— Kangen Band kembali melanjutkan aktivitas bermusik setelah sempat membuat penggemar khawatir dengan kabar pembubaran. Pengumuman yang disampaikan Dodhy Hardiyanto selaku pendiri dan gitaris pada September 2026 akhirnya berubah setelah grup tersebut menyatakan batal bubar.

Keputusan tersebut menambah satu babak dalam perjalanan Kangen Band yang telah berlangsung lebih dari dua dekade. Sejak dibentuk di Bandar Lampung pada 2005, grup ini telah melewati masa popularitas, pergantian personel, berbagai karya musik, hingga kembali tampil dengan formasi yang dikenal luas oleh penggemarnya.

Kangen Band Dibentuk di Bandar Lampung

Kangen Band resmi dibentuk di Bandar Lampung pada 4 Juli 2005. Pada masa awal berdirinya, grup tersebut diperkuat oleh Dodhy, Andika Mahesa, Tama, Bebe, Baim, dan Izzy.

Kehadiran mereka kemudian ikut memberikan warna pada perkembangan musik pop Melayu di Indonesia. Lagu dengan melodi yang mudah diikuti dan tema lirik seputar hubungan asmara menjadi salah satu ciri yang melekat pada karya Kangen Band.

Meski sudah terbentuk sejak 2005, popularitas Kangen Band mulai meningkat pesat setelah mereka merilis album perdana, Tentang Aku, Kau dan Dia, pada 2007.

Album tersebut melahirkan sejumlah lagu yang kemudian dikenal luas, termasuk Tentang Bintang, Selingkuh, Penantian yang Tertunda, serta Tentang Aku, Kau dan Dia.

Popularitas Melejit pada Era 2000-an

Keberhasilan album perdana membuat nama Kangen Band semakin kuat di industri musik nasional. Karakter pop Melayu yang mereka usung dipadukan dengan lirik sederhana mengenai cinta, kerinduan, perpisahan, dan persoalan hubungan.

Setelah album pertama, Kangen Band melanjutkan rilisan dengan album repackage Yang Sempurna. Pada 2008, mereka merilis Bintang 14 Hari, kemudian Pujaan Hati pada 2009.

Dari periode tersebut, sejumlah lagu seperti Doy, Yolanda, Terbang Bersamamu, dan Pujaan Hati turut memperkuat popularitas mereka.

Bintang 14 Hari juga memperlihatkan eksplorasi musik yang lebih beragam. Kangen Band tidak hanya mempertahankan unsur pop Melayu, tetapi juga memasukkan sentuhan musik Jawa dalam karya mereka.

Popularitas yang diraih kemudian membawa perjalanan grup tersebut ke medium hiburan lain. Pada 2007, kisah perjalanan mereka diangkat melalui sinetron Aku Memang Kampungan. Kangen Band juga pernah terlibat dalam film Minggu Pagi di Victoria Park.

Pergantian Personel Warnai Perjalanan Band

Di balik popularitasnya, perjalanan Kangen Band juga diwarnai perubahan susunan anggota. Salah satu perubahan penting terjadi ketika Andika Mahesa keluar dari grup pada 2012.

Posisi vokalis kemudian sempat diisi Reyhan Githa Umara. Pergantian tersebut menjadi salah satu fase yang harus dilalui Kangen Band ketika mempertahankan eksistensinya di industri musik.

Meski menghadapi perubahan formasi, aktivitas grup tetap berlanjut. Kembalinya Andika kemudian menjadi bagian penting karena vokalis tersebut merupakan salah satu sosok yang sangat dikenal dalam perjalanan Kangen Band.

Selain perubahan personel, grup ini juga mendapatkan apresiasi atas pencapaian musiknya. Album perdana mereka disebut meraih Golden Award setelah penjualan mencapai lebih dari 150 ribu kopi. Pada 2007, Kangen Band juga memperoleh penghargaan Grup Band Terfavorit dalam SCTV Awards.

Lagu Lama Kembali Dikenal Generasi Digital

Memasuki era platform digital, sejumlah lagu lama Kangen Band kembali mendapatkan perhatian. Karya seperti Tentang Bintang, Pujaan Hati, Yolanda, hingga Cinta Sampai Mati tetap ditemukan dan didengarkan melalui berbagai layanan musik digital.

Kondisi tersebut membuat karya Kangen Band tidak hanya bertahan di kalangan pendengar yang mengikuti mereka sejak era 2000-an. Lagu-lagu lama mereka juga memperoleh pendengar baru seiring perubahan cara masyarakat mengakses musik.

Perjalanan panjang tersebut kembali menghadapi dinamika pada September 2026. Pada 12 September, Dodhy sempat mengumumkan pembubaran Kangen Band. Namun, keputusan tersebut hanya berlangsung singkat karena dua hari kemudian grup menyatakan batal bubar.

Dengan keputusan tersebut, Kangen Band kembali melanjutkan perjalanan bermusik. Setelah lebih dari 20 tahun melewati berbagai fase, grup asal Lampung itu masih mempertahankan eksistensinya di tengah perubahan industri musik Indonesia.