— Hartadinata Abadi (HRTA) berencana melaksanakan penambahan modal tanpa hak memesan efek terlebih dahulu atau private placement. Emiten tersebut akan menerbitkan sebanyak 460,5 juta saham baru atau setara dengan 10% dari total saham yang beredar, sehingga jumlah keseluruhan saham mencapai 5,1 miliar lembar dengan potensi efek dilusi sekitar 9,1%.

Berdasarkan laporan riset dari MNC Sekuritas, manajemen HRTA dijadwalkan menggelar rapat umum pemegang saham pada 16 Oktober 2026 guna meminta persetujuan atas rencana aksi korporasi tersebut. Harga pelaksanaan aksi penambahan modal ini diproyeksikan berada di level Rp2.150 per saham, yang berpotensi menghasilkan perolehan dana segar hingga Rp1 triliun.

Hasil dari penggalangan dana tersebut dialokasikan untuk memperkuat modal kerja perseroan, khususnya dalam mendukung pengembangan lini bisnis ekspor perhiasan. Merujuk pada laporan proforma periode semester I-2026, langkah private placement ini diprediksi mampu menurunkan rasio utang terhadap ekuitas atau debt to equity ratio ke level 0,9 kali hingga 1 kali.

“Kami melihat rencana ini datang di waktu tepat, karena penyerapan emas domestik melemah, sehingga butuh pasar baru untuk menyerap pasokan,” tulis MNC Sekuritas.

Prospek Ekspor Perhiasan dan Rekomendasi Saham

MNC Sekuritas menilai terdapat potensi besar pada pasar ekspor emas meskipun dibayangi oleh ketentuan bea keluar berkisar antara 7,5% hingga 15%. Kebijakan ekspor ini dinilai mampu mendatangkan sumber pendapatan tambahan bagi HRTA di luar penjualan produk emas batangan di pasar domestik.

Secara historis, perseroan tercatat pernah melakukan ekspor emas murni sebanyak 4,5 ton pada 2023. Lebih lanjut, lembaga sekuritas tersebut memproyeksikan potensi pasar ekspor emas nasional dapat mencapai 56 ton dengan tingkat margin keuntungan sekitar 2,5%.

Seiring dengan prospek ekspansi tersebut, analis memberikan rekomendasi beli untuk saham HRTA dengan target harga dipatok pada level Rp2.800 per saham. Angka target tersebut mencerminkan potensi penguatan atau upside sebesar 37% apabila dibandingkan dengan harga penutupan terakhir di posisi Rp2.040 per saham.