— Pendiri Microsoft, Bill Gates, memperingatkan bahwa perkembangan kecerdasan buatan (AI) berpotensi meningkatkan ancaman serangan siber pada tahun depan. Menurutnya, semakin canggih model AI yang tersedia dapat dimanfaatkan pelaku kejahatan untuk menjalankan serangan dengan kemampuan yang lebih kompleks.

Gates menyoroti risiko terhadap perusahaan, sistem keuangan, dan berbagai layanan digital. Ia menilai situasi bisa semakin mengkhawatirkan ketika teknologi AI mutakhir digunakan oleh pihak yang berniat jahat tanpa sistem perlindungan yang memadai. Peringatan tersebut muncul di tengah laporan mengenai meningkatnya aktivitas siber yang memanfaatkan kemampuan AI.

Bill Gates Soroti Risiko AI bagi Keamanan Siber

Gates menilai serangan siber menjadi salah satu bidang yang berpotensi mengalami perubahan besar akibat kemajuan AI. Teknologi ini dapat membantu pelaku kejahatan mengembangkan metode serangan, melakukan pemerasan, hingga menciptakan gangguan yang berdampak pada aktivitas ekonomi.

Ia memperingatkan bahwa pelaku kejahatan dapat memanfaatkan model AI terbaru untuk menjalankan aksinya dengan cara yang semakin sulit diantisipasi. Risiko tersebut menjadi perhatian karena serangan siber tidak hanya menyasar data pribadi, tetapi juga dapat mengganggu operasional perusahaan dan layanan keuangan.

Gates juga menyoroti kemungkinan munculnya serangan yang sengaja dirancang untuk memengaruhi pasar saham maupun aktivitas perjudian. Dalam skenario tersebut, pelaku dapat menciptakan kekacauan untuk memperoleh keuntungan finansial atau menuntut pembayaran dari pihak yang menjadi sasaran.

Laporan CrowdStrike Catat Lonjakan Ancaman AI

Peringatan Gates sejalan dengan temuan dalam Global Threat Report 2026 yang diterbitkan CrowdStrike. Laporan tersebut mencatat bahwa serangan yang memanfaatkan kemampuan AI meningkat 89 persen secara tahunan pada 2025.

Laporan itu juga menyebut waktu rata-rata yang dibutuhkan peretas untuk bergerak secara lateral di dalam jaringan yang telah disusupi turun menjadi 29 menit. Pergerakan lateral merupakan proses ketika penyerang berpindah dari satu sistem ke sistem lain setelah memperoleh akses awal ke jaringan korban.

Kecepatan tersebut menjadi tantangan bagi tim keamanan siber karena mereka memiliki waktu lebih singkat untuk mendeteksi aktivitas mencurigakan dan membatasi dampaknya. Meski demikian, angka tersebut menggambarkan temuan laporan mengenai ancaman siber dan tidak berarti seluruh serangan menggunakan AI.

Regulasi AI Dinilai Perlu Lebih Terkoordinasi

Oliver Libby, ahli strategi dari Partai Demokrat, menilai peringatan Gates memperlihatkan sulitnya menjaga keseimbangan antara inovasi teknologi dan perlindungan masyarakat. Menurutnya, pemerintah perlu menyusun kebijakan yang mendukung perkembangan AI tanpa mengabaikan risiko penyalahgunaannya.

Libby mendorong koordinasi regulasi di tingkat federal dan internasional. Ia juga menyoroti pentingnya tanggung jawab platform, penegakan hukum terhadap kejahatan siber dan deepfake, serta perlindungan anak.

Selain keamanan digital, Libby mengingatkan bahwa perkembangan AI berpotensi membawa perubahan besar terhadap dunia kerja. Karena itu, kebijakan yang disusun perlu mempertimbangkan kesiapan tenaga kerja dan memastikan masyarakat dapat merasakan manfaat ekonomi dari kemajuan teknologi.

Perdebatan mengenai regulasi AI pun semakin penting, seiring upaya pemerintah dan pelaku industri mendorong inovasi sekaligus mengantisipasi risiko yang menyertainya.