Telegram catat 44.085.169 grup dan channel diblokir

Telegram juga menerapkan kebijakan tanpa toleransi terhadap Materi Pelecehan Seksual terhadap Anak atau CSAM.

author photo
A- A+
Telegram catat 44.085.169 grup dan channel diblokir
cover | topik.id

Telegram terus memperketat moderasi dengan memblokir puluhan ribu grup dan kanal setiap hari. Langkah ini dilakukan untuk menekan penyebaran konten yang melanggar Ketentuan Layanan platform. Jenis pelanggaran mencakup hasutan kekerasan, materi ilegal, hingga eksploitasi anak.

Sejak 2015, Telegram mengombinasikan laporan pengguna dengan pemantauan proaktif berbasis teknologi. Sistem ini memungkinkan deteksi dini terhadap aktivitas mencurigakan di grup maupun channel publik. Pendekatan tersebut menjadi fondasi kebijakan moderasi berkelanjutan Telegram.

Pada awal 2024, upaya moderasi diperkuat melalui penerapan alat berbasis kecerdasan buatan. Teknologi AI mutakhir ini dirancang untuk meningkatkan akurasi dan kecepatan identifikasi konten berbahaya. Hasilnya, proses penindakan menjadi lebih efisien dalam skala besar.

Sepanjang 2025, Telegram mencatat sebanyak 44.085.169 grup dan channel telah diblokir. Angka ini dari intensitas pengawasan yang terus ditingkatkan seiring pertumbuhan pengguna global. Mayoritas penindakan dilakukan terhadap kanal publik dengan pelanggaran berat.

"Moderasi telah menggabungkan laporan pengguna dengan pemantauan proaktif yang ditenagai machine learning. Pada awal tahun 2024, upaya ini diperkukuh dengan alat moderasi AI yang mutakhir. 44.085.169 grup dan channel diblokir tahun 2025," tulis Telegram dalam laporan resminya, seperti dikutip topik.id, Senin (5/1/2026).

Telegram juga menerapkan kebijakan tanpa toleransi terhadap Materi Pelecehan Seksual terhadap Anak atau CSAM. Sejak 2018, seluruh gambar publik diperiksa otomatis menggunakan database hash CSAM. Sistem ini dikembangkan oleh moderator Telegram selama lebih dari satu dekade.

"Telegram menerapkan kebijakan tanpa toleransi terhadap Materi Pelecehan Seksual terhadap Anak (CSAM). Sejak tahun 2018, gambar publik secara otomatis diperiksa berdasarkan database hash CSAM yang dilarang oleh moderator kami selama dekade terakhir," ungkap Telegram dalam laporan itu.

Pada 2024, database tersebut diperluas dengan hash dari organisasi independen seperti Internet Watch Foundation. Kolaborasi ini memperkuat kemampuan deteksi lintas platform. Telegram juga menerbitkan laporan transparansi harian terkait penghapusan konten CSAM.

Selama 2025, tercatat 952.318 grup dan channel terkait CSAM telah diblokir. Telegram mendorong pengguna untuk aktif melaporkan konten bermasalah melalui fitur pelaporan. Partisipasi pengguna dinilai krusial dalam menjaga keamanan ekosistem digital.

"Telegram menerbitkan laporan transparansi harian mengenai penghapusan konten CSAM. 952.318 grup dan channel terkait CSAM yang diblokir tahun 2025," terang dalam laporan tersebut.

Share:
Premium.
Komentar
Komentar sepenuhnya tanggung jawab pengguna dan diatur dalam UU ITE.

Update
Indeks