— Presiden Prabowo Subianto melantik Arrmanatha Christiawan Nasir sebagai Menteri Luar Negeri Republik Indonesia di Istana Negara, Jakarta, Kamis, 1 Oktober 2026. Diplomat yang akrab disapa Tata tersebut dipercaya menggantikan Sugiono dan kini berada di posisi teratas Kementerian Luar Negeri setelah sebelumnya menjabat sebagai Wakil Menteri Luar Negeri.

Penunjukan ini menjadi kelanjutan dari perjalanan panjang Arrmanatha di dunia diplomasi. Selama berkarier di Kementerian Luar Negeri, ia menjalani berbagai penugasan, mulai dari negosiator di forum perdagangan dunia, juru bicara Kemlu, duta besar, hingga Wakil Tetap Indonesia untuk Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB). Pengalaman tersebut membuat sebagian besar perjalanan kariernya bersinggungan dengan isu diplomasi multilateral.

Latar Belakang dan Pendidikan Arrmanatha Nasir

Arrmanatha Christiawan Nasir lahir di Bangkok, Thailand, pada 30 Desember 1971. Ia menempuh pendidikan sarjana di bidang Ilmu Ekonomi di University of Buckingham, Inggris, pada 1991-1993.

Setelah menyelesaikan pendidikan sarjananya, Tata melanjutkan studi Master of Business Administration di University of Leicester pada 1993-1994. Pendidikan akademiknya kemudian berlanjut di Indonesia dengan mengambil program Magister Hubungan Internasional di Universitas Indonesia pada 1997-1998.

Latar belakang pendidikan ekonomi dan hubungan internasional tersebut kemudian menjadi bekal dalam perjalanan kariernya yang banyak berkaitan dengan isu ekonomi global, pembangunan, perdagangan, dan hubungan antarnegara.

Sempat Berkarier di Sektor Perbankan

Sebelum masuk ke Kementerian Luar Negeri, Arrmanatha sempat bekerja di sektor perbankan. Pada 1996-1997, ia tercatat sebagai Financial Institutions Officer di Bank Dagang Negara Indonesia.

Setelah itu, Tata mulai membangun karier sebagai diplomat. Salah satu penugasan awalnya adalah menjadi Sekretaris Kedua sekaligus negosiator Organisasi Perdagangan Dunia (WTO) pada Perutusan Tetap Republik Indonesia (PTRI) di Jenewa pada 2001-2004.

Pengalaman tersebut menjadi pintu masuk bagi Arrmanatha untuk menjalani berbagai penugasan yang berkaitan dengan diplomasi multilateral.

Menangani Isu Ekonomi dan Pembangunan di PBB

Karier Arrmanatha di lingkungan Kementerian Luar Negeri terus berkembang. Pada 2005-2008, ia menjabat Wakil Direktur Bidang Pertanian dan Komoditas pada Direktorat Jenderal Multilateral Kemlu RI.

Kemudian pada 2008-2012, ia ditugaskan sebagai Konselor pada PTRI untuk PBB di New York. Dalam posisi tersebut, Tata menangani isu ekonomi dan pembangunan di Komite Kedua Majelis Umum PBB serta ECOSOC.

Ia juga terlibat sebagai negosiator Kelompok 77 dan China dalam pembahasan sejumlah agenda dan resolusi. Pada 2010-2011, Arrmanatha mendapat penugasan sebagai penasihat bidang ekonomi dan negara-negara kurang berkembang untuk Presiden Sidang ke-65 Majelis Umum PBB.

Menjadi Juru Bicara Kemlu dan Duta Besar

Setelah menjalani sejumlah penugasan internasional, Arrmanatha kembali ke Jakarta. Pada 2014-2019, ia dipercaya menjadi Juru Bicara Kementerian Luar Negeri RI.

Sebagai juru bicara, Tata menjadi salah satu pejabat yang menyampaikan keterangan resmi pemerintah mengenai berbagai perkembangan hubungan luar negeri dan kebijakan diplomasi Indonesia.

Kariernya kemudian berlanjut sebagai perwakilan Indonesia di Eropa. Pada 2019, Arrmanatha ditunjuk sebagai Duta Besar Luar Biasa dan Berkuasa Penuh RI untuk Prancis. Penugasan tersebut juga mencakup Andorra dan Monako serta Delegasi Tetap RI untuk UNESCO.

Wakil Tetap RI untuk PBB

Pada 2021, Arrmanatha mendapat kepercayaan sebagai Wakil Tetap Republik Indonesia untuk PBB dan organisasi internasional lainnya di New York.

Dalam penugasan tersebut, ia kembali aktif dalam berbagai forum multilateral. Pada 2023, Arrmanatha dipercaya menjadi Wakil Presiden ECOSOC. Ia juga menjalankan sejumlah peran dalam struktur PBB yang berkaitan dengan agenda ekonomi dan pembangunan.

Pada tahun yang sama, ia menjadi Wakil Tetap RI pertama untuk International Seabed Authority (ISA) di Kingston, Jamaika, setelah perubahan struktur organisasi perwakilan Indonesia.

Pengalamannya di PBB juga mencakup isu Palestina. Pada 2024, Arrmanatha tercatat sebagai salah satu Wakil Ketua Committee on the Exercise of the Inalienable Rights of the Palestinian People.

Dari Wamenlu Menjadi Menlu RI

Pada Oktober 2024, Presiden Prabowo Subianto mengangkat Arrmanatha sebagai Wakil Menteri Luar Negeri. Dalam posisi tersebut, ia menangani sejumlah agenda diplomasi multilateral dan aktif mewakili Indonesia dalam berbagai pertemuan internasional.

Kini, setelah dilantik sebagai Menteri Luar Negeri pada 1 Oktober 2026, Arrmanatha memasuki babak baru dalam kariernya. Ia menggantikan Sugiono sebagai Menlu RI dalam perombakan Kabinet Merah Putih.

Perjalanan dari sektor perbankan, diplomat di Jenewa, pejabat Kemlu, juru bicara, duta besar, hingga Wakil Tetap RI untuk PBB menjadi bagian dari rekam jejak yang mengantarkan Tata ke posisi Menteri Luar Negeri.