Topik.id — Harga emas dunia menunjukkan stabilitas pada perdagangan awal Asia, Senin (31/8/2026), menyusul anjloknya nilai komoditas ini lebih dari 3 persen pada Jumat (28/8/2026). Pasar kini mengalihkan perhatian pada data ekonomi Amerika Serikat (AS) yang akan dirilis pekan ini, serta sinyal kebijakan moneter dari Federal Reserve (The Fed).
Pada Jumat lalu, Ketua The Fed, Kevin Warsh, memberikan indikasi mengenai kemungkinan kenaikan suku bunga acuan yang bertujuan untuk meredam inflasi di AS. Pernyataan ini menjadi salah satu faktor utama yang menekan harga emas.
Mengutip laporan Reuters, harga emas spot tercatat berada di level 4.455,29 dollar AS per ons pada awal perdagangan hari ini. Level ini sempat menyentuh titik terendah sejak 19 Agustus 2026. Sementara itu, kontrak berjangka emas AS untuk pengiriman Desember mengalami penurunan 0,6 persen menjadi 4.504,90 dollar AS per ons.
Sinyal Kenaikan Suku Bunga The Fed Menguat
Dalam pidatonya di Jackson Hole pada Jumat (28/8/2026), Kevin Warsh menyatakan bahwa The Fed masih perlu berupaya lebih lanjut untuk memastikan inflasi bergerak menuju target 2 persen. “The Fed masih harus melakukan berbagai upaya jika para pembuat kebijakan belum mendapatkan keyakinan yang mereka perlukan bahwa inflasi sedang menuju 2 persen,” ujar Warsh.
Pernyataan tersebut semakin memperkuat ekspektasi pasar terhadap potensi kenaikan suku bunga The Fed. Alat bantu CME FedWatch Tool menunjukkan peluang kenaikan suku bunga pada pertemuan September mencapai 57 persen, meningkat signifikan dari 36 persen sebelum Warsh berpidato.
Kenaikan suku bunga acuan The Fed cenderung memberikan tekanan pada harga emas. Hal ini disebabkan emas merupakan aset yang tidak memberikan imbal hasil. Ketika suku bunga meningkat, aset berbunga seperti obligasi dan deposito menjadi lebih menarik bagi investor dibandingkan emas.
Investor Menunggu Data Tenaga Kerja AS
Fokus investor kini tertuju pada serangkaian data ekonomi AS yang dijadwalkan rilis pekan ini. Data yang paling dinantikan meliputi laporan lowongan pekerjaan, laporan ketenagakerjaan ADP, klaim pengangguran mingguan, dan data nonfarm payrolls.
Data-data tersebut akan menjadi pertimbangan penting bagi pasar dalam memproyeksikan arah kebijakan moneter The Fed selanjutnya. Jika data pasar tenaga kerja AS menunjukkan kekuatan dan tekanan inflasi tetap tinggi, ekspektasi kenaikan suku bunga berpotensi semakin menguat. Sebaliknya, jika data menunjukkan pelemahan pasar tenaga kerja dan penurunan tekanan harga, hal tersebut dapat mengurangi tekanan terhadap emas.
Perkembangan Geopolitik Tetap Dipantau
Selain kebijakan moneter AS, perkembangan situasi geopolitik global juga terus menjadi perhatian investor. Pada Jumat lalu, Iran mengecam sanksi ekonomi baru yang dijatuhkan oleh AS, menyebutnya sebagai tindakan “terorisme negara”. Pemimpin tertinggi Iran juga menginstruksikan pelarangan tindakan yang dapat mengganggu “kohesi sosial” di tengah meningkatnya tekanan ekonomi akibat sanksi AS.
Ketegangan geopolitik seringkali memengaruhi permintaan terhadap aset safe haven, termasuk emas, sehingga perkembangan ini tetap menjadi sorotan pasar.
Pergerakan Logam Mulia Lainnya
Sementara itu, pergerakan logam mulia lainnya pada perdagangan awal Asia relatif terbatas. Harga perak spot terpantau stabil di level 66,34 dollar AS per ons. Harga platinum mencatat kenaikan tipis 0,1 persen menjadi 1.822,46 dollar AS per ons. Palladium menguat 0,2 persen ke angka 1.424,89 dollar AS per ons.
Ikuti Topik.id
