Topik.id — Lonjakan konsumsi Bahan Bakar Minyak terjadi di berbagai Stasiun Pengisian Bahan Bakar Umum di Kota Makassar dalam kurun waktu 10 hingga 14 September 2025. Situasi tersebut memicu antrean kendaraan yang cukup panjang dan sempat menimbulkan keresahan di tengah masyarakat.
Menanggapi situasi ini, Executive General Manager Pertamina Patra Niaga Regional Sulawesi, Deny Sukendar, memastikan bahwa ketersediaan stok BBM di terminal Pertamina masih dalam kondisi aman. Pihaknya mengambil langkah antisipasi dengan memperkuat pasokan secara berkala serta menyesuaikan jadwal kedatangan kapal dari pusat.
“Setiap ada lonjakan permintaan, kami langsung berkoordinasi dengan pusat dan menyiapkan backup penambahan pasokan. Jumlah stok di terminal BBM terus kami jaga. Hari ini bahkan ada kapal sandar yang membawa tambahan pasokan sebanyak 16.000 kiloliter,” ujar Deny Sukendar.
Deny juga meluruskan berbagai informasi yang beredar mengenai dugaan adanya pemotongan atau pengurangan jatah pengiriman ke SPBU. Ia menegaskan bahwa langkah yang diambil adalah penyesuaian volume penyaluran sebagai strategi manajemen distribusi demi menjaga pemerataan pasokan.
“Bukan karena stoknya berkurang atau kami memotong pasokan secara sepihak. Ini bagian dari manajemen distribusi agar pasokan tetap merata,” ujar Deny Sukendar di Polda Sulsel, Senin 14 September 2026.
Berdasarkan data yang ada, kebutuhan harian BBM di wilayah Kota Makassar pada kondisi normal biasanya berada di kisaran 700 kiloliter. Namun, angka penyaluran melonjak drastis dalam beberapa hari terakhir, yakni mencapai sekitar 1.200 kiloliter per hari pada 11 September. Penyaluran berada di angka 1.000 kiloliter pada 12 September, lalu kembali naik hingga 1.300 kiloliter per hari pada 14 September.
Tingkat penyaluran tersebut tercatat telah mendekati dua kali lipat dari kebutuhan harian normal. “Penyaluran ini sudah hampir dua kali lipat dari kebutuhan normal harian. Karena antrean di SPBU cukup tinggi, proses penyerapan BBM oleh masyarakat menjadi jauh lebih cepat,” katanya.
Di samping itu, Deny Sukendar menambahkan bahwa pihak Pertamina bersama aparat kepolisian saat ini sedang mendalami faktor penyebab lonjakan. Muncul dugaan bahwa peningkatan konsumsi yang memicu antrean panjang selama lima hari terakhir ini juga dipengaruhi oleh pembelian dari konsumen yang berasal dari luar wilayah Kota Makassar, khususnya di kawasan perbatasan.
