Jenderal TNI (Purn) Subagyo Hadi Siswoyo, mantan Kepala Staf Angkatan Darat (KSAD) sekaligus anggota Dewan Pertimbangan Presiden (Wantimpres) era Presiden Joko Widodo, meninggal dunia pada Senin (19/10/2026). Tokoh militer yang dikenal dengan nama Subagyo HS itu mengembuskan napas terakhir di Rumah Sakit Panti Rapih, Yogyakarta, pukul 16.20 WIB, dalam usia 80 tahun.
Kepergian Subagyo menutup perjalanan panjang pengabdiannya di lingkungan militer dan pemerintahan Indonesia. Sepanjang kariernya, ia pernah menduduki sejumlah posisi strategis, mulai dari Komandan Jenderal Komando Pasukan Khusus (Danjen Kopassus), Panglima Kodam IV/Diponegoro, hingga memimpin TNI Angkatan Darat pada masa transisi pemerintahan Orde Baru menuju Reformasi.
Kabar meninggalnya Subagyo dikonfirmasi Kepala Pusat Penerangan (Kapuspen) Mabes TNI, Mayjen TNI Muhammad Nas. Ia menyampaikan belasungkawa atas berpulangnya salah satu mantan pimpinan tertinggi TNI AD tersebut.
“Betul, kita semua berduka atas kepulangan beliau dan sama-sama kita doakan semoga Husnul Khotimah,” ujar Muhammad Nas dalam keterangannya, Senin (19/10/2026).
Subagyo juga memiliki hubungan panjang dengan Presiden Prabowo Subianto. Keduanya pernah bertugas bersama di Kopassus, ketika Subagyo menjabat sebagai Danjen Kopassus dan Prabowo menjadi wakilnya.
Profil dan Masa Muda Subagyo Hadi Siswoyo
Subagyo Hadi Siswoyo lahir di Piyungan, Kabupaten Bantul, Daerah Istimewa Yogyakarta, pada 12 Juni 1946. Ia merupakan anak ketiga dari pasangan Yakub Hadi Siswoyo dan Sukiyah.
Subagyo tumbuh dalam lingkungan keluarga sederhana di Yogyakarta sebelum memilih jalur militer sebagai profesinya. Keputusan tersebut kemudian mengantarkannya menjadi salah satu perwira tinggi TNI Angkatan Darat yang mencapai pangkat jenderal bintang empat.
Pendidikan militernya ditempuh di Akademi Angkatan Bersenjata Republik Indonesia (AKABRI) Magelang. Ia menyelesaikan pendidikan pada 1970 dan selanjutnya memulai perjalanan dinas sebagai perwira TNI AD.
Karier Subagyo berkembang melalui satuan pasukan khusus yang ketika itu dikenal sebagai Komando Pasukan Sandi Yudha atau Kopassandha, sebelum kemudian menggunakan nama Komando Pasukan Khusus (Kopassus).
Pengalamannya di satuan elite tersebut menjadi bagian penting dari perjalanan karier yang membawanya menduduki berbagai jabatan komando di lingkungan Angkatan Darat.
Karier Militer dari Kopassus hingga KSAD
Salah satu peristiwa penting dalam perjalanan militer Subagyo adalah keterlibatannya dalam Operasi Woyla pada 1981. Operasi tersebut dilakukan untuk membebaskan sandera pesawat Garuda Indonesia yang dibajak dan berakhir di Bandara Don Mueang, Bangkok, Thailand.
Keberhasilan operasi pembebasan sandera itu turut membawa dampak terhadap karier sejumlah personel yang terlibat, termasuk Subagyo. Ia memperoleh kenaikan pangkat istimewa satu tingkat setelah pelaksanaan operasi tersebut.
Perjalanan kariernya terus berlanjut dengan penugasan di lingkungan Pasukan Pengamanan Presiden (Paspampres) pada masa pemerintahan Presiden Soeharto. Pengalaman itu semakin memperluas tanggung jawabnya sebelum kembali menduduki jabatan strategis di Angkatan Darat.
Pada 1994, Subagyo dipercaya menjabat sebagai Komandan Jenderal Kopassus. Ia memimpin satuan tersebut hingga 1995 dengan pangkat mayor jenderal atau bintang dua.
Ketika memimpin Kopassus, Subagyo didampingi Prabowo Subianto yang menjabat Wakil Komandan Jenderal Kopassus dengan pangkat brigadir jenderal. Prabowo kemudian menggantikan Subagyo sebagai Danjen Kopassus pada 1995.
Setelah menyelesaikan tugasnya di Kopassus, Subagyo dipercaya memimpin Komando Daerah Militer IV/Diponegoro pada periode 1995–1997.
Kariernya berlanjut sebagai Wakil Kepala Staf Angkatan Darat pada 1997–1998, sebelum akhirnya ditunjuk sebagai Kepala Staf Angkatan Darat pada Februari 1998.
Menjabat KSAD pada Masa Tiga Presiden
Salah satu catatan penting dalam perjalanan karier Subagyo adalah masa kepemimpinannya sebagai KSAD yang berlangsung di bawah tiga presiden berbeda, yakni Soeharto, B.J. Habibie, dan Abdurrahman Wahid atau Gus Dur.
