TOPIK.ID — Bursa saham negara berkembang di kawasan Asia mengalami tekanan jual yang cukup signifikan pada perdagangan Rabu (7/10/2026). Sentimen negatif ini dipicu oleh lonjakan harga minyak mentah dunia serta tingginya imbal hasil obligasi Amerika Serikat.
Berdasarkan data Reuters pada Rabu (7/10/2026), indeks saham negara berkembang Asia MSCI tercatat merosot 0,9%. Angka koreksi tersebut merepresentasikan penurunan harian paling tajam dalam sepekan terakhir atau sejak 28 September 2026.
Tekanan paling kentara dirasakan oleh pasar keuangan Korea Selatan dan Singapura. Di Korea Selatan, bursa saham yang bersinggungan dengan sektor teknologi terperosok selama dua sesi beruntun dan ditutup melemah 2%.
Pelaku pasar terpantau mengambil posisi wait and see menjelang rilis laporan kinerja keuangan awal kuartalan dari Samsung Electronics pada hari Kamis. Publikasi data tersebut dinilai krusial untuk menakar arah permintaan cip yang berkaitan dengan teknologi kecerdasan buatan.
“Latar belakang makroekonomi yang membebani kawasan ini sepanjang September belum membaik secara material. Investor tidak sepenuhnya meninggalkan pasar negara berkembang Asia, tetapi mereka masih enggan menambah risiko karena langkah Federal Reserve berikutnya terkait suku bunga masih belum pasti,” ujar Inki Cho, senior financial market strategist di platform perdagangan Exness.
Koreksi pasar ini tidak lepas dari sentimen lonjakan harga minyak mentah yang kembali menembus level US$100 per barel. Kondisi tersebut didorong oleh bayang-bayang badai yang mengarah ke wilayah produksi minyak Amerika Utara serta serangan kelompok Houthi terhadap Arab Saudi yang memicu kekhawatiran gangguan pasokan global.
Sementara itu, di pasar obligasi, imbal hasil US Treasury masih bertahan mendekati posisi tertinggi dalam 24 tahun yang tercatat pada awal pekan. Situasi ini memberikan beban tambahan bagi negara-negara berkembang Asia yang mayoritas bertindak sebagai importir energi.
Tingginya imbal hasil obligasi AS turut mendongkrak daya tarik aset berbasis dolar AS. Hal tersebut berpotensi mengalihkan aliran modal keluar dari instrumen berisiko di kawasan Asia.
Sektor Teknologi dan Pasar Domestik Ikut Terimbas
Tekanan serupa turut melanda pasar saham Taiwan yang memiliki keterkaitan erat dengan ekosistem kecerdasan buatan. Indeks acuan Taiwan ditutup melemah tipis 16,18 poin sehari setelah sempat menorehkan rekor tertinggi di level 49.968,92.
Menurut Inki Cho, Taiwan memberikan paparan yang lebih langsung terhadap ekspansi permintaan AI ketimbang Korea Selatan. Di sisi lain, para investor di Korea Selatan mulai mewaspadai potensi kejenuhan pertumbuhan laba dari bisnis cip high-bandwidth memory (HBM).
Kendati demikian, prospek jangka menengah kedua pasar tersebut dinilai masih menjanjikan. Hanya saja, tingginya imbal hasil obligasi dan sentimen kinerja emiten membuat proyeksi jangka pendek menjadi penuh ketidakpastian.
Tekanan jual juga merembet ke bursa Singapura yang terkoreksi hingga 1,7% dan menyentuh level terendahnya dalam kurun waktu dua bulan. Adapun pasar saham Malaysia melemah 1,3% ke titik terendah sejak Desember 2025.
Dampak negatif ini turut dirasakan di Indonesia. Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) yang sempat dibuka di zona hijau akhirnya berbalik melemah hingga 0,8%.
Pergerakan pasar di Tanah Air berlangsung menjelang agenda evaluasi MSCI yang dijadwalkan pada November mendatang. Evaluasi itu akan menyoroti berbagai upaya pemerintah dan otoritas dalam memperbaiki transparansi serta daya tarik investasi aset domestik.
Di sisi lain, FTSE Russell dalam publikasi klasifikasi negara untuk pasar pendapatan tetap pada September lalu mempertahankan status Indonesia sebagai Secondary Emerging Market. Lembaga tersebut masih memantau perkembangan reformasi integritas pasar modal nasional.
Pengetatan Kebijakan Moneter di India
Tekanan inflasi akibat eskalasi biaya energi turut memaksa bank sentral di kawasan Asia untuk meresponsnya melalui pengetatan kebijakan moneter.
Reserve Bank of India (RBI) memutuskan untuk mengerek suku bunga acuan sebesar 25 basis poin menjadi 5,5%. Langkah ini menandai kenaikan suku bunga pertama bagi India dalam kurun waktu hampir empat tahun guna meredam tekanan harga yang tersulut oleh konflik Iran.
Seiring dengan kebijakan tersebut, nilai tukar rupee India melemah hingga melewati ambang 96,50 per dolar AS untuk pertama kalinya sejak akhir Juli.
Di luar India, pergerakan mata uang Asia lainnya terpantau cenderung stabil terhadap dolar AS yang bergerak mendatar. Baht Thailand tercatat mengalami pelemahan sekitar 0,3%.
Sementara itu, indeks mata uang negara berkembang Asia MSCI secara keseluruhan relatif tidak mengalami perubahan berarti selama sesi perdagangan di kawasan tersebut.
