringan Cocoon dengan menambah pasokan GPU dan mendorong partisipasi pengembang. Durov menegaskan, fitur-fitur AI baru akan segera hadir di Telegram dengan tetap mempertahankan standar kerahasiaan 100%, sebagai upaya mengembalikan kendali dan privasi sepenuhnya ke tangan pengguna.
"Sekarang kami sedang mengembangkannya. Selama beberapa minggu ke depan, kami akan menambahkan lebih banyak pasokan GPU dan meningkatkan permintaan pengembang untuk Cocoon. Pengguna Telegram dapat mengharapkan fitur-fitur baru terkait AI yang dibangun di atas kerahasiaan 100%. Cocoon akan mengembalikan kendali dan privasi ke tempatnya semula — bersama pengguna," tutup Durov.
