— Nilai tukar rupiah tercatat melemah pada awal perdagangan Senin (31/8) pagi, berada di level Rp17.750 per dolar Amerika Serikat. Mata uang Garuda tergerus 57 poin atau setara dengan 0,32 persen dibandingkan dengan posisi penutupan pada hari sebelumnya.

Pergerakan mata uang Asia terhadap dolar AS menunjukkan variasi. Yuan China menguat 0,08 persen, dolar Singapura naik 0,05 persen, yen Jepang bertambah 0,16 persen, won Korea Selatan terapresiasi 0,07 persen, dan dolar Hong Kong menguat tipis 0,01 persen. Sementara itu, peso Filipina melemah 0,05 persen dan ringgit Malaysia terdepresiasi 0,20 persen.

Di sisi lain, mata uang utama dari negara maju menunjukkan penguatan terhadap dolar AS. Euro Eropa naik 0,07 persen, poundsterling Inggris menguat 0,05 persen, dolar Australia terapresiasi 0,04 persen, dolar Kanada bertambah 0,11 persen, dan franc Swiss menguat 0,06 persen.

Analis mata uang dari DOO Financial Futures, Lukman Leong, memprediksi rupiah akan terus mengalami pelemahan terhadap dolar AS pada perdagangan hari ini. Ia menyoroti adanya penguatan dolar AS yang tajam pasca pidato hawkish dari Kepala The Fed, Jerome Powell, serta eskalasi ketegangan geopolitik di Timur Tengah akibat serangan AS terhadap Iran.

“Rupiah diperkirakan akan melemah terhadap dolar AS yang rebound tajam menyusul pidato hawkish dari Kepala The Fed Warsh serta geopolitik di Timur Tengah yang kembali tereskalasi oleh serangan AS terhadap Iran,” ujar Lukman kepada CNNIndonesia.com.

Lukman memperkirakan pergerakan rupiah pada perdagangan hari ini akan berada dalam rentang Rp17.650 hingga Rp17.800 per dolar AS.