Topik.id — Dua pekerja dapur Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) di Kabupaten Tulungagung, Jawa Timur, kedapatan menyalahgunakan narkotika jenis sabu. Keduanya kini menjalani penanganan dan asesmen setelah kasus tersebut diungkap oleh jajaran Polres Tulungagung.
Penggunaan sabu oleh dua pekerja SPPG itu menjadi perhatian karena alasan yang disampaikan saat pemeriksaan. Berdasarkan keterangan Badan Narkotika Nasional Kabupaten (BNNK) Tulungagung, keduanya mengaku menggunakan sabu agar tetap terjaga pada malam hari dan merasa lebih kuat menjalankan pekerjaan.
Dua Pekerja SPPG Terlibat Penyalahgunaan Sabu
Kepala BNNK Tulungagung Wasbeka Abie Yuwono mengatakan dua pekerja yang terlibat berasal dari SPPG di wilayah Gendingan dan Pucangan. Kedua kasus tersebut diungkap dalam waktu berbeda oleh kepolisian.
Wasbeka menyebut pihaknya telah menerima dua klien untuk menjalani Tim Asesmen Terpadu (TAT). Pekerja SPPG di Gendingan menjadi salah satu kasus yang ditangani, sedangkan kasus lainnya berasal dari SPPG di Pucangan yang baru diungkap sekitar dua pekan sebelum pernyataan tersebut disampaikan.
Hasil pemeriksaan menunjukkan keduanya menggunakan sabu. BNNK kemudian melakukan penanganan dan asesmen sesuai prosedur terhadap kedua pekerja tersebut.
Alasan Gunakan Sabu untuk Kerja Malam
Dalam pemeriksaan, kedua pekerja menyampaikan alasan penggunaan sabu berkaitan dengan tuntutan pekerjaan. Mereka mengaku mengonsumsi narkotika tersebut supaya dapat bertahan terjaga pada malam hari sekaligus merasa lebih kuat ketika bekerja.
BNNK Tulungagung mengingatkan bahwa alasan tersebut tidak dapat dijadikan pembenaran untuk menggunakan narkotika. Sabu merupakan narkotika yang berisiko terhadap kesehatan dan dapat menimbulkan masalah akibat penyalahgunaan.
Wasbeka secara khusus meminta pekerja SPPG tidak menjadikan sabu sebagai obat maupun suplemen untuk meningkatkan stamina. Menurut dia, kebiasaan tersebut justru dapat membahayakan kondisi kesehatan pekerja.
BNNK Dorong Pemeriksaan Pekerja Secara Berkala
Setelah kasus tersebut terungkap, BNNK Tulungagung mendorong pengelola dapur SPPG memperkuat pengawasan terhadap seluruh pekerja. Sosialisasi mengenai bahaya narkotika dan deteksi dini penyalahgunaan menjadi langkah yang dinilai perlu dilakukan.
BNNK juga menyarankan pemeriksaan dilakukan secara rutin dan, bila memungkinkan, secara mendadak. Langkah tersebut diperlukan untuk mengantisipasi kemungkinan pekerja yang pernah menyalahgunakan narkotika kembali menggunakan.
Wasbeka mengatakan orang yang sebelumnya pernah menyalahgunakan narkoba tetap memiliki kemungkinan untuk kembali mengonsumsi. Karena itu, pengawasan tidak cukup hanya dilakukan setelah muncul persoalan.
Kerja Sama dengan Pengelola SPPG
BNNK Tulungagung menyebut telah menjalin kerja sama dengan sejumlah pengelola SPPG untuk melakukan pencegahan. Salah satunya melalui SPPG di bawah naungan Yayasan Gusti Marimukti.
Wasbeka mengapresiasi kepedulian yayasan tersebut terhadap pentingnya deteksi dini bagi pekerja dapur. Kerja sama berupa sosialisasi dan pencegahan juga diharapkan dapat terus berjalan.
BNNK berharap pengelola SPPG lainnya mengikuti langkah serupa. Pemilik maupun pengelola dapur diminta lebih aktif memperhatikan kondisi pekerja serta membangun komunikasi dengan lembaga yang memiliki kewenangan dalam pencegahan penyalahgunaan narkotika.
Muncul Saat Layanan MBG Disorot
Kasus dua pekerja SPPG yang menggunakan sabu ini mencuat ketika layanan Makan Bergizi Gratis (MBG) di Tulungagung juga tengah menjadi perhatian.
Sebelumnya, dugaan keracunan dialami sejumlah siswa SMKN 1 Boyolangu pada 16 September 2026. Peristiwa tersebut turut membuat pelaksanaan layanan MBG di daerah tersebut mendapat sorotan.
Di tengah kondisi itu, BNNK mengingatkan pentingnya memastikan pekerja dapur SPPG berada dalam kondisi yang mendukung pelaksanaan layanan. Pencegahan penyalahgunaan narkotika dinilai perlu menjadi bagian dari pengawasan internal agar aktivitas dapur berjalan sesuai ketentuan.
BNNK Tulungagung menyatakan terbuka untuk bekerja sama dengan pengelola SPPG dalam kegiatan sosialisasi maupun deteksi dini. Sementara itu, informasi lebih lanjut mengenai penanganan kedua pekerja tersebut masih diupayakan melalui pihak terkait, termasuk pengelola SPPG tempat keduanya bekerja.
