Topik.id — China terus memperlebar jarak dari negara peserta lain dalam perolehan medali Asian Games 2026. Hingga Selasa (29/9/2026) malam, kontingen China telah mengumpulkan 150 medali emas, 66 perak, dan 59 perunggu atau total 275 medali.
Jepang yang berstatus sebagai tuan rumah berada di urutan kedua dengan 50 emas dari total 199 medali. Sementara Korea Selatan menempati posisi ketiga dengan koleksi 24 emas. Perbedaan perolehan tersebut menjadi salah satu sorotan utama sepanjang penyelenggaraan Asian Games 2026.
China Memimpin Jauh di Papan Klasemen

Performa China membuat persaingan perebutan posisi teratas klasemen medali terlihat timpang. Dengan 150 emas, China telah mengumpulkan tiga kali lipat lebih banyak medali emas dibandingkan Jepang.
Associated Press bahkan menggambarkan dominasi China dalam Asian Games 2026 dengan istilah “China Games”. Penilaian tersebut muncul karena China kembali menunjukkan kekuatan besar setelah mendominasi berbagai edisi Asian Games selama beberapa dekade.
Di sisi lain, sejumlah negara peserta masih berjuang mendapatkan medali pertama. Bangladesh, Brunei, Mongolia, dan Suriah masing-masing baru mengantongi satu medali perunggu. Beberapa negara lainnya bahkan belum masuk daftar peraih medali.
Renang Jadi Sumber Emas China
Renang menjadi salah satu cabang yang paling banyak menyumbang medali bagi China. Dalam enam hari perlombaan, kontingen Negeri Tirai Bambu telah mengamankan 30 medali emas dari kolam renang.
Zhang Zhanshuo menjadi salah satu atlet yang mencuri perhatian setelah mengoleksi tujuh emas. Empat di antaranya berasal dari nomor gaya bebas 200 meter, 400 meter, 800 meter, dan 1.500 meter. Tiga emas lainnya didapat melalui nomor estafet.
Atlet muda Yu Zidi juga memberikan kontribusi penting. Perenang berusia 13 tahun tersebut meraih tiga emas dari nomor 200 meter gaya kupu-kupu serta 200 meter dan 400 meter gaya ganti perorangan.
Meski China mendominasi perolehan emas renang, rekor dunia di kolam justru dicatat atlet Jepang. Shin Ohashi mencetak rekor dunia nomor 200 meter gaya dada dengan waktu 2 menit 4,83 detik.
Penyelenggaraan Asian Games Mendapat Sorotan
Selain persaingan olahraga, pelaksanaan Asian Games 2026 juga menghadapi sejumlah persoalan. Panitia tidak membangun perkampungan atlet dan memilih menggunakan kapal pesiar, hotel, serta bilik kayu sementara sebagai akomodasi.
Keputusan tersebut kemudian diikuti sejumlah keluhan dari atlet dan ofisial. Masalah yang dilaporkan mencakup tempat tidur terlalu pendek, atap yang bocor, hingga kesalahan penempatan kamar antara atlet putra dan putri.
Transportasi juga menjadi perhatian karena beberapa lokasi pertandingan berada cukup jauh dari Nagoya. Kehadiran penonton di sejumlah venue pun disebut masih sepi.
Sekretaris Jenderal panitia, Satoshi Murate, menyampaikan permintaan maaf atas persoalan akomodasi dan transportasi yang terjadi selama ajang berlangsung.
Kesalahan Lagu Kebangsaan Ikut Jadi Perhatian
Panitia juga menghadapi insiden saat lagu kebangsaan Korea Utara diputar dalam pertandingan hoki lapangan putra antara Korea Selatan dan Bangladesh.
Kesalahan tersebut menambah catatan penyelenggaraan Asian Games 2026 di luar arena pertandingan. Panitia harus menangani sejumlah persoalan operasional ketika kompetisi berlangsung di berbagai lokasi.
Asian Games 2026 Hadirkan Banyak Cabang Unik
Asian Games 2026 juga menghadirkan sejumlah cabang olahraga yang relatif jarang terlihat dalam ajang multievent besar. Beberapa di antaranya adalah kabaddi, sepak takraw, kurash, jiu jitsu, padel, soft tennis, teqball, dan wushu.
Esports kembali masuk dalam program Asian Games untuk kedua kalinya. Salah satu perhatian muncul ketika pelajar Jepang berusia 11 tahun, Yuki Kurihara, berhasil meraih medali emas.
Sementara itu, mixed martial arts untuk pertama kalinya dipertandingkan dengan aturan khusus. Pertandingan berlangsung tanpa sangkar, sementara sikutan dilarang dan serangan lutut maupun tendangan ke kepala tidak diperbolehkan ketika lawan berada di lantai.
Dengan masih berlangsungnya sejumlah nomor pertandingan, persaingan medali Asian Games 2026 masih berpeluang mengalami perubahan. Namun, hingga 29 September, China tetap memimpin dengan jarak yang lebar dari negara-negara pesaingnya.
