Market

Harga Minyak Dunia Bergerak Beda Arah, Brent Turun ke US$105,69 dan WTI Sentuh Level Tertinggi

Harga minyak dunia bergerak berlawanan di tengah harapan tambahan pasokan diesel Rusia dan ancaman gangguan distribusi akibat konflik Timur Tengah.

Harga Minyak Dunia Bergerak Beda Arah, Brent Turun ke US$105,69 dan WTI Sentuh Level Tertinggi
Foto: Thinkstockphotos

Harga minyak dunia bergerak tidak seragam pada perdagangan Selasa (13/10/2026). Pelaku pasar mempertimbangkan peluang bertambahnya pasokan diesel dari Rusia sekaligus mencermati risiko gangguan distribusi energi akibat meningkatnya ketegangan di Timur Tengah.

Mengutip Reuters, minyak mentah Brent ditutup melemah 96 sen atau 0,9 persen menjadi US$105,69 per barel. Sebaliknya, West Texas Intermediate (WTI) Amerika Serikat naik 40 sen atau 0,4 persen ke US$94,14 per barel, sekaligus mencatat penutupan tertinggi sejak 24 September.

Brent Melemah, WTI Justru Menguat

Perbedaan arah kedua acuan minyak tersebut mencerminkan beragam faktor yang sedang diperhitungkan pasar. Harapan peningkatan ekspor diesel Rusia berpotensi menambah pasokan energi, tetapi risiko geopolitik masih menjadi perhatian karena dapat menghambat pengiriman minyak dan produk turunannya.

Kontrak WTI untuk pengiriman tahun kalender 2027 kembali mencetak rekor tertinggi selama 12 hari berturut-turut, mencapai US$84 per barel. Sementara itu, kontrak Brent untuk tahun kalender 2027 sempat mencatat rekor tertinggi empat hari berturut-turut pada Senin di level US$90 per barel.

Pasar juga memantau kesepakatan ekspor diesel Rusia yang diumumkan Presiden Amerika Serikat Donald Trump. Kremlin menyatakan tidak melihat hubungan langsung antara kesepakatan tersebut dan posisi Moskow dalam perundingan perdamaian Ukraina.

Rusia merupakan produsen minyak mentah terbesar ketiga di dunia pada 2025 setelah Amerika Serikat dan Arab Saudi. Sanksi energi yang diberlakukan sejak invasi Rusia ke Ukraina pada 2022 turut memengaruhi ketersediaan pasokan di pasar internasional.

Konflik Timur Tengah Picu Kekhawatiran Pasokan

Risiko gangguan energi kembali meningkat setelah ketegangan Arab Saudi dan Yaman memanas. Kelompok Houthi yang bersekutu dengan Iran menyatakan Arab Saudi menyerang Sanaa, ibu kota Yaman, pada Selasa. Sebelumnya, koalisi pimpinan Arab Saudi memperingatkan warga sipil untuk menjauhi depot minyak di pinggiran kota tersebut.

Kekhawatiran juga muncul setelah serangan terhadap bandara internasional Riyadh dan laporan serangan terhadap kapal tanker di sekitar Selat Hormuz. Reuters turut melaporkan keterangan sejumlah sumber mengenai suara ledakan di sekitar kantor pusat Saudi Aramco di Dhahran.

Ancaman terhadap jalur pelayaran menjadi perhatian karena sebelum serangan Amerika Serikat dan Israel terhadap Iran pada Februari, sekitar 20 persen pasokan minyak dunia melewati Selat Hormuz.

Pasokan Diesel dan Proyeksi Permintaan Jadi Sorotan

Harga kontrak berjangka diesel Amerika Serikat melonjak sekitar 5 persen pada Selasa. Kenaikan ini terjadi ketika pasokan produk olahan minyak global menghadapi tekanan akibat serangan terhadap infrastruktur energi Rusia dan Timur Tengah.

Di sisi lain, OPEC melaporkan produksi OPEC+ meningkat tajam pada September, terutama karena kenaikan produksi Arab Saudi. Organisasi tersebut juga kembali menurunkan proyeksi pertumbuhan permintaan minyak dunia untuk 2026, tetapi menaikkan perkiraan pertumbuhan pada tahun berikutnya.

Perkembangan pasokan, konflik geopolitik, dan perubahan proyeksi konsumsi akan terus memengaruhi pergerakan harga minyak. Pasar kini menghadapi dua risiko sekaligus, yakni kemungkinan bertambahnya pasokan dari Rusia dan potensi gangguan distribusi di kawasan Timur Tengah.