PT United Tractors Tbk (UNTR) mencatat perbaikan kinerja keuangan pada kuartal III-2026. Laba bersih perseroan mencapai Rp3,5 triliun, meningkat sekitar 11 kali lipat dibandingkan kuartal sebelumnya yang hanya sebesar Rp314 miliar. Pemulihan ini menandai perbaikan setelah perusahaan menghadapi tekanan pada paruh pertama tahun ini.
Kenaikan laba terutama didorong oleh berkurangnya beban tidak berulang serta peningkatan penjualan emas dari tambang Martabe yang kembali beroperasi pada pertengahan Mei 2026. Meski demikian, laba kumulatif selama sembilan bulan pertama masih mengalami penurunan signifikan dibandingkan periode yang sama tahun lalu.
Beban Nonberulang Menyusut, Laba Kuartalan Membaik
Investment Analyst Stockbit, Christian William Munaba, menilai hasil keuangan United Tractors pada kuartal ketiga menunjukkan perkembangan positif dari sisi operasional. Dalam ulasannya pada Selasa (27/10/2026), ia menyoroti penurunan beban tidak berulang sebagai salah satu faktor utama yang mendorong pemulihan laba.
Pada kuartal III-2026, beban nonberulang UNTR turun menjadi Rp154 miliar. Angka tersebut jauh lebih rendah dibandingkan beban Rp1,2 triliun pada kuartal I-2026 dan Rp2,2 triliun pada kuartal II-2026.
Walaupun mencatat lonjakan laba secara kuartalan, laba bersih UNTR sepanjang Januari-September 2026 masih turun 61% secara tahunan menjadi Rp4,5 triliun.
Jika beban tidak berulang dikeluarkan dari perhitungan, laba inti perusahaan selama sembilan bulan tercatat Rp7,9 triliun. Namun, angka tersebut tetap turun 31% dibandingkan periode yang sama pada 2025.
Penjualan Emas dan Segmen Operasional Menguat
Pemulihan operasional Martabe turut memberikan kontribusi terhadap kinerja perusahaan. Volume penjualan emas meningkat menjadi 31.000 ons pada kuartal III-2026, dibandingkan 19.000 ons pada kuartal sebelumnya.
Perbaikan juga tercermin pada laba usaha yang tumbuh 37% secara kuartalan menjadi Rp4,8 triliun. Margin laba usaha meningkat menjadi 15%, dari sebelumnya 11,8%.
Segmen alat berat mencatat kenaikan pendapatan sebesar 13% dan pertumbuhan laba bersih 117% secara kuartalan. Sementara itu, segmen kontraktor pertambangan membukukan pertumbuhan pendapatan 9% dan laba bersih 62%. Penguatan dolar Amerika Serikat terhadap rupiah turut mendukung kinerja segmen kontraktor pertambangan.
Adapun pendapatan dari segmen emas dan mineral lainnya naik 51% dibandingkan kuartal sebelumnya. Namun, secara kumulatif segmen ini masih mencatat kerugian Rp747 miliar selama sembilan bulan pertama 2026.
Pembatasan Produksi Batu Bara Masih Menjadi Risiko
Di tengah pemulihan kinerja, United Tractors masih menghadapi tantangan dari kebijakan produksi batu bara nasional. Stockbit menilai faktor tersebut perlu diperhatikan karena dapat memengaruhi permintaan alat berat, aktivitas kontraktor pertambangan, serta bisnis pertambangan batu bara perseroan.
Rampungnya revisi Rencana Kerja dan Anggaran Biaya (RKAB) batu bara 2026 memang memberikan kepastian bagi industri. Namun, proyeksi produksi nasional sekitar 720 juta ton masih berada di bawah realisasi 2025 yang mencapai 818 juta ton.
Dengan demikian, peningkatan laba pada kuartal ketiga menjadi sinyal pemulihan bagi UNTR. Meski begitu, keberlanjutan perbaikan kinerja tetap bergantung pada perkembangan operasional tambang, penjualan emas, serta dampak pembatasan produksi batu bara terhadap bisnis perseroan.









