Harga perak murni produksi PT Aneka Tambang Tbk (ANTM) kembali melemah pada Senin, 26 Oktober 2026. Berdasarkan data di laman Logam Mulia, harga perak Antam turun Rp300 menjadi Rp36.600 per gram, melanjutkan tekanan yang terjadi dalam beberapa hari terakhir.
Penurunan terbaru tersebut menambah koreksi harga setelah perak Antam merosot Rp1.950 pada Jumat (23/10/2026) ke level Rp36.900 per gram. Sehari sebelumnya, Kamis (22/10/2026), harga logam mulia ini juga turun Rp350 menjadi Rp38.850 per gram. Pergerakan tersebut menunjukkan harga perak domestik masih menghadapi tekanan.
Harga Perak Antam untuk Batangan 250 dan 500 Gram
Di tengah penurunan harga per gram, Logam Mulia juga mencatat harga dasar perak Antam untuk sejumlah ukuran batangan. Pada Senin (26/10/2026), perak murni ukuran 250 gram dibanderol Rp9.550.000 sebelum pajak. Setelah ditambah PPN 11%, harganya menjadi Rp10.600.500.
Sementara itu, perak Antam dengan berat 500 gram memiliki harga dasar Rp18.300.000. Jika memperhitungkan PPN 11%, harga batangan tersebut mencapai Rp20.313.000.
Perbedaan harga berdasarkan ukuran membuat calon pembeli perlu memperhatikan berat produk serta pajak yang dikenakan. Harga dasar yang tercantum tidak selalu sama dengan jumlah akhir yang harus dibayarkan dalam transaksi.
Bagi masyarakat yang ingin membeli perak sebagai instrumen investasi, perubahan harga dalam beberapa hari terakhir juga dapat menjadi pertimbangan. Meski begitu, keputusan transaksi sebaiknya tidak hanya didasarkan pada penurunan harga jangka pendek, tetapi juga mempertimbangkan tujuan investasi dan risiko fluktuasi pasar.
Harga Perak Dunia Ikut Melemah
Tekanan tidak hanya terlihat pada pasar domestik. Harga perak spot di pasar internasional tercatat turun 0,41% menjadi US$53,57 per ons saat laporan ini disusun.
Mengutip Kitco, pergerakan perak telah melemah sejak akhir sesi perdagangan Amerika Serikat pada Jumat. Kondisi tersebut berlangsung setelah aksi jual besar-besaran di pasar komoditas selama pekan sebelumnya.
Salah satu faktor yang memengaruhi sentimen pasar adalah kekhawatiran terhadap kemungkinan meningkatnya konflik di Timur Tengah. Ketidakpastian geopolitik tersebut mendorong harga minyak mentah naik hingga mencapai level tertinggi dalam beberapa tahun terakhir.
Kebijakan The Fed Menjadi Perhatian Pasar
Kenaikan harga minyak turut memperkuat ekspektasi bahwa Federal Reserve atau The Fed akan mempertahankan kebijakan moneter yang ketat. Ekspektasi suku bunga yang lebih tinggi atau bertahan pada level tinggi dapat memengaruhi minat investor terhadap komoditas, termasuk perak.
Perak tidak memberikan imbal hasil bunga seperti sejumlah instrumen keuangan. Karena itu, perubahan ekspektasi suku bunga dapat memengaruhi daya tariknya di mata investor.
Dengan harga domestik dan harga spot global yang sama-sama melemah, perkembangan konflik geopolitik, pergerakan minyak, serta arah kebijakan The Fed menjadi sejumlah faktor yang patut dicermati untuk melihat pergerakan harga perak berikutnya.









