— PT Bayan Resources Tbk (BYAN) kini berada dalam lembaran baru menyusul langkah PT Jhonlin Baratama, perusahaan yang terafiliasi dengan Haji Isam, yang resmi memegang kendali atas 30,25% kepemilikan saham emiten tambang batu bara tersebut. Aksi korporasi senilai Rp 26,09 triliun ini terjadi bersamaan dengan langkah perseroan yang tengah menata kembali lini bisnisnya usai mencabut status force majeure.

Jason Gozali selaku Head of Research Pluang Maju Sekuritas mengamati adanya dua faktor utama yang kini membayangi dinamika BYAN, yakni transformasi susunan pemegang saham serta kebangkitan aktivitas operasional perusahaan.

Proses pemindahan kepemilikan sebanyak 10.084.088.370 saham BYAN kepada pihak Jhonlin Baratama rampung pada 7 Oktober 2026 dengan menetapkan harga pelaksanaan sebesar Rp 2.588 per lembar saham. Mayoritas saham tersebut, yakni sejumlah 10.067.421.703 lembar, dilepas oleh Low Tuck Kwong, sementara sisa 16.666.667 lembar saham dialihkan oleh Elaine Low.

Selepas rampungnya transaksi jumbo itu, porsi kepemilikan saham secara langsung oleh Low Tuck Kwong mengalami penyesuaian menjadi 9,95%. Di sisi lain, Elaine Low masih mempertahankan kepemilikan sebesar 22,05% di Bayan Resources, dan dipastikan tidak terjadi pergeseran pihak pengendali dalam struktur perseroan.

Bergeser pada aspek operasional, manajemen BYAN secara resmi telah mengakhiri status force majeure tepat sembilan hari pasca-pengumuman awalnya pada 15 September 2026. Keputusan ini diambil setelah revisi dokumen Rencana Kerja dan Anggaran Biaya (RKAB) dari tiga entitas anak usaha—yakni PT Tiwa Abadi, PT Tanur Jaya, serta PT Fajar Sakti Prima—mendapatkan lampu hijau berupa tambahan kuota produksi hingga mencapai 20 juta ton.

“Namun, tiga anak usaha tersebut masih berada dalam tahap persiapan operasional, sehingga tambahan volume produksi diperkirakan terealisasi secara bertahap,” jelas Jason dalam ulasannya, dikutip pada Minggu (11/10/2026).

Menilik pergerakan di lantai bursa, indikator teknikal MACD harian untuk saham BYAN memperlihatkan pembentukan golden cross yang dibarengi histogram positif sebagai tanda pemulihan tenaga. Kendati demikian, konfirmasi penguatan harga dipandang belum sepenuhnya matang mengingat posisi MACD masih berada di bawah garis nol.

Pihak Pluang Maju Sekuritas mematok target teknikal bagi saham BYAN di level harga Rp 15.000. Sementara itu, rentang resistansi dipetakan berada pada kisaran Rp 13.750 hingga Rp 14.250. Di sisi sebaliknya, posisi Rp 12.500 yang sempat menjadi titik terendah pada 7 Oktober diposisikan sebagai batas krusial guna mempertahankan peluang pemulihan harga.

Apabila laju saham BYAN nantinya justru ditutup di bawah level Rp 12.500, maka peluang terjadinya rebound dalam jangka pendek terancam batal. Mengakhiri sesi perdagangan pada Jumat (9/10/2026), pergerakan saham BYAN tercatat melemah 4% dan parkir di level Rp 11.775.

Akumulasi kinerja dalam sepekan ke belakang menunjukkan bahwa saham BYAN hanya mencatatkan penguatan tipis 0,2%. Tekanan jual yang lebih dalam terlihat dari koreksi bulanan yang mencapai 14,5%, serta kemerosotan hingga 25% jika dihitung secara year to date (ytd).