Saham

Saham Gudang Garam (GGRM) Diborong Asing Saat Harganya Anjlok

Investor asing memborong saham PT Gudang Garam Tbk secara drastis di tengah penurunan harga pada perdagangan jelang akhir pekan lalu.

Saham Gudang Garam (GGRM) Diborong Asing Saat Harganya Anjlok

Saham PT Gudang Garam Tbk (GGRM) mencatatkan aksi beli bersih atau net buy oleh investor asing senilai Rp 24,37 miliar pada perdagangan Jumat, 16 Oktober 2026.

Pembelian masif tersebut terjadi ketika harga saham emiten rokok tersebut mengalami koreksi tajam sebesar 12,07% ke level Rp 15.300. Sepanjang sesi itu, volume perdagangan mencapai 3,12 juta saham dengan frekuensi sebanyak 3,464 kali dan membukukan total nilai transaksi sebesar Rp 47,69 miliar.

Lonjakan aksi beli dari investor asing ini terpantau meningkat pesat dibanding sehari sebelumnya pada Kamis, 15 Oktober 2026, yang mencatatkan net buy sebesar Rp 3,20 miliar. Sebaliknya, pada Rabu, 14 Oktober 2026, saham GGRM sempat mencatatkan aksi jual bersih atau net sell senilai Rp 1,62 miliar. Secara keseluruhan, pergerakan saham emiten yang berpusat di Kediri, Jawa Timur, tersebut selalu berada di zona merah dalam tiga hari bursa terakhir. Kendati demikian, untuk periode tahun berjalan, saham GGRM secara akumulatif masih menjadi sasaran investasi asing dengan catatan net buy mencapai Rp 694,75 miliar.

Rekomendasi dan Kinerja Keuangan

Di tengah dinamika pasar tersebut, Phintraco Sekuritas tetap mempertahankan rekomendasi beli untuk saham GGRM dengan target harga wajar di level Rp 22.000. Kendati demikian, pihak sekuritas mengingatkan bahwa terdapat beberapa faktor risiko utama yang perlu diwaspadai, yakni peredaran rokok ilegal yang masih berlangsung, penurunan daya beli masyarakat, serta ketidakpastian kebijakan cukai hasil tembakau.

Di sisi lain, emiten bersandi GGRM ini berhasil mencatatkan pemulihan profitabilitas yang cukup signifikan sepanjang semester I-2026, mulai dari pos laba usaha hingga laba bersih.

Indikator KeuanganCapaian Semester I-2026Pertumbuhan / Catatan
Laba KotorRp 5,99 triliunMeningkat 58%
Laba UsahaRp 3,9 triliunMeningkat 659,6%
Laba BersihRp 2,98 triliunMeningkat 2.440%
Volume Penjualan20,5 miliar batangTurun 13,6%

Berdasarkan riset Phintraco Sekuritas, pertumbuhan laba kotor tersebut terutama ditopang oleh penurunan beban pendapatan sebesar 13% menjadi Rp 35,19 triliun. Pengurangan biaya ini utamanya bersumber dari komponen pita cukai, PPN, dan pajak rokok yang merosot hingga 14%, sehingga berhasil menjaga ekspansi margin meskipun pendapatan secara umum mengalami tekanan.

Sementara itu, peningkatan pada level operasional tercermin dari laba usaha yang melesat menjadi Rp 3,9 triliun per Juni 2026. Capaian ini sejalan dengan penurunan beban usaha sebesar 33,9% serta kenaikan pendapatan lain-lain sebesar 28,5%. Pemulihan kinerja tersebut pada akhirnya mendongkrak laba bersih perusahaan secara drastis.

“Meski demikian, secara kuartalan, pertumbuhan laba mulai menunjukkan normalisasi, dengan laba bersih turun 6,5% pada kuartal II lalu dari Rp 1,54 triliun pada kuartal sebelumnya,” tulis Phintraco.

Dari sisi operasional bisnis, volume penjualan GGRM tercatat berada di angka 20,5 miliar batang pada semester I-2026 atau mengalami koreksi 13,6%. Kontribusi terbesar berasal dari segmen Sigaret Kretek Mesin (SKM) High Tar (HT) sebesar 17,4 miliar batang atau setara 85,2% dari total produksi. Adapun segmen Sigaret Kretek Tangan (SKT) & Sigaret Kretek Lambung (SKL) menyumbang 3 miliar batang, sedangkan SKM Low Tar (LT) tercatat sebesar 0,09 miliar batang. Penurunan volume penjualan secara keseluruhan ini turut memicu koreksi pendapatan penjualan sebesar 7,2%.