Berita

Anak Krakatau Erupsi Enam Kali, Sementara Merapi Luncurkan Lava Sejauh 2 Kilometer

Gunung Anak Krakatau mengalami enam kali erupsi dengan kolom abu 500 meter, sementara Merapi meluncurkan guguran lava sejauh 2 kilometer.

Anak Krakatau Erupsi Enam Kali, Sementara Merapi Luncurkan Lava Sejauh 2 Kilometer
Foto: ANTARA/HO-Badan Geologi KESDM/aa.

Aktivitas vulkanik Gunung Anak Krakatau di Selat Sunda kembali meningkat pada Minggu (18/10/2026). Dalam satu hari, gunung api tersebut tercatat mengalami enam kali erupsi dengan kolom abu tertinggi mencapai 500 meter di atas puncak kawah. Di waktu bersamaan, Gunung Merapi juga menunjukkan aktivitas berupa guguran lava yang meluncur hingga 2 kilometer.

Kedua gunung tersebut masih berada pada Level III atau Siaga. Petugas mengingatkan masyarakat agar mematuhi batas aman yang telah ditetapkan serta mengikuti informasi terbaru dari lembaga pemantau gunung api untuk mengantisipasi potensi bahaya.

Anak Krakatau Erupsi Enam Kali dalam Sehari

Petugas Pos Pantau Gunung Anak Krakatau, Suwarno, mengatakan lima erupsi terjadi pada rentang pukul 06.00 hingga 12.00 WIB. Erupsi keenam tercatat pada pukul 12.59 WIB dengan kolom abu yang mencapai 500 meter dari puncak kawah atau sekitar 657 meter di atas permukaan laut.

Menurut Suwarno, abu yang keluar teramati berwarna hitam dengan intensitas tebal. Tiupan angin membawa material abu ke arah utara, sementara sebaran abu vulkanik juga sempat terdeteksi menuju wilayah Lampung dan Banten.

Catatan seismogram menunjukkan erupsi pukul 12.01 WIB memiliki amplitudo maksimum 51 milimeter dengan durasi sekitar 41 detik. Adapun erupsi pukul 12.59 WIB mencatat amplitudo maksimum 56 milimeter dan berlangsung sekitar 36 detik.

Masyarakat, wisatawan, dan pendaki diminta tidak mendekati pusat erupsi dalam radius 5 kilometer. Suwarno juga mengingatkan warga agar tidak mudah mempercayai informasi yang belum terverifikasi di media sosial.

Merapi Meluncurkan Guguran Lava hingga 2 Kilometer

Sementara itu, aktivitas Gunung Merapi di perbatasan Daerah Istimewa Yogyakarta dan Jawa Tengah juga masih perlu diwaspadai. Berdasarkan laporan Balai Penyelidikan dan Pengembangan Teknologi Kebencanaan Geologi (BPPTKG), empat guguran lava teramati selama periode pengamatan pukul 06.00–12.00 WIB.

Guguran tersebut mengarah ke Kali Sat/Putih dan Kali Krasak dengan jarak luncur maksimum mencapai 2.000 meter. Kepala BPPTKG Agus Budi Santoso menyampaikan laporan tersebut pada Minggu (18/10/2026).

Dalam periode yang sama, petugas mencatat 16 gempa guguran, dua gempa tremor nonharmonik, serta 14 gempa hibrida atau fase banyak. Asap kawah berwarna putih dengan intensitas tipis teramati membubung hingga 250 meter di atas puncak.

BPPTKG menyebut suplai magma ke tubuh Merapi masih berlangsung. Kondisi ini berpotensi memicu awan panas guguran di sejumlah sektor yang masuk kawasan rawan.

Warga Diminta Menjauhi Zona Bahaya

Potensi bahaya Merapi di sektor selatan hingga barat daya meliputi Sungai Boyong sejauh maksimal 5 kilometer serta Sungai Bedog, Krasak, dan Bebeng hingga 7 kilometer dari puncak. Di sektor tenggara, ancaman mencakup Sungai Woro hingga 3 kilometer dan Sungai Gendol hingga 5 kilometer.

BPPTKG mengimbau warga tidak beraktivitas di zona bahaya dan mewaspadai lahar serta awan panas, khususnya saat hujan. Masyarakat juga perlu mengantisipasi paparan abu vulkanik jika terjadi erupsi.