![]() |
cover | topik.id |
Pada 7 September 2025 mendatang, Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) memprediksi akan terjadi Gerhana Bulan Total (GBT) yang dapat diamati dari wilayah Indonesia. Peristiwa ini merupakan salah satu dari empat gerhana yang akan terjadi sepanjang tahun 2025, terdiri atas dua gerhana Bulan dan dua gerhana Matahari.
"Gerhana Bulan Total (GBT) 7 September 2025 yang dapat diamati dari Indonesia," tulis BMKG dalam laporan resminya, dilansir Jumat (29/8/2025).
Gerhana Bulan Total memiliki keunikan tersendiri. Saat puncak gerhana berlangsung, Bulan akan tampak berwarna merah gelap hingga jingga, sebuah fenomena yang dikenal dengan istilah "Blood Moon". Warna merah ini muncul akibat hamburan Rayleigh di atmosfer Bumi, di mana cahaya biru dengan panjang gelombang pendek tersebar lebih banyak, sedangkan cahaya merah dengan panjang gelombang panjang dapat menembus atmosfer dan sampai ke permukaan Bulan.
BMKG menjelaskan, peristiwa gerhana semacam ini dapat diprediksi jauh-jauh hari karena merupakan bagian dari dinamika pergerakan benda-benda langit. Hal ini sekaligus menunjukkan betapa teraturnya mekanisme alam semesta, sehingga manusia dapat memperkirakan kapan gerhana terjadi dengan sangat akurat.
Selain GBT pada September, tahun 2025 juga akan disemarakkan oleh gerhana-gerhana lain. Di antaranya Gerhana Bulan Total pada 14 Maret 2025 yang fase akhirnya sempat terlihat dari sebagian wilayah Indonesia Timur, Gerhana Matahari Sebagian pada 29 Maret 2025 yang tidak bisa disaksikan dari Indonesia, serta Gerhana Matahari Sebagian pada 21 September 2025 yang juga tidak teramati dari tanah air.
Gerhana Bulan maupun gerhana Matahari sama-sama merupakan fenomena astronomi yang menarik, namun keduanya memiliki perbedaan mendasar. Gerhana Bulan terjadi saat Bumi menghalangi cahaya Matahari menuju Bulan, sementara gerhana Matahari terjadi ketika Bulan menghalangi cahaya Matahari menuju Bumi. Peristiwa gerhana Matahari hanya bisa terjadi pada fase bulan baru, sedangkan gerhana Bulan selalu terjadi pada fase purnama.
Bagi masyarakat Indonesia, momen GBT 7 September 2025 menjadi kesempatan langka untuk menyaksikan keindahan langit malam. Jika cuaca cerah dan langit bebas dari polusi cahaya, pengamat dapat melihat Bulan berwarna merah dengan mata telanjang tanpa memerlukan alat bantu khusus. Namun, menggunakan teleskop atau kamera akan membuat pengamatan semakin menarik dan detail.
"Gerhana Matahari Sebagian (GMS) 21 September 2025 yang tidak dapat diamati dari Indonesia," jelasnya.
Sebagai lembaga pemerintah, BMKG tidak hanya bertugas memberikan informasi cuaca, iklim, dan gempa bumi, tapi memberikan layanan tanda waktu dan fenomena astronomi. Informasi mengenai gerhana yang disampaikan BMKG bertujuan agar masyarakat dapat mengetahui, memahami, dan menikmati fenomena alam ini dengan aman.