— Nilai tukar rupiah melanjutkan tren penguatannya terhadap dolar Amerika Serikat (USD) pada pembukaan perdagangan Jumat, 21 Agustus 2026. Mata uang Garuda dibuka menguat tipis 11 poin atau 0,06% ke posisi Rp 17.737 per dolar AS berdasarkan data pasar spot exchange Bloomberg pada pukul 09.05 WIB.

Penguatan ini melanjutkan tren positif rupiah yang pada penutupan perdagangan Rabu (19/8/2026) lalu tercatat menguat 92 poin atau 0,52% ke level Rp 17.748 per dolar AS. Dolar AS sendiri dilaporkan mulai kehilangan pijakan karena investor memandang langkah Departemen Keuangan AS untuk membeli kembali obligasi sebagai solusi sementara.

Menurut laporan Reuters, Menteri Keuangan AS Scott Bessent menyatakan akan meningkatkan pembelian kembali obligasi pemerintah (Treasuries). Langkah ini diambil sehari setelah Departemen Keuangan mengumumkan rencana untuk melipatgandakan volume pembelian kembali sekuritas berjangka waktu lebih panjang pada kuartal mendatang. Tujuannya adalah untuk meredam lonjakan tajam imbal hasil (yield) yang terjadi.

Akibat sentimen tersebut, dolar AS mengalami penurunan mingguan lebih dari 0,8% dan terakhir diperdagangkan pada level 98,82, tertahan di dekat level terendahnya dalam tiga bulan terakhir. Mata uang utama lainnya menunjukkan pergerakan yang bervariasi terhadap dolar AS.

Mata uang euro terpantau bertahan di dekat level tertinggi dalam tiga bulan dan terakhir diperdagangkan pada $1,1685 per dolar AS. Poundsterling Inggris menguat tipis 0,08% ke $1,3643 per dolar AS, mencatat kenaikan sepanjang minggu ini mencapai 0,8%. Dolar Australia menguat 0,13% menjadi $0,7123 per dolar AS, sementara dolar Selandia Baru naik 0,23% menjadi $0,5957 per dolar AS dan diperkirakan akan mencatat kenaikan mingguan lebih dari 1%.

Sementara itu, yen Jepang melemah 0,05% ke level 159,12 per dolar AS. Mata uang Negeri Sakura ini terus berada di bawah tekanan akibat meleburnya selisih suku bunga antara Amerika Serikat dan Jepang.