Crypto

Harga Bitcoin Menguat Tipis, Analis Ingatkan Potensi Risiko Pasar

Harga Bitcoin mencatat kenaikan pada awal pekan ini. Di tengah penguatan tersebut, analis memperingatkan adanya potensi risiko bagi pasar.

Harga Bitcoin Menguat Tipis, Analis Ingatkan Potensi Risiko Pasar
Ilustrasi Bitcoin (Sumber: dok btc)

Nilai tukar Bitcoin (BTC) terpantau mengalami penguatan pada perdagangan Senin, 19 Oktober 2026. Kendati demikian, kalangan pakar memberikan peringatan agar aset kripto utama ini mampu mempertahankan ketahanannya demi menghindari potensi tekanan yang dapat merembet ke instrumen lain seperti saham dan logam.

Merujuk pada data CoinMarketCap pukul 05.50 WIB, harga Bitcoin membukukan kenaikan sebesar 0,51% ke level US$ 81.621 per koin atau setara dengan kisaran Rp 1,47 miliar, dengan memperhitungkan asumsi nilai tukar Rp 18.053 per dolar AS.

Secara keseluruhan, kapitalisasi pasar aset kripto global turut terkerek 0,28% dalam rentang 24 jam terakhir hingga mencapai US$ 2,72 triliun. Pergerakan positif juga dialami oleh Indeks CoinDesk 20 yang mengukur kinerja 20 aset kripto terbesar dengan penguatan sebesar 0,25%. Di sisi lain, pergerakan variatif ditunjukkan oleh aset digital lain di mana Ethereum (ETH) mengalami koreksi tipis 0,01% ke posisi US$ 2.388, sementara Binance Coin (BNB) mencatatkan kenaikan 0,34% menjadi US$ 717.

Peringatan Risiko dan Dinamika Pasar

Berdasarkan pantauan dari Tradingview, analis senior komoditas Bloomberg Intelligence, Mike McGlone, menyampaikan pandangannya mengenai kerentanan pasar saat ini. la menilai bahwa Bitcoin berada dalam fase yang menuntut pembuktian kekuatan di tengah tren pelemahan.

“Bitcoin mungkin harus membuktikan kekuatannya, karena jika tidak, efek domino bisa menjalar ke saham dan logam,” ujar McGlone.

Menurut analisisnya, aset kripto tersebut kehilangan momentum setelah melalui fase pergerakan mendatar yang cukup panjang. Pola ini dinilai menyerupai fase konsolidasi yang pernah terjadi pada tahun 2018 dan 2022 jika merujuk pada grafik rata-rata pergerakan 50 pekan. Sejak kelahirannya pada tahun 2009, Bitcoin kerap dipandang sebagai indikator awal bagi pergerakan aset-aset berisiko tinggi.

McGlone juga menyoroti adanya perbedaan karakteristik antara kondisi saat ini dengan tren penurunan harga kripto di masa lalu. Hingga kini, Indeks S&P 500, indeks total return logam Bloomberg Commodity, serta komoditas tembaga terpantau belum mengikuti tren koreksi Bitcoin seperti yang terjadi pada siklus pasar bearish sebelumnya.

Selain itu, ia mengingatkan bahwa bulan Oktober kerap menjadi periode transisi arah pergerakan pasar. Faktor ekspektasi kenaikan suku bunga dari bank sentral Amerika Serikat, The Fed, dinilai berpotensi mengakhiri fase kenaikan cepat pada aset berisiko, akumulasi kekayaan, dan tekanan inflasi.

Sepanjang bulan Oktober, Bitcoin tercatat telah melemah lebih dari 2% dan berisiko membukukan tren penurunan bulanan secara dua kali berturut-turut pada bulan yang sama untuk pertama kalinya dalam lebih dari satu dekade.

Peluang Siklus Kenaikan Baru

Di sisi lain, perspektif yang berbeda disampaikan oleh direktur makro global Fidelity, Jurrien Timmer. Dengan menggunakan pendekatan pola power law Bitcoin, ia melihat adanya kemungkinan bahwa siklus kenaikan empat tahunan yang baru sedang dalam proses pembentukan.

“Tidak tampak ada narasi yang mendasarinya, tetapi pasar bullish memang jarang dimulai dengan sebuah narasi,” ujar Timmer.

Grafik yang digunakan oleh Timmer menempatkan posisi Bitcoin saat ini berada di area akumulasi. Meskipun memiliki pembacaan arah pasar yang berbeda, baik McGlone maupun Timmer sepakat menyoroti situasi likuiditas global yang mulai mengetat.

Timmer menjelaskan bahwa emas dan Bitcoin saat ini masih bergerak di dalam fase konsolidasi. Arus modal masuk ke dalam instrumen emas masih terpantau stabil, namun laju pertumbuhannya tertahan oleh perlambatan likuiditas secara global di tengah pengetatan kondisi keuangan.

Sebagai catatan, The Fed sebelumnya telah menaikkan kisaran suku bunga acuan ke level 3,75% hingga 4% pada bulan September lalu, dan dijadwalkan kembali melangsungkan rapat kebijakan pada tanggal 27 hingga 28 Oktober.

Sementara itu, sentimen pelaku pasar ritel terhadap Bitcoin di platform Stocktwits terpantau bergeser dari sikap bearish menjadi sangat bearish, meskipun volume percakapan mengenai aset tersebut tercatat masih rendah dalam kurun waktu 24 jam terakhir.