Harga minyak mentah dunia mencatat penguatan tajam pada perdagangan Jumat (16/10/2026). Kontrak Brent kembali menembus level US$109 per barel, sedangkan minyak mentah Amerika Serikat (AS) ikut naik seiring meningkatnya kekhawatiran terhadap pasokan energi global.
Ketegangan di Timur Tengah dan serangan Ukraina terhadap fasilitas pengolahan minyak Rusia menjadi perhatian pelaku pasar. Risiko gangguan distribusi dari kawasan penghasil minyak utama mendorong pembelian, meskipun sejumlah negara mulai menyiapkan langkah untuk menambah pasokan ke pasar internasional.
Brent dan WTI Catat Kenaikan Mingguan
Mengutip Reuters, harga minyak Brent ditutup menguat US$3,94 atau 3,7 persen menjadi US$109,86 per barel. Posisi tersebut merupakan level penutupan tertinggi sejak 19 Mei 2026.
Sementara itu, kontrak minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) naik US$3,44 atau 3,5 persen ke level US$101,41 per barel, tertinggi sejak 17 September 2026.
Secara mingguan, Brent mencatat kenaikan 4,9 persen. WTI bahkan membukukan penguatan lebih besar, yakni 10,4 persen.
Energy Aspects menilai kenaikan harga dipengaruhi kembali munculnya kekhawatiran mengenai eskalasi konflik. Pasar juga merespons laporan yang belum terverifikasi mengenai kemungkinan serangan terhadap infrastruktur energi Arab Saudi.
Koalisi pimpinan Arab Saudi menyatakan telah mencegat rudal balistik yang mengarah ke Yanbu, pelabuhan di pesisir Laut Merah. Lokasi tersebut memiliki peran strategis bagi pengiriman minyak Saudi untuk menghindari Selat Hormuz. Laporan awal menyebutkan tidak ditemukan kerusakan infrastruktur di Yanbu.
Meski demikian, rangkaian serangan di sekitar Selat Hormuz selama 10 hari terakhir meningkatkan kekhawatiran terhadap kelancaran distribusi minyak. Iran menyebut peningkatan serangan sebagai respons atas blokade AS terhadap pelabuhannya dan pengetatan sanksi.
Analis Kpler memperkirakan pemulihan arus minyak melalui Selat Hormuz berpotensi berlangsung lambat dan tidak merata tanpa kesepakatan politik yang menyeluruh.
Serangan Kilang Rusia Tambah Tekanan Pasokan
Risiko pasokan juga datang dari Rusia setelah Ukraina menyerang kilang minyak pada Kamis. Kilang Ryazan dilaporkan menghentikan operasi salah satu unit distilasi minyak mentah utamanya akibat serangan pesawat nirawak.
Dennis Kissler, Wakil Presiden Senior Perdagangan BOK Financial, mengatakan ketidakpastian di Timur Tengah dan pasokan diesel Rusia mendorong pelaku pasar terus membeli minyak.
IEA dan AS Siapkan Tambahan Pasokan
Untuk mengurangi tekanan pasar, Badan Energi Internasional (IEA) menyepakati pelepasan lebih dari 20 juta barel bahan bakar pada Kamis.
Departemen Energi AS juga meminta proposal pertukaran hingga 17 juta barel minyak mentah dari Cadangan Minyak Strategis (SPR). Langkah itu melanjutkan rencana peminjaman 172 juta barel sebelumnya, sebagai bagian dari upaya internasional melepas total 400 juta barel cadangan minyak ke pasar.









