Saham

Haji Isam Bidik Tambang Nikel Bumanik Rp1,39 Triliun Lewat PACK, Rights Issue Rp8,19 Triliun Disiapkan

Haji Isam melalui PACK berencana mengakuisisi tambang nikel Bumanik senilai Rp1,39 triliun dan menyiapkan rights issue Rp8,19 triliun.

Haji Isam Bidik Tambang Nikel Bumanik Rp1,39 Triliun Lewat PACK, Rights Issue Rp8,19 Triliun Disiapkan

Pengusaha asal Kalimantan Selatan, Samsudin Andi Arsyad atau Haji Isam, kembali memperluas langkah bisnisnya di sektor pertambangan. Melalui PT Abadi Nusantara Hijau Investama Tbk (PACK), ia berencana mengambil alih tambang nikel PT Bukit Makmur Istindo Nikeltama (Bumanik) di Morowali, Sulawesi Tengah, dengan nilai transaksi US$79 juta atau sekitar Rp1,39 triliun.

Rencana tersebut menjadi bagian dari ekspansi PACK ke industri pertambangan bijih nikel. Langkah ini muncul setelah Haji Isam sebelumnya memborong 30,25% saham PT Bayan Resources Tbk (BYAN) milik Low Tuck Kwong senilai sekitar Rp26,1 triliun. Kedua aksi tersebut menunjukkan meningkatnya aktivitas investasi yang berkaitan dengan sektor pertambangan.

PACK Ambil Alih Seluruh Saham Tambang Bumanik

Dalam keterbukaan informasi kepada Bursa Efek Indonesia (BEI) pada Jumat (23/10/2026), manajemen PACK menjelaskan bahwa pengambilalihan Bumanik dilakukan melalui dua anak usaha, yakni PT Gemilang Padma Raya dan PT Daya Unggul Raya.

Keduanya akan membeli 10.010 lembar saham Bumanik atau setara 100% kepemilikan dari PT Merlot Grup Indonesia dan Pure Venture Capitol Limited. Bumanik memiliki konsesi pertambangan bijih nikel seluas 4.778 hektare di Kabupaten Morowali.

Setelah transaksi rampung, Daya Unggul Raya akan menguasai 98,99% saham Bumanik, sedangkan Gemilang Padma Raya memegang 0,01%. Dengan struktur tersebut, PACK akan mengendalikan perusahaan tambang itu secara tidak langsung.

Transaksi yang telah memperoleh persetujuan Menteri ESDM tersebut ditargetkan selesai paling lambat 27 April 2027. Perjanjian jual beli saham telah ditandatangani pada 22 Oktober 2026.

Ekspansi Usaha Berpotensi Dongkrak Penjualan

Akuisisi Bumanik juga membuka peluang bagi PACK untuk memperluas kegiatan usaha ke perdagangan besar bijih dan konsentrat logam serta jasa konsultasi manajemen. Langkah tersebut diharapkan menciptakan sinergi dalam pemasaran hasil tambang, perencanaan strategis, keuangan, hingga pengadaan.

Penilai independen KJPP K&R menyatakan transaksi tersebut layak berdasarkan penilaian pasar, teknis, bisnis, manajemen, dan keuangan. Sementara itu, BRI Danareksa Sekuritas memperkirakan akuisisi dapat meningkatkan penjualan PACK sekitar 37%.

Meski demikian, terdapat sejumlah risiko yang perlu diperhatikan. Laba perusahaan diproyeksikan berpotensi turun 23%, sedangkan margin bersih diperkirakan menyusut menjadi 22,5% dari sebelumnya 39,8%. Konsolidasi utang Bumanik juga berpotensi meningkatkan rasio liabilitas terhadap ekuitas hingga sekitar 3,1 kali.

Rights Issue Rp8,19 Triliun untuk Danai Ekspansi

Untuk mendukung rangkaian transaksi, PACK berencana menerbitkan maksimal 100 miliar saham baru melalui penambahan modal dengan hak memesan efek terlebih dahulu (PMHMETD II) atau rights issue. Aksi korporasi tersebut ditargetkan menghimpun dana Rp8,19 triliun dan akan dimintakan persetujuan dalam RUPSLB pada 30 November 2026.

Dana hasil penerbitan saham, setelah dikurangi biaya emisi, akan digunakan untuk melunasi pinjaman, mengakuisisi saham Denway Development Limited (DDL), serta memenuhi kebutuhan modal kerja perusahaan dan anak usahanya.

PT Eco Energi Perkasa sebagai pemegang 38,50% saham PACK menyatakan akan melaksanakan haknya sekaligus menjadi pembeli siaga atas saham yang tidak terserap, dengan nilai maksimal US$419 juta atau sekitar Rp7,39 triliun. Pemegang saham yang tidak menggunakan haknya berpotensi mengalami dilusi sekitar 74,6%.

Secara terpisah, PACK juga berencana mengakuisisi 100% saham Hanking (Indonesia) Mining Limited yang ditempatkan di DDL senilai US$324 juta atau Rp5,73 triliun. Transaksi ini ditargetkan selesai paling lambat 28 Februari 2027. Dengan berbagai rencana tersebut, ekspansi PACK berpotensi memperbesar skala bisnis pertambangan, tetapi investor tetap perlu mencermati kebutuhan pendanaan dan risiko terhadap profitabilitas perusahaan.