Saham

Saham Gudang Garam Naik 10,78% Sepekan, Asing Borong GGRM Saat IHSG Bergejolak Akibat MSCI

Saham Gudang Garam naik 10,78% ke Rp16.950 pada pekan 19–23 Oktober 2026, ditopang aksi beli asing dan pemulihan laba.

Saham Gudang Garam Naik 10,78% Sepekan, Asing Borong GGRM Saat IHSG Bergejolak Akibat MSCI
Foto: KOMPAS.com/M Agus Fauzul Hakim

Saham PT Gudang Garam Tbk (GGRM) menunjukkan pergerakan positif di tengah gejolak pasar modal Indonesia akibat pengumuman MSCI mengenai konsultasi kemungkinan perubahan klasifikasi pasar saham Indonesia dari emerging market menjadi standalone market. Ketika tekanan jual melanda bursa, saham produsen rokok tersebut justru mencatatkan pembelian bersih oleh investor asing selama beberapa hari perdagangan.

Berdasarkan data perdagangan periode 15–23 Oktober 2026, GGRM konsisten membukukan net buy asing. Bahkan, pada 16 Oktober ketika Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) anjlok 11,57%, investor asing masih mencatatkan pembelian bersih GGRM senilai Rp24,37 miliar. Meski sahamnya sempat terkoreksi 12,07% pada hari itu, harga GGRM kemudian menunjukkan pemulihan.

Harga GGRM Menguat 10,78% dalam Sepekan

Pada perdagangan pekan 19–23 Oktober 2026, harga saham Gudang Garam meningkat 10,78% hingga mencapai Rp16.950. Dalam periode yang sama, investor asing membukukan net buy sebesar Rp17,54 miliar.

Pergerakan tersebut menunjukkan bahwa GGRM mampu mencatatkan penguatan di tengah dinamika pasar yang masih dipengaruhi ketidakpastian terkait kebijakan indeks MSCI. Namun, aktivitas beli asing dan kenaikan harga saham dalam periode pendek belum menjamin tren penguatan akan berlanjut.

Phintraco Sekuritas sebelumnya mempertahankan rekomendasi buy untuk saham GGRM dengan target harga wajar Rp22.000. Meski demikian, perusahaan sekuritas tersebut mengingatkan sejumlah risiko yang dapat memengaruhi kinerja emiten.

Risiko tersebut mencakup peredaran rokok ilegal, melemahnya daya beli masyarakat, serta ketidakpastian kebijakan cukai rokok. Faktor-faktor tersebut berpotensi menekan volume penjualan maupun margin keuntungan perusahaan.

Laba Bersih Gudang Garam Melonjak pada Semester I-2026

Di luar pergerakan saham, Gudang Garam mencatatkan perbaikan profitabilitas yang signifikan pada semester pertama 2026. Berdasarkan riset Phintraco Sekuritas, laba kotor perseroan mencapai Rp5,99 triliun atau tumbuh 58% dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.

Peningkatan tersebut didukung penurunan beban pendapatan sebesar 13% menjadi Rp35,19 triliun. Penurunan terutama berasal dari biaya pita cukai, pajak pertambahan nilai (PPN), dan pajak rokok yang berkurang hingga 14%.

Pada tingkat operasional, laba usaha GGRM melonjak 659,6% menjadi Rp3,9 triliun hingga Juni 2026. Perbaikan ini ditopang penurunan beban usaha sebesar 33,9% serta kenaikan pendapatan lain-lain sebesar 28,5%.

Kinerja tersebut turut mendorong laba bersih meningkat 2.440% menjadi Rp2,98 triliun. Meski demikian, Phintraco mencatat adanya normalisasi secara kuartalan. Laba bersih kuartal II-2026 turun 6,5% dibandingkan kuartal sebelumnya yang mencapai sekitar Rp1,54 triliun.

Volume Penjualan Rokok Masih Mengalami Tekanan

Di tengah perbaikan keuntungan, Gudang Garam masih menghadapi tantangan dari sisi penjualan. Volume penjualan pada semester I-2026 tercatat sebanyak 20,5 miliar batang, turun 13,6%.

Segmen sigaret kretek mesin dengan kadar tar tinggi (SKM HT) mendominasi volume tersebut, yakni 17,4 miliar batang atau 85,2% dari total. Sementara itu, segmen SKT dan SKL mencapai sekitar 3 miliar batang, sedangkan SKM LT tercatat 0,09 miliar batang.

Penurunan volume penjualan tersebut turut menekan pendapatan perseroan yang menyusut 7,2%. Dengan demikian, keberlanjutan pemulihan GGRM akan bergantung pada kemampuan menjaga profitabilitas sekaligus menghadapi tantangan permintaan dan regulasi industri rokok.