MotoGP

Jelang MotoGP Qatar 2026, Sebanyak 15 Pembalap Dikabarkan Menolak Balapan Karena Faktor Keselamatan

Sejumlah pembalap MotoGP menolak tampil di Qatar 2026 karena faktor keselamatan. Voting 15-5 dan sikap tim pabrikan jadi sorotan.

Jelang MotoGP Qatar 2026, Sebanyak 15 Pembalap Dikabarkan Menolak Balapan Karena Faktor Keselamatan

Rencana penyelenggaraan MotoGP Qatar 2026 pada 6–8 November mendatang di Sirkuit Lusail menghadapi tantangan serius. Sejumlah pembalap dikabarkan keberatan mengikuti balapan di tengah meningkatnya ketegangan konflik di kawasan Timur Tengah yang memunculkan kekhawatiran terkait keselamatan.

Penolakan tersebut disebut menguat setelah para pembalap mengadakan pertemuan tertutup ketika berada di Phillip Island, Australia. Dalam pertemuan itu, pemungutan suara dilaporkan menghasilkan 15 suara menolak balapan di Qatar dan lima suara mendukung penyelenggaraannya.

Voting Pembalap Picu Tekanan terhadap Dorna

Laporan M Sport menyebut pertemuan rahasia tersebut menjadi salah satu bentuk perlawanan pembalap terhadap rencana balapan di Lusail. Sikap itu muncul setelah Dorna disebut tetap berpegang pada keputusan bahwa MotoGP Qatar 2026 tidak akan dibatalkan maupun diubah.

Jurnalis The Race, Simon Patterson, turut mengungkap hasil pemungutan suara tersebut. Ia menyebut pertemuan berlangsung pada Kamis malam dan membahas sikap pembalap terhadap agenda balapan di Qatar.

“Pada Kamis malam, ada pertemuan rahasia di antara para pembalap. Pemungutan suara mengenai balapan di Qatar menghasilkan sekitar 15 suara menolak dan lima suara mendukung. Ini membuktikan bahwa tidak ada kerahasiaan yang benar-benar terjaga di MotoGP,” ujar Patterson.

Hasil voting itu menunjukkan adanya perbedaan sikap di antara pembalap mengenai kelanjutan agenda balapan. Meski demikian, keputusan akhir mengenai penyelenggaraan MotoGP Qatar 2026 belum dipastikan melalui informasi yang tersedia.

Pembalap Libatkan Pengacara untuk Menyampaikan Penolakan

Upaya menentang balapan di Qatar dikabarkan tidak berhenti pada pertemuan internal. Sejumlah pembalap disebut menyewa pengacara untuk menyusun surat yang kemudian dikirimkan kepada tim masing-masing.

Langkah tersebut bertujuan mendorong tim mengambil sikap terhadap persoalan keselamatan yang menjadi perhatian para pembalap. Surat itu juga menandai upaya membawa keberatan mereka ke tingkat organisasi tim, bukan hanya menyampaikan pendapat secara informal.

Di sisi lain, Wakil CEO Dorna, Carlos Ezpeleta, sebelumnya dikabarkan menyatakan bahwa pihaknya tidak berkewajiban berbicara dengan pembalap yang selama ini menyuarakan keluhan mengenai kondisi di Qatar.

Situasi tersebut berpotensi memperbesar perbedaan pandangan antara pembalap dan penyelenggara. Namun, sejauh informasi yang dilaporkan, hasil akhir dari langkah hukum tersebut masih belum diketahui.

Ducati, Honda, dan Yamaha Disebut Berpotensi Menolak

Sejumlah sumber menyebut beberapa tim dan pembalap memiliki sikap tegas terkait rencana balapan di Lusail. Tim pabrikan seperti Ducati, Honda, dan Yamaha diperkirakan berpotensi menolak tampil jika kekhawatiran keselamatan tidak menemukan penyelesaian.

Apabila penolakan meluas, Dorna akan menghadapi tantangan untuk mempertahankan agenda balapan sesuai kalender. Persoalan ini juga dapat berdampak pada integritas kompetisi, terutama jika jumlah pembalap yang bersedia tampil berkurang secara signifikan.

Jadwal dan Poin Kejuaraan Bisa Terdampak

MotoGP Qatar 2026 dijadwalkan berlangsung pada 6–8 November. Penolakan pembalap dapat memaksa penyelenggara mempertimbangkan kembali pelaksanaan seri tersebut, meskipun belum ada kepastian bahwa balapan akan dibatalkan.

Tantangan semakin besar karena MotoGP Australia 2026 sebelumnya dilaporkan batal akibat cuaca buruk. Kondisi itu membuat pencarian jadwal pengganti berpotensi semakin rumit, termasuk dalam menentukan alokasi poin kejuaraan jika seri Qatar tidak dapat digelar.

Untuk saat ini, perhatian tertuju pada langkah Dorna, tim, dan pembalap dalam menyikapi persoalan tersebut sebelum jadwal balapan Qatar tiba.