Subagyo mulai menjabat KSAD pada Februari 1998, ketika Indonesia masih berada di bawah pemerintahan Presiden Soeharto. Beberapa bulan kemudian, situasi politik nasional berubah setelah Soeharto mengundurkan diri pada 21 Mei 1998.
Pergantian kepemimpinan nasional tersebut membawa B.J. Habibie ke kursi kepresidenan. Subagyo tetap menjalankan tugas sebagai KSAD di tengah perubahan politik dan proses reformasi yang berlangsung di berbagai sektor pemerintahan, termasuk institusi militer.
Jabatannya berlanjut hingga masa awal pemerintahan Presiden Abdurrahman Wahid yang dilantik pada Oktober 1999. Subagyo kemudian mengakhiri masa tugasnya sebagai KSAD pada November 1999.
Dengan demikian, Subagyo tercatat sebagai salah satu tokoh penting dalam sejarah kepemimpinan TNI AD pada periode peralihan politik Indonesia di penghujung dekade 1990-an.
Dipercaya Jokowi Menjadi Anggota Wantimpres
Setelah menyelesaikan pengabdian aktif di militer, Subagyo tetap terlibat dalam urusan kenegaraan. Pengalaman panjangnya di bidang pertahanan dan keamanan menjadi bagian dari latar belakang ketika ia dipercaya menduduki jabatan di lingkungan pemerintahan.
Pada 19 Januari 2015, Presiden Joko Widodo melantik Subagyo sebagai anggota Dewan Pertimbangan Presiden bersama delapan tokoh lainnya di Istana Negara, Jakarta.
Pelantikan tersebut dilaksanakan berdasarkan Keputusan Presiden Nomor 6/P Tahun 2015. Subagyo menjadi salah satu tokoh berlatar belakang militer yang dipercaya memberikan nasihat dan pertimbangan kepada presiden.
Dalam menjalankan tugasnya di Wantimpres, Subagyo memiliki pengalaman yang berkaitan erat dengan persoalan pertahanan, keamanan nasional, serta dinamika strategis yang dihadapi Indonesia.
Ia menjalankan tugas sebagai anggota Wantimpres pada periode pertama pemerintahan Presiden Joko Widodo hingga 2019.
Kiprahnya di lembaga tersebut menunjukkan bahwa pengalaman yang diperoleh selama puluhan tahun di lingkungan militer tetap menjadi bagian dari pengabdiannya setelah memasuki masa pensiun.
Pernah Memimpin Organisasi Bulu Tangkis Indonesia
Di luar bidang militer dan pemerintahan, Subagyo juga pernah terlibat dalam kepengurusan organisasi olahraga nasional.
Ia tercatat menjabat sebagai Ketua Umum Persatuan Bulu Tangkis Seluruh Indonesia (PBSI) pada periode 1997–2001, menggantikan Soerjadi.
Kepemimpinannya di PBSI berlangsung ketika bulu tangkis Indonesia terus berupaya mempertahankan prestasi di berbagai kejuaraan internasional.
Setelah menyelesaikan masa kepemimpinannya, posisi Ketua Umum PBSI diteruskan oleh Chairul Tanjung.
Keterlibatan Subagyo dalam organisasi bulu tangkis menjadi salah satu bagian dari perjalanan pengabdiannya di luar institusi militer.
Jenazah Dimakamkan di TMP Kalibata
Setelah meninggal dunia di Yogyakarta, jenazah Subagyo Hadi Siswoyo direncanakan dibawa ke Jakarta untuk menjalani prosesi pemakaman secara militer.
Kepala Pusat Penerangan Mabes TNI, Mayjen TNI Muhammad Nas, menyampaikan bahwa almarhum dijadwalkan dimakamkan di Taman Makam Pahlawan (TMP) Kalibata, Jakarta Selatan, pada Selasa (20/10/2026).
“Betul dimakamkan di TMP Kalibata, rencana jam 13.30 WIB dengan upacara militer,” kata Muhammad Nas.
Sebelum diterbangkan ke Jakarta, jenazah almarhum disemayamkan di rumah duka kawasan Kotabaru, Kecamatan Gondokusuman, Kota Yogyakarta.
Jenazah kemudian dijadwalkan diberangkatkan dari Bandara Adisucipto menuju Pangkalan Udara Halim Perdanakusuma, Jakarta Timur, pada Selasa pagi.
Setibanya di Jakarta sekitar pukul 09.00 WIB, jenazah akan dibawa ke Markas Besar Angkatan Darat untuk disemayamkan dan disalatkan sebelum diberangkatkan menuju TMP Kalibata.
Subagyo Hadi Siswoyo berpulang setelah menjalani perjalanan panjang sebagai prajurit, pemimpin militer, pengurus olahraga, dan penasihat presiden. Jejak pengabdiannya mencakup berbagai periode penting dalam sejarah Indonesia, terutama ketika memimpin Angkatan Darat pada masa peralihan dari Orde Baru menuju Reformasi.









