Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disperindag) Provinsi Bali mendeteksi adanya indikasi kenaikan harga sejumlah kebutuhan pokok di pasar tradisional. Kondisi ini dipicu oleh persoalan kelangkaan serta panjangnya antrean Bahan Bakar Minyak (BBM) yang berdampak langsung pada kelancaran distribusi komoditas hortikultura antar-pulau.
“Memang sih lonjakan belum terasa, begitu juga bahan pokok penting yang lain, cuma bawang putih ini,” ungkap Kepala Disperindag Bali, I Gusti Ngurah Wiryanata di Denpasar, seperti dikutip dari Antara pada Kamis (15/10/2026).
Berdasarkan laporan analisis dampak kelangkaan energi dari portal SiGapura Bali untuk periode 12–13 September, tingkat inflasi umum di wilayah tersebut terpantau masih terkendali di bawah 0,1%. Kendati demikian, pihak Disperindag menemukan sinyal peringatan dini berupa kenaikan harga pada tujuh dari total 20 komoditas pangan yang diawasi setiap hari.
Lonjakan paling signifikan tercatat pada komoditas bawang putih yang mengalami kenaikan dari harga awal Rp 30.000 menjadi Rp 30.429 per kilogram. Pergerakan harga upward juga terjadi pada komoditas jeruk lokal sebesar 0,75%, cabai merah besar 0,63%, serta bawang merah 0,40%.
Selain itu, penyesuaian harga dalam skala kecil turut dialami oleh beras medium I sebesar 0,13%, cabai rawit 0,10%, serta beras premium sebesar 0,06%. Mayoritas komoditas yang mengalami kenaikan tersebut merupakan barang pasokan luar daerah yang sangat mengandalkan kelancaran armada transportasi darat.
Di sisi lain, sejumlah komoditas pangan lokal terpantau stabil dan mengalami penurunan harga. Gula pasir turun 1,69%, daging babi melemah 1,42%, telur ayam ras turun 1,25%, serta minyak goreng terkoreksi tipis 0,08%. Menurut Wiryanata, kondisi ini menunjukkan cadangan pangan lokal masih mencukupi karena belum terganggu masalah distribusi jarak jauh.
Meski demikian, menipisnya sisa cadangan stok menjadi perhatian serius jika kendala pasokan energi terus berlanjut. Saat ini, volume ketersediaan cabai merah besar di Bali tersisa sebanyak 2 ton, cabai rawit 9 ton, bawang putih 12 ton, serta jeruk lokal 14 ton. Apabila hambatan distribusi ini bertahan dalam jangka waktu tiga sampai lima hari ke depan, posisi stok yang menipis dikhawatirkan dapat memicu lonjakan harga hingga 20%.
Wiryanata menjelaskan bahwa akar permasalahan utama saat ini bersumber dari hambatan di jaringan logistik lokal Bali, di mana para pengemudi kendaraan pengangkut barang mengalami kesulitan memperoleh bahan bakar.
“Rantai pasok dari Jawa dan lain sebagainya atau dari luar Bali aman, kata mereka, berarti transportasi di sana kan aman bisa ke Bali cuma kan dia di sini baru merasakan stres ya karena di sini habis bensinnya lalu kembalinya dia pusing juga,” ujar Wiryanata menerangkan hasil koordinasinya dengan para distributor besar.
Sebagai langkah antisipasi terhadap risiko gejolak pasar yang lebih luas, Disperindag Bali telah menyiapkan skenario penanganan berdasarkan durasi krisis energi. Pada fase lanjutan, tren kenaikan harga diprediksi merambah komoditas beras dan minyak goreng, yang kemudian disusul potensi lonjakan pada produk telur serta daging ayam.
Pemerintah daerah pun mengeluarkan sejumlah langkah taktis untuk meredam dampak di tingkat konsumen, di antaranya mengusulkan prioritas pengisian bahan bakar bagi armada logistik pangan, menyelenggarakan operasi pasar murah untuk komoditas bawang putih dan cabai, serta memperketat pengawasan harian terhadap bahan pangan dengan ketersediaan di bawah 20 ton.






